Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tentang Hidup

Tak masalah ada di pihak mana anda berdiri (pekerja keras, orang yang beruntung, orang sial, miskin, bodoh, pintar atau apalah), yang terpenting yang harus kita miliki adalah kemampuan untuk mengambil hikmah dari setiap momen yang terjadi dalam hidup kita (Rofa: 2010)

Mayoritas Manusia

Kebanyakan orang ingin pergi ke tempat tertinggi dalam kehidupan ini. Tanpa mereka sadari bahwa tempat tertinggi itu menjadi tempat terendah ketika mereka menginjaknya (Rofa: 2011)

Antara Tuhan dan Kita

Salah satu bentuk rasa syukur kita yang tertinggi pada tuhan tentang akal adalah membiarkan otak kita berman-main dengan bermacam-macam ide dan berusaha menuliskannya sebagai suatu kesimpulan yang dapat digunakan oleh orang lain sebagai suatu referensi, bukan sebagai kitab suci (Rofa: 2010)

Stereotipe Negatif

Apalah artinya kekurangan dan kelemahan, jika ada hati yang menerima kita apa adanya (Rofa: 2009)

Lalu

Pada akhirnya kita semua akan menjadi pahlawan dari kisah hidup kita sendiri (Rofa: 2013)

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Mei 2014

Puncak Kelima

Oleh: Rofa Yulia Azhar
Tanggal terbit: 6 Mei 2014

Puncak Kelima


Aku mulai muak dengan semua ini. Sebuah mitos yang telah menjadi kepercayaan dikalangan para tetua di daerah kami. Kepercayaan akan pencarian puncak ke-5 yang terus disenandungkan. Lima orang pemuda yang mewakili ke-5 simbol pencarian dari puncak ke-5 dipilih dan digembleng untuk mengikuti pelatihan fisik dan mental yang begitu berat. Latihan yang dipersiapkan juga untuk sebuah pengorbanan, walau pada awalnya aku tidak tahu itu. Cerita ini berawal dari mitos puncak ke-5, dimana terdapat jantung Simalakama. Jantung yang dapat menyembuhkan daerah kami dari suatu penyakit aneh yang membunuh satu dari dua anak yang lahir. Mitos yang telah berkamuflase menjadi keyakinan yang akhirnya membentuk kutukan secara personal dan memberi beban untuk dimurnikan.

Tapi kami sekarang telah berada di puncak yang ke-3. Menatap dengan penuh kebencian hadirnya puncak yang ke-4. Tentu saja dengan pengorbanan yang tidak rendahan semua ini kami raih. Sebelumnya, Isak, Adel dan Ruisa harus meregang nyawa demi pencarian puncak ke-5.

Isak tewas terkena penyakit yang mengerikan, yang memutuskan satu per satu anggota tubuhnya. Masih bergema di telingaku suaranya yang lembut. Di puncak ke-1 dia berkata, "Pergilah kalian ke puncak ke-5 dan tinggalkanlah aku sebelum kalian tertular penyakit laknat ini. Nyawa yang hilang dari jasadku tidaklah sebanding dengan banyaknya nyawa yang akan kita selamatkan. Demi tanah air kita, teruslah maju dan dapatkanlah jantung Simalakama"

Di puncak ke-2 kehilangan terus berlanjut. Berawal dari pengejaran suku kanibal yang diikuti lunjuran anak panah dan tombak. Adel, lelaki paling kuat diantara kami. Memberanikan dirinya untuk melindungi kami. Dia berlari paling belakang diantara barisan untuk menjaga kami dari tikaman suku kanibal. Sejurus kemudian, semuanya sudah tak mengandung harapan lagi. Adel menghembuskan nafas ditemani ke-5 tombak yang memeluk tubuhnya. Ya.... Lima tombak. mewakili angka dari puncak ke-5 yang merupakan tujuan dari penciptaan terhadap kami.

Lalu Ruisa, Lelaki terpintar di daerah kami (salah, bukan hanya lelaki tapi manusia yang paling pintar) harus menguburkan dirinya di gua yang terdapat pada puncak ke-3. Saat itu dia harus meledakan bongkahan batu yang menutup jalan kami. Andai aku tahu bagaimana caranya untuk mengatur detonantor agar menyala dan meledakan bom. Maka, pasti akulah yang tewas. Tapi takdir berkata lain. Ruisa mengikhlaskan dirinya menjadi konduktor kabel detonator sedetik sebelum bom meledak. Tubuhnya hancur, menjadi abu dan terbang terhirup dua orang pemuda yang tersisa.

Sekarang puncak ke-4 berada tepat diujung kedua lubang hidung kami. Dengan persedian yang terbatas. Aku dan Boni terus berjalan. Tiba-tiba semuanya berubah menjadi amat dingin. Pemandangan di sekeliling kami telah tertutup oleh es. Lebih sialnya lagi mantel hangat yang tersedia hanya tinggal satu. Kami saling bertatapan, lalu menangis dan saling berpelukan. Boni menyerahkan mantel yang semenjak tadi dikandung dalam tasnya kepadaku. Tanpa pikir panjang akupun langsung menolaknya. Tetapi Boni langsung membentakku dengan kerasnya "Pakai saja mantel ini dan tinggalkanlah aku sendirian. Persedian makanan kita sudah tidak cukup lagi jika aku yang harus melanjutkan perjalanan ini. Lihat tubuhku!! Gemuk seperti ini. Tapi jika kamu.... Pasti selalu ada harapan. Pergilah dan dapatkanlah jantung Simalakama." Dia lalu mengambil pisau dan menusukan pisau ke jantungnya di puncak ke-4.

Kini aku berjalan menyelusuri oasis fatamorgana dari sedikit ilusi yang tersisa akan mitos jantung Simalakama. Lalu aku tuliskan kata-kata terakhir di buku harianku. " Barang siapa yang menemukan buku harian ini dan membacanya, maka kembalilah. Percayalah, Harapan akan ada jika kamu kembali". Lalu aku jatuhkan buku harian ku dan kulanjutkan perjalananku. Mencari jantung Simalakama di puncak ke-5.
Gambar Ilustrasi

Jumat, 02 Mei 2014

Jengkolisme

Oleh: Rofa Yulia Azhar
Tanggal terbit: 2 Mei 2014
JENGKOLISME

            Harga jengkol di seluruh belahan dunia semakin membumbung tinggi, mengalahkan harga sembilan bahan pokok, bahkan harga seekor Lobster sekalipun. Pemerintah mulai kocar-kacir mengatasi masalah ini, mereka menamakannya sebagai krisis jengkol atau kaum yang lebih intelek lebih suka menamainya dengan jengkolisme (lebih cendrung mengarah pada keyakinan, bukan hanya selera). Tidak hanya orang miskin, jengkol kini disukai oleh semua kalangan; sama sekali tak pandang umur, jenis kelamin, strata pendidikan dan ras.

