Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tentang Hidup

Tak masalah ada di pihak mana anda berdiri (pekerja keras, orang yang beruntung, orang sial, miskin, bodoh, pintar atau apalah), yang terpenting yang harus kita miliki adalah kemampuan untuk mengambil hikmah dari setiap momen yang terjadi dalam hidup kita (Rofa: 2010)

Mayoritas Manusia

Kebanyakan orang ingin pergi ke tempat tertinggi dalam kehidupan ini. Tanpa mereka sadari bahwa tempat tertinggi itu menjadi tempat terendah ketika mereka menginjaknya (Rofa: 2011)

Antara Tuhan dan Kita

Salah satu bentuk rasa syukur kita yang tertinggi pada tuhan tentang akal adalah membiarkan otak kita berman-main dengan bermacam-macam ide dan berusaha menuliskannya sebagai suatu kesimpulan yang dapat digunakan oleh orang lain sebagai suatu referensi, bukan sebagai kitab suci (Rofa: 2010)

Stereotipe Negatif

Apalah artinya kekurangan dan kelemahan, jika ada hati yang menerima kita apa adanya (Rofa: 2009)

Lalu

Pada akhirnya kita semua akan menjadi pahlawan dari kisah hidup kita sendiri (Rofa: 2013)

Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

[Cerbung] Penantian 1000 Tahun Eps. 9: Mie Instan

Tanggal terbit: 1 Februari 2015

Sebelumnya, Penantian 1000 Tahun Episode 8: Himalaya


Seorang pecundang selalu membandingkan prestasi dirinya dengan prestasi orang lain. Sedangkan seorang pemenang selalu membandingkan prestasi-prestasi dirinya dengan tujuan-tujuan hidupnya. Itulah kalimat yang sering aku ucapkan pada diriku sendiri sebelum aku mengikuti kompetisi apapun. Akan semakin sering aku ucapkan terutama ketika aku kalah.


Aku tidak pernah terlalu peduli -lebih tepatnya sedikit peduli- terhadap peringkat, hadiah, atau sanjungan. Itu hanya bonus kecil dari usaha kita. Ada yang lebih dari itu: pengalaman dan kesempatan kita untuk mengembangkan diri.

Sssstttt.... Tapi apa yang aku sampaikan di atas hanyalah paragraf yang berisi teori saja. Hampa. Pada faktanya, ketika kalah sangat menyakitkan, dan ketika menang akan sangat membahagiakan. Kali ini, aku akan menceritakan hal lain selain cinta, pendidikan dan persahabatan.

Ceritaku berlanjut di Bulan Maret, musim hujan Tahun 2007. 


Episode 9
Mie Instan

"Jika kita berjuang, mungkin kita tidak selalu menang tetapi jika kita tidak berjuang, sudah pasti kita akan kalah!" -Jagjit Singh

Pagi-pagi sekali, aku sudah bersiap untuk mandi. Seolah ingin menyaingi fungsi sang ayam yang selalu membangunkan orang-orang. Aku membuat sedikit kegaduhan di pagi ini. Sedikit membuat kaget kedua orang tuaku. Biasa bangun siang, sekarang bangun pagi. Kedua orang tuaku seperti tak percaya. 
Mungkin di dalam hati, mereka berpikir bahwa anaknya sedang kemasukan roh halus. Atau lebih parah dari itu, mereka menganggapku sedang mengalami somnabulisme, bahasa ilmiah dari tidur sambil berjalan. Oh mamah dan bapak, anakmu ini baik-baik saja. Percayalah dengan apa yang kalian lihat....

Hari ini, hari yang telah lama aku tunggu. Sudah satu bulan lamanya aku belajar mati-matian. Dimulai dari buku biologi SMP, SMA sampai tingkat universitas aku lahap habis. Sudah sebulan lamanya aku bangun setiap jam 2 pagi untuk belajar, dan kembali terlelap pada pukul 5 pagi, lalu bangun kesiangan. Sudah sebulan juga aku diberikan pelajaran tambahan sepulang sekolah. Sehingga mengurangi waktu bermainku. Kurang tepat, bukan hanya waktu bermain, melainkan waktu untuk tertawa.


Hangatnya sinar mentari menerpa setiap inci dari permukaan tubuhku. Hangatnya pasti, terangnya jelas. Sehingga kurasakan tubuhku seperti dihantam oleh sebuah partikel elementer yang bersifat elektromagnetik, mengguncangkan kestabilan elektron dalam tubuhku. Seolah mempolarisasinya menjadi lapisan ekstraterestrial. Meskipun begitu, otakku tidak terengaruh: tetap gulana. Memikirkan apa yang akan terjadi dengan hari ini.


Sesampainya di sekolah aku lihat sudah ada beberapa siswa lainnya yang sudah datang. Mereka adalah siswa-siswi perwakilan sekolah yang akan mengikuti lomba olimpiade sains. Jumlahnya lumayan banyak, karena untuk satu mata pelajaran ada tiga siswa yang mewakilinya. Mata pelajaran yang dilombakan mencakup, matematika, komputer, astronomi, biologi, kimia dan fisika. Tahun lalu, waktu aku kelas X, aku menduduki peringkat 13 dari 60-an peserta olimpiade biologi. Sekarang tentu saja harus lebih baik.


Sudah sekitar 45 menitan aku menunggu. Bu Eli masih saja sibuk bolak balik mengumpulkan anak-anak peserta lomba. Wajahnya tampak tak bahagia, berduka mungkin saja, seperti wajah pada sebuah pesta kematian.


"Ini gimana, kita kurang satu siswa lagi. Dia katanya sakit dan tidak bisa masuk" ujar Bu Eli pada salah seorang guru.