“Mana jengkolnya mah...” Seorang pria yang bertubuh kekar membentak wanita dihadapannya.
“Kita sudah tak bisa membeli jengkol lagi Pah. Harganya sudah sangat tinggi sekali”.
“Kamu mau aku mati? Aku tidak bisa makan, kalau lauknya bukan jengkol!” Bentaknya dengan penuh emosi. “Lihat anak-anak kita! Mereka juga menangis karena tidak ada jengkol di meja makan”

Media Masa
Seorang Bapak tega membunuh istrinya gara-gara Sang Istri tidak memasakan Jengkol di rumah.

Pemerintah
“Sebaiknya kita hentikan ekspor Jengkol keluar negeri agar kebutuhan domestik  dapat terpenuhi”
Audiensi: Geleng-geleng kepala
“Jengkol adalah komoditas paling menguntungkan. Negara kita bisa maju seperti ini gara-gara Jengkol”
“Tapi masyarakat kita? Mereka telah terhipnotis oleh Jengkol”
“Ah, anda sendiri melanggar komitmen”
“Betul saya setuju dengan pernyataannya. Anda sendiri telah melanggar komitmen”
“Komitmen apa maksudnya?”
“Mulut anda mengeluarkan bau Jengkol. Bukankah kita berkomitmen untuk memberi contoh pada masyarakat agar menghentikan kebiasaan memakan jengkol?”
“Haha... Anda... Anda... dan Anda semuanya bukannya bau jengkol semua. Kita sama saja”
Rumah dua
“Mah, Gerin dapat empat buah Jengkol hari ini!”
“Sedikit sekali? Besok kamu mencuri di Mall saja” Perintah ibunya sambil mengambil Jengkol di genggaman tangan Gerin dengan kasarnya.
“Tapi kalau di Mall suka ada Satpam Mah... Gerin takut tertangkap”
“Terserah dimana saja. Tapi besok kamu harus dapat minimal 5 buah Jengkol supaya masing-masing dapat satu buah”

Rumah tiga
“Anjing...”
“Ada apa Yan?”
“Kucing itu mencuri Jengkolku”
“Itu bukan Anjing tapi Kucing!”
“Sini, aku minta Jengkolmu” Yanto segera mencomot potongan Jengkol di piring temannya.
“Kesinikan Bangsat... Itu Jengkol milikku”

Media Masa
Pemerintah akan segera membuat regulasi mengenai Jengkolisme secepatnya. Diperkirakan akan dibuka satu juta hektar lahan untuk ditanami tanaman Jengkol.

Beberapa Saat yang Lalu
“Mobil kita dihancurkan oleh sekalompok masa yang akan menjarah sebuah toko Jengkol Kapten”
“Lalu bagaimana dengan Jengkolnya?”
“Mereka berhasil menjarahnya”
“Emm...”
“Tapi saya berhasil mengamankan dua kilo Jengkol yang terjatuh saat aksi penjarahan berlangsung”
“Bagus. Segera masukan ke dalam mobil saya”
“Tapi itu barang bukti Kapten?”
“Ini perintah...”

10 Tahun yang Lalu
            Sebuah perusahaan makanan mulai dirintis oleh Wardiyanto, orang terkaya nomor satu di Indonesia. Wardiyanto memulai usahanya dengan mendirikan rumah  makan cepat saji yang didirikan di luar negeri dengan menu aneka masakan  jengkol. Perusahaannya untung besar, publik menyukainya, bahan baku mulai sulit ditemukan dan harganya mahal.
            Untuk mengatasi masalah ini, Wardiyanto memilih desa Jayakarta sebagai tempat budidaya Jengkol. Masyarakat yang menanam satu buah pohon Jengkol akan diberi imbalan tiga juta rupiah setiap tahunnya.
Masyarakat tergiur, mereka beramai-ramai menanam Jengkol di rumahnya.

Seorang wartawan yag bernama Tanoryo menulis pada kolom suratkabarnya jika buah hasil bibit Jengkol yang diberikan Wardiyanto untuk ditanam mengandung hormon Dopamin berkonsentrat tinggi yang dapat menyebabkan timbulnya perasaan tenang pada orang-orang yang mengkonsumsinya. Dopamin sewajarnya adalah hormon cinta (selain oksitosin) yang memberikan rasa bahagia, tenang, semangat, dan peduli lalu ketergantungan untuk menikmati jatuh cinta. Tetapi jika konsentratnya terlalu tinggi, dopamin merusak jaringan simpatetik otak tengah; seperti mengarah kepada delutic madnes. Walaupun Jengkol tak memerlukan pestisida tapi dengan hadirnya Dopamin berkosentrat tinggi menyebabkan Jengkol sebagai subjek yang sangat berbahaya.

            Akibat tulisan itu, masyarakat marah. Sudah 23 Provinsi yang membudidayakan Jengkol. Ekspor meningkat. Neraca keuangan negara untung besar gara-gara ekspor Jengkol. Pemerintah khawatir kehilangan keuntungannya. Para ilmuwan kehilangan pengaruh, malah tidak aneh jika mereka menjadi salah satu pecandu jengkol.

            Malam yang sepi, ketika Tanoryo sedang menulis di buku catatannya, dia mendengar suara teriakan masyarakat di luar. Dia bergegas menuju jendela untuk melihat apa yang terjadi. Sekelompok masyarakat membawa obor dan sesegera mungkin menyiramkan bensin ke rumahnya. Rumahnya dibakar. Tanoryo menangis sejadi-jadinya.

Pagi berasap di kediaman Tanoryo, polisi berkumpul untuk mengemasi tulang-belulang Tanoryo yang meninggal di rumahnya sendiri, Desa Kertajaya. Dalam buku catatan yang tak sempat terjamah oleh si api merah dia menulis “Dahulu orang jahat selalu membunuh korban-korbannya, tapi ketika keadilan ditegakan, para pahlawan berdatangan, keadilan juga telah membunuh orang-orang yang jahat. Lalu apa bedanya? Sama-sama menumpahkan darah. Jengkolisme, kebiadaban yang dilahirkan oleh peradaban”
Gambar Ilustrasi

Cinta Tak Bersyahadat

Oleh: Rofa Yulia Azhar
Tanggal terbit: 2 Mei 2014


Komentar Mengenai Cerpen ini:
“Cinta itu harus dilandasi dengan syahadat yang artinya berjanji” (Iskandar Nugraha bin Suganda)
“Cinta tak bersyahadat artinya cinta itu tak serius untuk menjalaninya” (Samadin bin Pudin)
“Cerpen ini bisa menyesatkan bagi yang belum kuat imannya. Tapi penulis yang kacau ini sepertinya ingin menyuguhkan sesuatu yang berbeda, sebuah perdebatan yang benar-benar berlogika” (Rofa Y. A. bin Misna Sudjana)

CINTA TAK BERSYAHADAT
Seorang musisi harus menciptakan musik,
seorang seniman harus melukis,
seorang penyair harus menulis,
 jika ia ingin merasa damai dengan dirinya sendiri.
Apa yang seseorang bisa lakukan, harus ia lakukan.
(Dikutip dari Novel belum jadi karya Rofa Yulia Azhar)

“Mereka memang terlalu cerdik untuk masalah ini. Telah banyak misionaris yang mereka kirimkan ke desa-desa untuk mendungui masyarakat awam” ujar seorang lelaki tua dengan balutan sorban di kepalanya sambil mengusap janggut yang sebetulnya tidak terlalu panjang. “Lalu apa yang harus kita lakukan Kyai?” Tanya salah satu santri yang duduk menyudut ditelan bayang-bayang temannya.
“Kita harus meningkatkan kualitas keilmuan dari santri-santri muda sehingga mempunyai kompetensi yang cukup mumpuni untuk melawan misionaris-misionaris mereka”
“Tapi ayah, bukankah kita harus segera bertindak agar pengaruh para misionaris ini tidak semakin meluas”
Terlintas senyuman  kebijaksanaan dari bibir Kyai Zein mendengar pendapat dari anak satu-satunya itu. “Kita belum siap anakku, kita harus menunggu waktu yang tepat” jawabnya dengan singkat.
“Lalu kita hanya bisa berdiam diri seperti ini? Sedangkan di luar sana, misionaris-misionaris, yang mengaku domba-domba Tuhan itu bebas melakukan apapun yang mereka inginkan?”
“Diam lebih baik daripada harus berbuat salah. Kamu nanti akan mengerti Rasyid”
“Tapi bagaimana ayah jika ada santri yang sudah siap?”
“Maksudmu?”
“Maaf Kyai jika saya memotong pembicaraan antara kalian berdua” Sela salah seorang Kyai lainnya yang usianya tak jauh berbeda dengan Kyai Zein. “Saya menegerti apa yang dikhawatirkan Rasyid. Maksudnya, dia ingin agar Kyai segera mengutus santri yang dirasa sudah siap untuk melawan para misionaris. Apalagi saya dengar di Cena, Desa yang letaknya tak terlalu jauh dari pesantren kita, ada seorang misionaris yang menghasut masyarakat agar berpindah keyakinan”
Kyai Zein menghela napas dalam-dalam memikirkan kebijakan yang akan dia ambil. “Baiklah jika begitu. Hanya untuk Desa Cena dan hanya satu orang yang akan kita utus. Kalau begitu apakah dari kalian, santri-santriku, ada yang bersedia untuk melawan misionaris tersebut? Tapi ingat, kita bertindak tanpa kekerasan!”
Sejenak, ruangan yang cukup luas itu menjadi bergemuruh, masing-masing santri saling berdiskusi akan masalah yang sedang dibicarakan, tapi tidak ada satupun santri yang berani mengajukan dirinya sebagai utusan pesantren ke Desa Cena. Tapi sejurus kemudian, tampak seorang laki-laki berdiri dengan tegap dan mengalihkan semua mata yang ada di ruangan itu. “Insya Allah, saya siap Ayah”
*****
            Di sebuah rumah mungil di Desa Cena, terlihat seorang lelaki tua dengan tongkat di tangannya sedang meantapa jauh keluar jendela. “Marta, kesinilah!”
“Tunggu sebentar Romo Yohanes Anwar” Marta segera menutup buku yang sedang dibacanya dan bergegas menghampiri ayahnya yang masih menatap jauh ke luar jendela.
Romo Yohanes Anwar atau lebih dikenal sebagai Sang Pembaptis dibandingkan dengan nama aslinya sendiri merupakan salah satu misionaris yang berpengalaman. Gaya hidupnya yang sederhana dan aksen bicaranya yang tenang membuat dia selalu berhasil dalam setiap misinya sebagai misionaris. Dia masih terlihat berwibawa walaupun tongkat harus menyangga tubuhnya, selebihnya, dia terkenal bukan karena sifat dan kesuksesannya tapi karena dia tak pernah gagal.
“Ada apa ayah?”
“Coba lihat keluar jendela!” Marta lalu melakukan apa yang ayahnya perintahkan padanya. “Apa yang kamu lihat?”
“Orang yang kurang waras yang seperti biasa selalu mondar-mandir sambil komat-kamit, ibu-ibu yang sudah tua yang sedang menjual makanan, beberapa rumah dan anak kecil yang sedang  bermain”
“Kamu percaya adanya Tuhan?”
“Ayah bercanda, tentu saja saya percaya” Marta sedikit heran dengan pertanyaan ayahnya yang janggal. Sebagai seorang penganut Kristen yang taat seharusnya ayahnya tak perlu menanyakan pertanyaan seperti itu atau mungkinkah ayahnya ragu dengan keimanannya? Atau ayahnya sekarang tidak percaya adanya Tuhan?
“Lalu jika Tuhan memang ada, Mengapa masih ada orang yang kesusahan? Mengapa masih ada orang miskin padahal Tuhan itu katanya Kaya dan Pemberi?
            Marta tertegun beberapa saat, dia lalu memperhatikan kembali hiruk-pikuk yang terlihat dari jendela tengah rumah. Apakah ayah saya sudah gila? Gumamnya dalam hati. Ah, tapi tidak mungkin. Heran, tak pernah ada pertanyyaan seperti ini sebelumnya.
“Kenapa diam? Kamu percaya Tuhan kan?”
            Marta masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Matanya kosong tertuju keluar jendela, lalu tiba-tiba seutas senyuman tipis dihadirkan dari wajahnya yang sedari tadi terlihat tegang. “Menurutku bukan Tuhan yang tidak ada ayah. Tapi tukang cukurlah yang tidak ada di dunia ini”
“Haha... Kamu jangan menjadi pengigau karena terus-terusan memikirkan jawaban dari pertanyaan yang ayah ajukan. Sudah jelas tukang cukur itu ada. Bukankah ayah selalu pergi bercukur sebulan sekali dan kamu pernah mengantar ayah?”
“Kalau tukang cukur itu ada mengapa orang gila yang terlihat dari jendela kita rambutnya panjang? Bukankah itu berarti tukang cukur itu tidak ada?”
“Jawabannya mudah, tentu saja karena orang gila itu tidak mau pergi ke tukang cukur, karena dia tidak waras”
“Itu jawabannya Ayah” Marta tersenyum menang. “Adanya orang yang kesusahan dalam hidupnya, bukanlah karena Tuhan tidak ada. Tapi karena dia tidak mau mendatangi Tuhan”
“Haha... Ternyata kau sudah dewasa anakku”
“Aku pergi dulu Ayah” tanpa mengindahkan apa yang disampaikan Ayahnya, Marta segera membuka pintu rumahnya dan bergegas keluar rumah.
Tring... tring... tring... terdengar bunyi telepon genggam Romo yohanes Anwar berdering. “Hallo, iya ada apa?” terdengar suara seorang lelaki dari balik telepon genggamnya yang sudah tak asing lagi di telinga Romo. “Tenang saja, hanya satu orang kan? Orang-orang dipesantren itu tak akan bisa mengalahkan anakku. Dia sangat cerdas. Jaga saja dirimu baik-baik. Jangan sampai orang-orang pesantren mengetahui indentitasmu yang sebenarnya”.
*****
            Senin yang indah di sebuah Rumah kontrakan di Desa Cena, tanpa mereka sadari, baik itu Islam maupun Kristen atau agama lainnya. Makna dari senin yang dalam bahasa Inggrisnya diucapkan Monday merupakan hari dimana kaum pagan dahulunya selalu menggunakan hari senin untuk menyembah Isis, dewi kecantikan, dewi bulan yang merupakan istri dari dewa Ra, dewa Matahari, dewa perang. Diabadikan dalam nama hari agar tak terlupakan, Sunday, dewa matahari selalu bersanding dengan Sunday, dewi bulan. Tapi tak seperti wajah bulan yang terlihat tenang, walaupun malam, wajah Rasyid tak memperlihatkan sebuah ketenangan; tapi sebuah wajah yang menantang.
Hidangan yang sangat lezat. Pantas misionaris itu memilih tempat ini. Penduduknya terlalu ramah dan kurang berpendidikan. Gumam Rasyid di dalam hati. Sudah sepuluh hari Rasyid memperhatikan aktifitas masyarakat dan spesialnya untuk misionaris tua beserta anaknya.
            Layaknya pagi di sepuluh hari sebelumnya. Kali ini Rasyid menyempatkan diri untuk lebih mendekat ke rumah misionaris yang sudah lama diintainya. Betapa kagetnya Rasyid ketika melihat ternyata Marta sedang membagikan bungkusan plastik berwarna hitam. Firasat Rasyd mengatakan sesuatu yang buruk mengenai isi dari bungkusan yang dibagikan oleh Marta. Rasyid segera bergegas mendekati Marta.
            “Apa yang kau bagikan itu?”
“Daging” jawab Marta.
“Daging apa?”
Marta terdiam. Tanpa pikir panjang Rasyd langsung mengambil secara paksa bungkusan plastik hitam yang dipegang Marta. “Gila, kamu membagikan daging Babi ke penduduk yang beragama islam?” Mata Rasyid terbelalak, kemudian dia mengarahkan pandangannya ke salah seorang penduduk karena tak mendapatkan jawaban apapun dari Marta. “Apa kau tahu jika ini daging Babi? Haram... ini untuk kalian makan. Allah tak meridhainya”
“Tapi itu dulu anak muda. Marta sudah menjelaskan jika sekarang daging babi sudah tak mengandung cacing pita lagi. Peternakannya sudah terjaga” seloroh seorang wanita tua yang sedari tadi dipandangi Rasyid.
“Haram pada daging babi itu bukan masalah cacing pitanya saja. Sapi juga mengandung cacing pita bu. Itu perintah Allah. Hey kamu, siapa namamu?”
“Marta”
“Apa kamu punya babi yang masih hidup?”
“Tentu saja. Dibelakang rumah kami  ada lima babi yang belum dipotong”
“Marta, coba bawa babimu itu sebanyak dua babi jantan dan satu betina dan Ibu, tolong bawakan saya dua ayam jantan dan satu ayam betina!”
“Tapi saya tak punya...” jawab si ibu dengan jujur.
“Cari saja, ini uangnya bu” ibu yang disuruhnya dengan ketakutan segera berangkat untuk membeli ayam yang dipesan oleh Rasyid, selebihnya Marta dan Ibu yang tak dikenal namanya oleh Rasid benar-benar ketakutan dengan mimik muka Rasyid dan begitu juga dengan beberapa penduduk yang sedang antri menunggu pemberian bingkisan.
Sejurus kemudian, Marta dan Ibu tua sudah membawakan apa yang dimintakan Rasyid. Penduduk banyak yang berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
“Coba kalian masukan dua ayam jantan dan satu ayam betina itu ke dalam kandang” perintah Rasyid kepada beberapa penduduk. Seketika, kedua ayam jantan itu saling bertempur sampai ada yang menang. Lalu ayam jantan yang menang mendekati ayam jantan betina untuk kawin.
“Sekarang saya minta masukan dua ekor babi jantan dan satu babi betina ke dalam kandang”
Berbeda dengan apa yang terjadi pada ayam. Kedua babi jantan itu tidak bertarung dan malah mendekati babi betina yang hanya satu ekor dan menggumulinya.
“Apa kalian lihat? Kalian mau seperti babi? Buang daging itu! Apakah kalian juga tahu jika babi memiliki penciuman yang lebih hebat dari seekor Anjing? Tapi mengapa kalian tidak pernah mendengar ada Babi pelacak? Tahukah kalian jika Babi itu selalu memakan apa yang dimakannya? Bahkan kotorannya sendiri...”
Sunyi, senyap, sedingin antartika yang sedang tertidur pulas. Tak ada yang bicara. Rasyid pergi tanpa berkata-kata lagi...
*****
            Kejadian yang terjadi tiga hari lalu masih dipikirkan oleh Rasyid. Karena itu, dia kembali mengingat nasehat yang diucapkan oleh Ayahnya. Inilah kelemahan Rasyid, disaat Ayahnya terkenal karena lemah lembutnya dan kebijakannya, tapi pada diri Rasyid; sangat sulit sekali membedakan apakah dia keras atau tegas. Tapi dia masih bersyukur, akibat kejadian itu keluarga Marta semakin dijauhi oleh penduduk sekitar dam masjid semakin penuh.
            Kala sang surya hampir menutup kisahnya, Rasyid mengendarai motornya untuk berangkat membeli bahan pokok. Karena pagi sampai siang hujan lebat turun Rasyid harus berhati-hati karena jalanan menjadi becek. Di persimpangan, tanpa bisa dihindari, ban motor Rasyid melindas kubangan air kotor. Seorang wanita yang sedang berjalan tak jauh dari kubangan air kotor terkena semburan air dari kubangan. Rasyid segera berhenti dan mendekati wanita tersebut untuk meminta maaf. Tapi ketika mendekat dan mulai memperhatikan wajah korbannya, Rasyid sadar jika itu adalah Marta.
            “Maafkan aku Marta. Benar tak ada kesengajaan dalam kejadian ini” Rasyid walaupun benci terhadap Marta tapi masih memiliki dasar kemanusiaan yang tinggi untuk meminta maaf. Tapi Marta masih terdiam, tiba-tiba air matanya meleleh melihat bajunya yang kotor.
            “Maaf? Apakah hanya itu yang agamamu ajarkan?” dengan murkanya Marta terus memandangi wajah Rasyid hingga matanya seolah-olah akan meloncat keluar. “Bukankah Nabimu pernah berkata jika dunia ini surganya orang kafir dan penjaranya orang yang beriman? Sedangkan kali ini lihatlah! Aku yang sengsara dan kamu yang bernikmat ria dengan motormu”
            Rasyid hanya tersenyum untuk mengurangi ketegangan. “Aku dengan nikmatnya menggunakan motor jika dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedangkan kesengsaraan yang engkau alami sekarang jika dibandingkan dengan adzab yang akan kau alami di neraka seperti sebuah surga”
            Kembali terulang, keduanya membisu, lebih hening dari kejadian di depan rumah Marta sebelumnya. “Aku beriman kepada Tuhanmu” ucap Marta dengan terbata-bata. Rasyid terdiam mendengar ucapan itu.
*****
            Empat tahun sudah berlalu, Marta dan Rasyid sudah menjadi sepasang suami istri. Keduanya hidup berbahagia sampai suatu ketika anak mereka yang berusia tiga tahun sakit-sakitan. Sudah berbagai cara mereka lakukan untuk mengusahakan kesembuhan anaknya. Sampai di suatu hari, dimana kakek dari kedua belah pihak datang untuk menjenguk, Kyai Zein dan Romo Yohanes Anwar.
Mereka berdebat, saling menyalahkan menganai keadaan yang terjadi. Romo Yohanes Anwar memberi tantangan kepada Kyai Zein; barangsiapa yang dapat menyembuhkan cucu mereka maka seluruh keluarga Rasyid harus masuk ke agama orang yang berhasil menyembuhkannya. Karena keyakikinannya, Rasyid menerima tantangan itu karena tidak ingin lagi diganggu oleh ajakan orang tua Marta agar masuk ke agama Kristen.
Kyai Zein mendapat giliran pertama selama satu minggu. Hasil yang cukup mengecewakan karena cucunya tak kunjung sembuh. Tapi ketika giliran Romo Yohanes Anwar yang mengobati secara spiritual, cucu mereka langsung sembuh hanya dalam waktu tiga hari.
Nazar seorang lelaki haram untuk dicabut, itulah prinsip Rasyid. Akhirnya dengan berat hati dia mengajukan diri sebagai orang pertama yang berpindah agama, mungkin pikirnya, minimal, biarlah hanya dia yang menjadi kafir. Dia segera bergegas menuju gereja terdekat dari Desa Cena. Sedangkan di dapur rumah Rasyid, Marta sedang membuat susu bubuk untuk anaknya. Dia merasa heran karena susu bubuk yang selalu diberikan kepada anaknya dipaksa untuk diganti oleh Ayahnya. Padahal susu bubuknya masih banyak. Suara telepon genggam membangunkan Marta dari segala pemikirannya.
“Terimakasih Marta”
“Ayah? Terimakasih untuk apa?”
“Kamu memang anakku yang jenius. Rasyid baru saja menyatakan diri masuk kristen. Dian sangat berpengaruh di Desa Cena. Pasti warga akan mengikuti keyakinannya” Marta hanya terdiam mendengar ucapan dari ayahnya yang sangat menyakitkan telinganya. “Oh ya, kamu buang saja susu bubuk yang dahulu Ayah beri. Ayah menaruh racun di dalamnya”
“Apa? Racun?”
“Iya, Maaf Marta. Tapi semuanya sekarang sudah berakhir”
Tiitt... suara sambungan telepon yang diputuskan mengisi penuh ruangan yang seolah menjadi sebuah parade sirine peringatan akan adanya kebakaran. Berarti, aku telah ditipu. Gumam Marta dalam hati.
“Treng... treng... treng...” suara telepon genggamnya kembali berdering. Seolah terbawa oleh arus gaib, Marta segera mengangkat telepon genggamnya.
“Assalamualaikum. Ini dengan siapa?” tanya Marta pada nomor yang tak dikenalnya.
“Waalaikum salam. Apakah ini Ibu Marta”
“Iya ada apa Mbak?”
“Kami hanya ingin memberitahukan jika suami Ibu tiga menit yang lalu baru saja menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Motor beliau tertabrak di jalan kota yang menuju Desa Cena”
Marta terdiam dan segera menutup teleponnya. Raganya seolah terbawa ke dunia dongeng yang tak pernah dikunjunginya.
Cinta tak bersyahadat...
Gambar Ilustrasi


Rabu, 30 April 2014

Koma

Oleh: Rofa Yulia Azhar
Tanggal terbit: 30 April 2014

Beberapa komentar dari pembaca cerpen ini:
“Penulis gila. Intinya contoh saja Nabi Muhammad” Samadin bin Pudin.
“Didiklah anakmu lebih baik dari masa lalumu” Iskandar Nugraha bin Suganda.

“Watak pemeran utamanya sepertinya seperti watak orang yang sangat saya kenal. Tapi siapa ya? Intinya kisah ini tidak teladan” Rofa Y. A. bin Misna Sudjana (penulis).


KOMA
“Selamat Pak, anak Bapak berjenis kelamin laki-laki”

“Kesinikan Suster, biar saya gendong” dengan segera Suster yang membantu memandikan anakku yang baru lahir memberikan bayi mungil yang dipegangnya  padaku. “Lihat Mah, lucu sekali anak kita!”. Istriku hanya tersenyum, terlihat begitu tulus, cukup merelakan sisa tenaganya untuk memberikan garis tipis di sela-sela bibirnya. Oh, sungguh manis sekali.

“Dia mirip sekali dengan kamu!” ucap istriku dengan suara yang begitu lemah.

“Mirip memangnya?” segera aku alihkan pandanganku ke arah mertuaku yang sedari tadi sudah menunggu giliran untuk menggendong anakku layaknya burung pemakan bangkai yang menunggu giliran untuk memakan sisa-sisa daging dari hewan hasil buruan binatang lain. “Tapi untunglah hidungnya mirip denganku. Jika mirip dengan Mamahnya yang hidungnya mancung, bisa-bisa Ayah curiga jika anak ini adalah anak tetangga”.

Sunyi. Sepi. Subhanallah, ternyata ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda. Sepertinya dengan sukses aku telah mengacaukan lagi salah satu acara sakral dari dua acara sakral yang pernah aku alami. Dahulu juga aku pernah melakukannya ketika pesta pernikahan kami. Aku gagal mengucapkan Qabul. Awalnya dinyatakan dengan biadab jika Qabul yang aku ucapkan tidak sah. Aku tak pernah tahu alasannya, mungkin karena ucapan Qabulnya terputus dengan kata ‘Eu...’ selama 2,15 detik. Lalu di pengulangan yang kedua aku malah salah menyebut nama istriku. Ketiga kalinya aku salah menyebut kata bin yang seharusnya aku sebut binti dan Alhamdulillah yang keempat kalinya kembali gagal lagi karena aku lupa jumlah uang dari mas kawinku karena aku sengaja menggunakan angka yang memilki kredit nilai yang cukup unik. Beruntungnya yang kelimanya berhasil disahkan setelah aku ingat jika uang yang aku berikan sebagai mas kawin adalah sejumlah Rp.9.815.950, kesuksesan ini juga tak terlepas atas dukungan sakti dari mata ayahku yang mendadak liar seperti akan meloncat dari sarangnya.

“Iya lucu” terdengar suara istriku yang begitu lembut memecah semua gumpalan ingatan burukku. “Rifki, kamu sering bilang, kadang kita membuat keputusan yang tepat tapi tidak pada waktu yang tepat. Itu lelucuan yang sangat baik, tapi tidak untuk saat ini. Kamu sudah menjadi Ayah sekarang, sebaiknya kamu lebih baik lagi dari sebelumnya”

“Maaf...”

“Ya sudah, untuk sekarang, sebagai seorang ayah kamu harus lebih rajin lagi mencari uang untuk menunjang kehidupan anak kita kelak”

Kucondongkan tubuhku agar mulutku mendekati telinga istriku. “Hehe... Iya siap Bos. Aku juga akan bekerja lebih giat lagi supaya bisa membeli rumah. Supaya terjauh dari Ibumu. Ibumu sepertinya benar-benar ingin membunuhku secara perlahan”

Kok kamu bisa berpikiran seperti itu sih?”

“Dia tahu aku takut ketinggian, tapi dia memberikan kita tempat tidur di lantai kedua. Terus dia memiliki hobi menambahkan cabe rawit pada setiap masakan, bahkan jika aku yang memasak sekalipun. Padahal dia tahu kalau aku tidak suka masakan pedas”

“Ngaco. Beraninya bisik-bisik. Nanti aku sampaikan ke Ibuku tentang apa yang kamu katakan”
“Hehe... Bercanda sayang”
*****
            Banyak anak, banyak rezeki. Ternyata aku berhasil membuktikan kemanjuran hadist itu. Walaupun baru mempunyai anak satu tapi gara-gara kelahiran anak pertama kami, karirku semakin melesat sebagai seorang penulis, peneliti dan seorang pengajar. Malah, setelah anak kami berusia dua tahun, secara spontan aku dipromosikan sebagai Kepala Diknas kabupaten.

            Sampai di usianya yang empat tahun. Berdasarkan metode yang aku terapkan, anakku telah mampu membaca, menulis dan melakukan perkalian sederhana. Bahkan dia sering meniruku mengambil lembaran koran di depan rumah untuk membacanya dan karenanya timbul ribuan pertanyaan yang dia kemukakan dari apa yang dia baca. Sulitnya lagi ketika dia memaksa untuk segera disekolahkan ke SMA dengan alasan karena seragam anak SMA dianggap sangat menarik baginya, begitu keren.

Saat hari ulang tahunnya yang ke lima, aku undang semua sanak saudaraku dan istriku untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Saat acara berlangsung, anakku begitu bersemangat untuk menunjukan bakat yang dimilikinya. Aku begitu sibuk menjamu tamu undangan yang datang dan begitu juga istriku, dia terlihat sedang begitu fokus dengan konsumsi yang harus disiapkan dalam jamuan. Tiba-tiba anakku mengahampiri dan bergelantungan di kakiku. Dia merengek ingin segera aku gendong dan mengajakku untuk menemaninya tidur. Sontak saja aku geram, karena acara peniupan lilin akan segera dimulai, selain itu akupun masih sibuk menjamu sanak saudara yang mengajak untuk berbicara berbagai hal. Dalam tekanan, aku berusaha melepaskan dekapan anakku di kakiku, kupegang erat pergelangan tangannya dan kutatap dengan tajam matanya. “Cobalah diam sebentar, ayah sedang sibuk. Pergilah ke Mamah dan jangan ingin tidur untuk saat ini”.

“Ayah...”

“Sudah jangan manja. Jangan ganggu Ayah!” tanpa sadar, anakku terhempaskan oleh tangan kananku yang dari tadi menggenggam tangan kanannya.

Semenjak itu sikap anakku menjadi berubah. Dia menjadi pembangkang kecil. Apa yang aku larang pasti dia lakukan. Dia menjadi seorang yang pendiam, sering berdiam diri dan menyibukan diri dengan teka-teki, rubik, sodoku dan teman khayalannya. Lebih parahnya lagi dia tak pernah mau lagi berbicara denganku. Untuk setiap pertanyaan yang aku ajukan pasti dibalas dengan anggukan atau gelengan kepala.

Anakku berubah menjadi prototipe yang aku khawatirkan, yaitu seperti Sidis. Bocah Yahudi ajaib yang menjadikan koran sebagai teman sarapan paginya di usia 3 tahun, lalu mampu menulis buku tentang anatomi di usia 7 tahun dan masuk universitas pada usia 11 tahun. Sidis yang seharusnya dan diprediksi banyak orang akan mampu melebihi kehebatan Albert Einstein ternyata menjadi seorang pesakitan. Dia meninggal di usia 40-an, dalam keadaan miskin. Padahal seharusnya di usia 40 dia berada dalam masa emasnya. Memang kehebatan anakku tak seperti Sidis, tapi aku takut dia juga akan mengalami hal yang serupa; bad ending.

Anakku berhasil menempuh semua jalur pendidikan dengan sangat sempurna tanpa cacat. Setelah selesai S1 dia melanjutkan pendidikan ke S2. Karena khawatir, aku dan istriku segera mencarikan istri untuk anakku. Dia benar-benar jarang sekali bergaul. Jangankan teman wanita, teman lelaki dari sekolahnya tidak pernah dia bawa ke rumah.

Akhirnya semuanya lancar. Anakku mau menikah dengan wanita yang aku dan istriku pilihkan untuknya. Tapi sikapnya tak pernah berubah. Malah dia semakin berusaha mengalihkan segala kewajibannya untuk bersosialisasi dengan segala pekerjaannya. Bahkan, sampai dia mempunyai anak yang berarti cucuku.

Sampai suatu ketika, saat kami berkunjung ke rumah anakku untuk merayakan ulang tahun cucuku yang ke lima. Anakku sedang duduk di sofa hanya untuk menemani kami orang tuanya yang datang berkunjung. Tak lebih baik dari patung apa yang ditunjukan anakku. Dari pintu yang terletak di sebrang ruang tamu, cucuku yang lama kunantikan akhirnya muncul juga. Terlihat sikunya berdarah.

“Lihat, cucumu mirip denganmu. Dia memiliki hidung yang pesek. Tidak mancung seperti Ibunya atau seperti aku. Bisa-bisa kalau mancung dianggap anak tetangga”

“Kenapa? Ayo ke sini, duduk disamping kakek, biar kakek obati lukanya” Aku acuhkan ucapan istriku dan berusaha membujuk cucuku agar mendekatiku. Cucuku terdiam. Dia mengarahkan matanya ke arah ayahnya.

“Ayah, lihat aku tadi terjatuh. Sikuku berdarah, tapi aku tak menangis ayah. Hebat kan!” Anakku terdiam, tak memperlihatkan sedikitpun mimik yang diharapkan oleh anaknya. “Ayah, capek. Gendong Yah, ngantuk”
“Sudah Ayah bilang kan kalau kamu jangan main di luar. Cepat ke si Mbok, mandi dulu baru boleh tidur”
“Tapi digendong kan Yah?”
“Ayah sedang sibuk ada Kakek dan Nenek”

Sekejap seluruh ruangan menjadi gelap. Membawaku kembali ke masa yang terdahulu, yang diciptakan sebelum masa kini. Disebuah ruangan yang terdapat pesta ulang tahun di dalamnya. Terlihat seorang anak yang meminta ayahnya agar dirinya digendong menuju kamar karena ingin tidur. Sejurus kemudian, penyesalan yang sangat menyakitkan memancarkan auranya. Sepertinya tidak, itu bukan salahku. Memang sudah pada dasarnyalah anakku berwatak demikian. Aku tak boleh menyesal apalagi menangisi semua yang telah terjadi, bukankah banyak orang tua yang memukul anaknya? Tapi semuanya berjalan normal saja. Aku rasa jika hanya gara-gara aku tak mau menggendong anakku karena aku sibuk itu adalah hal yang wajar.

“Menangislah Kakek” istriku menggenggam tanganku. “Kamu sekarang sudah menjadi kakek-kakek. Dulu kau hempaskan anakmu ketika dia berusia lima tahun. Aku suruh kau memperbaikinya, kau malah terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Lalu sekarang, lihatlah anakmu yang begitu asing dengan anaknya”

Istriku menghela napas panjang sampai bercucuran air matanya. “Ya Nabi, Aku ingin anak dan suamiku menirumu. Engkau yang menggendong cucu-cucumu, Engkau yang bermain berkejar-kejaran dengan mereka, Engkau yang menengok anak yang burung peliharaannya mati dan Engkau juga yang berkata ketika seorang ibu mengambil paksa anaknya ketika Engkau gendong karena takut anaknya pipis dipangkuanmu ‘Bekas najis dari air pipis mungkin bisa kuseka, tapi apakah aku bisa menggantikan saraf halus di otaknya yang terputus?’”

Istriku menatapku dengan linangan air matanya dan aku melihat anakku mencucurkan air matanya. Tuhan, inilah puisi terindah yang pernah aku dengar sebagai seorang penulis.

“Kalian berdua. Marilah kita mulai kembali. Kakek, lakukanlah sebelum ajal menjemput kita berdua yang sudah diambang pintu kematian ini. Anakku, lakukanlah ini demi masa depan anakmu. Belum terlambat. Tuahanpun akan tersenyum dan malaikat-malaikat akan bersenandung akan doa jika kita mampu merajut lagi semuanya dengan sebaik-baiknya. Marilah kita perbaiki semuanya”

Aku beranjak dari tempat dudukku, menghampiri tempat duduk anakku. Kupegang kedua pundaknya. “Maafkan Ayahmu ini...”
*****
“Rifki bangun...”

“Eh, dimana aku?”

Jiah, kamu dari tadi tidur. Bangun, Pak Yusuf akan segera masuk kelas. Sadar, kamu masih di kelas dan tadi ketiduran”

“Hehe...”

“Malah tertawa, seharusnya mikir. Makanya jangan begadang” kuacuhkan semua yang diucapkan oleh temanku. Selayak sebuah kenyataan yang terpasung, mimpi yang benar-benar menyeramkan. Keringat berseluncur di leherku menandakan sebuah proses yang panjang tentang alam bawah sadar. Aku berjanji tak akan melakukannya; koma.


Gambar Ilustrasi

Minggu, 13 April 2014

Dear Diary

Minggu, 2 Februari 2014
Dear Diary, 
Hai Di, udah lama Vella nggak nulis di kamu yah, banyak banget yang Vella mau ceritain ke kamu Di. Tadi pagi Vella sama temen-temen ngomongin cowok masing-masing. 
Di, masih inget sama Evan kan? cowoknya Vella? Vella malu banget deh sama dia. Dia soalnya nggak kayak cowok-cowok temen Vella yang lain, Di.

Sebel deh sama Evan, bayangin deh Di, dia banyak banget kekurangannya. Evan itu…

Malu-maluin banget, karena dia nggak punya handphone! Padahal cowok-cowok teman Vella yang lain punya handphone semua. Padahal kan ini tahun 2014, dia kira kita hidup di zaman batu gitu?
Kuper benget,  karena dia nggak dibolehin bawa motor sama ortunya karena alasannya belum 17 tahun, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain biar sama-sama kelas 1 SMA udah boleh bawa motor sendiri! Kalau main kemana-mana pasti selalu ngangkot. Alasannya sih kalau naik angkot enak, serasa punya supir pribadi.
Primitif banget, karena dia itu rambutnya cuma cepak biasa , padahal cowok-cowok temen Vella yang lain itu rambutnya gaya abis. 
Sok alim banget , karena dia itu nggak suka ke tempat-tempat dugem Di! Padahal Vella mau banget ke sana, malu banget nggak sih punya cowok kayak gitu? Padahal kan cuma nemenin doang.
Kikir banget, dia itu Di, dia nggak punya satu pun jaket XSML padahal cowok-cowok temen Vella yang lain sering banget belanja di sana , kalau dia sih paling pake jaket yang merek FILA palsu, dan jaketnya itu-itu aja.
Terakhir, dia itu anak mami banget (yang ini banget, banget, dan banget!) karena dia masih suka bawa makanan dari rumah buat makan siang ke sekolah! Gila yah Di, malu-maluin banget!

Banyak banget kan kekurangannya? Ada 6 kekurangannya Di yang Vella sadari. Sumpah yah Di, Vella malu banget sama dia, kayaknya mau putus aja deh Di.

Jumat, 14 Februari 2014
Dear Diary, 
Hari ini, hari Valentine, pas Evan ke kelas Vella mau kasih kado, Vella cuma diem aja. 
Seharian itu Di, Vella menghindari dia habis-habisan, dia bingung gitu kayaknya Di, tau kenapa Vella menghindar terus?

Sampai rumah dia nelepon Vella, Vella males ngomong sama dia. Ketika dia main ke rumah, Vella suruh pembantu bilang ke Evan kalau Vella belum pulang. Dia nelepon 4 kali hari itu tapi Vella males ngangkatnya. 

Rabu, 19 Februari 2014
Dear Diary, 
Kira-kira udah 3 harian deh kayak gitu, tiap di sekolah Vella selalu berusaha menghindari Evan pakai acara pura-pura ke wc cewek lah atau ngumpet lah, dan di rumah Vella selalu nggak mau nerima telepon dari dia, kayaknya Vella bener-bener udah ilfeel dan malu pacaran sama dia Di! 

Senin, 24 Februari 2014
Dear Diary, 
Hari ini hari Senin yang melelahkan, mengesalkan dan memalukan. Seperti biasa pas di sekolah, Vella ngindarin dia.  Pas pulang sekolah Vella ngumpul di kantin sama temen-temen Vella. Mereka pada nanya kok Vella menghindari Evan terus? Vella diem aja, bingung mau jawab apa. Tapi setelah didesak ahirnya Vella ngaku juga Vella ngomong, "Ah bete banget gue sama si Evan udah nggak ada modal, mendingan gaul, dan… mukanya setelah gue piker-pikir biasa banget, ya ampun kok gue dulu mau yah jadi sama dia? Dipelet kali yah gue!!" 

Tiba-tiba semua pada diem dan melihat ke arah punggung Vella. Lalu Vella bingung dan nengok Di, ya Tuhan Di! Ternyata ada Evan di belakang Vella dan kayaknya dia denger yang Vella baru omongin barusan.

Vella cuma bisa diem tapi Vella sempet ngeliat Evan sebentar. 
Dia diem, mukanya nunduk ke bawah terus dia pelan-pelan pergi dari situ. Vella bingung banget, ada beberapa yang ngomong "Hayo loh… Vel, dia denger lho!"  Tapi ada juga yangg ngomong, "Udahlah Vel, baguslah denger, nggak ada untungnya tetep sama dia, entar elo juga bisa dapet yangg lebih bagus."Bener juga yah Di. Ya udah Vella cuek aja, syukur deh kalau dia denger! Dia mau minta putus juga ayo, mau banget malah Vella.

Rabu, 26 Februari 2014
Dear Diary, 
Sudah dua hari berlalu dari senin keramat itu Di, dan sejak saat itu Evan udah nggak berusaha nyamperin Vella di sekolah atau nelpon Vella. Tiap ketemu di sekolah dia cuma diem dan ngelewatin Vella aja. 

Rabu, 5 Maret 2014
Dear Diary, 
Sudah sepuluh hari berlalu sejak hari itu, Vella mulai ngerasa ada sesuatu yang hilang Di, nggak tau kenapa Vella mulai ngerasa kehilangan sesuatu, kadang-kadang Vella suka bengong, bingung sendiri. Cuma Vella berusaha menghilangkan perasaan itu.  Vella nggak tau kenapa jadi males kemana-mana, pengennya sendiri aja, males ngapa-ngapain. Semua orang jadi bingung kenapa Vella berubah jadi kayak gini. Vella sendiri juga nggak tau kenapa Di.

Sabtu, 8 Maret 2014
Dear Diary,
Minggu malem nih Di, ujan deres banget, Vella diem dan merenung di dalam kamar. 
Tiba-tiba di Trans TV ada lagunya Janet Jackson Di! Tau kan liriknya?

Doesn't really matter what the eyes are seeing, cause I'm in love with the Inner being. 

Setelah denger lagu itu tiba-tiba Vella nangis Di,  Vella baru sadar. Betapa baiknya Evan.
Vella menangis sejadi-jadinya Di, karena Vella baru sadar betapa begonya Vella.
 
Malu-maluin banget, karena Evan ngga punya HP Di, tapi plus 10 karena sering beliin Vella pulsa padahal pulsanya nggak dipakai untuk komunikasi sama dia.
Kuper benget,  karena dia nggak dibolehin bawa motor sama ortunya karena belum 17 Di, tapi plus 10 karena tiap malem minggu rela naik sepeda jauh dari Cipeundeuy ke Kalijati khusus ngapelin Vella biar hujan sekalipun.
Primitif banget, karena dia rambutnya cuma cepak biasa dan nggak suka gaya macem-macem, tapi plus 10 karena dalam keadaan rambut Vella apapun baik bagus maupun lagi jelek, mau salah potong atau salah blow atau salah model dia selalu bilang, “Vella cantik banget”.
Sok alim banget  karena dia nggak suka ke tempat dugem Di, tapi plus 10 karena dia sebagai gantinya dia rela nemenin Vella ngerjain PR, malah kalau Vella sedang males dia yang sering ngerjain PR Vella.
Kikir banget,  karena Evan ngga punya jacket XSML dan hanya punya jaket FILA bajakan biasa, tapi plus 10 karena kalau hujan di sekolah dia selalu minjemin Vella jaketnya meski dia sendiri kedinginan.
Terakhir dia anak mami banget karena dia bawa makan siang ke sekolah, tapi plus 10 karena ternyata dia melakukan itu buat nabung uang jajan makan siangnya buat beli kado Valentine buat Vella.

Darii 6 kekurangan yang Evan punya Di, dia punya 60 Plus di hati Vella.  Ya Tuhan Di, betapa begonya Vella yah? Harusnya Vella bersyukur, Vella orang yang beruntung sebenernya punya cowok seperti Evan, dan Vella juga yang nyakitin Evan,  padahal nggak pernah sekalipun dia nyakitin Vella. Di. Senin Vella mau minta maaf sama dia.

Senin, 10 Maret 2014
Dear Diary,
Vella ketemu sama Evan di sekolah. Vella kejar dia dan bilang Vella mau ngomong, Evan diem aja. Vella minta maaf dan jelasin apa yang terjadi. Dia cuma diem aja terus pulang. Vella cuma bisa diem karena sadar, Vella baru sadar, kita tidak akan tahu apa yang kita miliki sampai suatu saat nanti kita kehilangan. Sakit banget rasanya Di, Vella pulang sekolah nangis tapi juga sadar itu semua Vella yang bikin dan Vella pula yang nanggung resikonya.

Selasa, 11 Maret 2014
Malem ini tiba tiba mamah ngetok pintu kamar Vella, katanya ada telepon.  Ternyata Di itu dari Evan, dia udah maafin Vella, dia sudah lupain semuanya. Aduh Di, girang banget hati Vella.

Malem ini Evan mau kesini Di, dan Vella mau dandan secantik-cantiknya buat Evan. Udahan dulu ya Di.
Gambar Ilustrasi
Catatan: Supaya lebih mengahayati saya masukkan link video dari Sheila on 7 yang berjudul Percayakan Padaku. Silakan mendengarkan.
Video Percayakan Padaku Sheila on 7