"Ya sudah berangkat saja bu. Daripada terlambat" jawab salah seorang guru.
"Tidak bisa seperti itu, ini kan sudah dibayar biaya pendaftarannya"
"Terus mau ibu gimana?"
"Ini kan bukan hanya masalah uang. Ini masalah pengalaman juga. Jadi mending kita ganti saja orangnya" jawab Ibu Eli dengan ragu. Tampak seperti sebuah saran, tapi bukan sebuah solusi.

Bu Eli lalu memerintahkan agar kami semua berkumpul. Raut wajahnya masih tetap tegang. Wajah Nita dan Legi juga seperti ikut beresonansi dengan wajah Ibu Eli, tampak sama tegangnya. Nita mengikuti olimpiade di bidang Fisika, dan Legi sama sepertiku, di bidang biologi.


"Ada yang bisa memberi masukkan temannya yang pintar di bidang Matematika? Soalnya siswa yang harusnya mewakili sekolah malah sakit" tanya Bu Eli pada kami semua. Seketika semua saling berbisik. Mencoba memberi saran, namun mungkin malu.

"Siapa ya Phi? Kamu ada ide enggak?" bisik Nita padaku.
"Ada" jawabku dengan singkat.
"Siapa?"
"Rahasia ah"
"Ini bukan waktunya merahasiakan itu"
"Takut jadi ghibah"
"Ih.... jangan bercanda"
"Hehe...."

Aku menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa siswa lain tidak ada yang akan berbicara. Lalu dengan sedikit keberanian aku mengacungkan tanganku. "Ibu, bagaimana kalau Afro saja jadi penggantinya?".
"Siapa itu Afro?"
"Afrodit bu. Siswi kelas XI IPA 2. Dia kemarin juara 3 di kelas"
"Ouh.... iya ibu tahu. Yakin dia bisa?"
"Yakin bu. Kadang-kadang dia lebih pintar dari saya bu, kadang-kadang lebih bodoh juga. Hehe.... dikit-dikit pintar, dikit-dikit bodohlah bu...."
"Ya sudah panggilkan orangnya. Kita langsung berangkat ke tempat lomba"
"Biar Legi aja yang panggil bu. Dia kan ketua muridnya"
"Iya Legi silakan panggil Afro. Suruh bawa tas dan alat tulis"

Legi segera bergegas menuju kelas untuk mengajak Afro ikut lomba. Mungkin bukan mengajak, tapi memaksa. Tapi memang Afro tidak punya pilihan lain. Untung sebelumnya aku bilang agar Legi merahasiakan siapa yang mengusulkan Afro untuk ikut lomba.
"Gila kamu" bisik Nita.
"Sudah lama"
"Haha.... habisnya orang yang belum belajar, belum berlatih disuruh ikut lomba"
"Ini kejutann aja"
"Kejutan apa?"
"Hari ini dia ulang tahun"
"Jadi ini bentuk hadiah dari kamu?"
"Iya. Anggap saja demikian. Rahasia ya!"
"Kok rahasia. Kalau kamu mau jadi pacar dia, harusnya dia tahu siapa otak di balik semua ini"
"Hehe.... Aku enggak siap"
"Enggak siap apa?"
"Enggak siap kalau dia jatuh cinta sama aku"
"Itu semua hanya ilusi kamu saja Phi. Enggak mungkin dia jatuh cinta sama kamu!"
"Hehe.... gantungkanlah cita-citamu setinggi langit wahai anak muda"
"Haha.... kayak orang tua saja kamu bilang kayak gitu"


*****

Kutapakkan kakiku ke tanah, tempat dimana mobil sewaan yang aku naiki berhenti. Perjalanan dengan mobil angkot sewaan ini terasa begitu singkat. Mungkin inilah bukti dari hukum relativitas Einstein. Waktu akan terasa lama bila ditunggu, dan akan terasa cepat bila dijalani.

Kulemparkan kornea mataku selepas-lepasnya menelanjangi setiap sudut tempat olimpiade ini dilaksanakan. Sebuah gedung tua, sempit, tapi tertata rapi. Dari depan dapat aku baca tulisan 'SMA Negeri 1 Subang'. Tempat ini seperti Colloseum di Roma. Di dalamnya tercium bau keringat kekalahan dan bau air mata kemenangan. Tercampur aduk, membentuk aerosol yang sulit dipisahkan.

Aku berjalan menuju meja registrasi. Bapak penjaganya memberikan kartu tanda pengenal. Aku isi kartu tersebut dengan nama, bidang lalu nama sekolah. Kami diarahkan untuk memasuki ruangan yang telah diatur sebelumnya. Dalam momen ini, kami semuanya terpaksa berpisah. Sebelum berpisah, sempat aku berbisik ke Nita bahwa aku akan menang. Terdengar begitu optimis, walau aku tahu Nita mengabaikanku.

Sebelum memasuki ruangan, aku masukkan kartu tanda pesertaku ke dalam tempat sampah. Entah apa alasannya. Aku tidak suka saja dengan kartu tanda pengenal itu yang sepertinya asal-asalan dibuat dan tanpa fungsi.

"Baik, Bapak ingatkan sekali lagi. Jangan lupa berdoa, tulis nama kalian dan isi dengan cermat. Ingat jika jawaban yang benar dapat nilai 3 poin dan jawaban yang salah dikurangi 1 poin. Jumlah soalnya 100 buah dan dikerjakan dalam waktu 90 menit" ujar Bapak pengawas sambil membagikan lembar jawaban.

Waktu untuk mengerjakan sudah dimulai. Kulihat sekelilingku tampak sibuk dengan orang-orang yang mengerjakan. Aku tidak terlalu peduli dengan waktu, karena aku tahu soal-soalnya sangat susah. Jadi waktu tidak terlalu berpengaruh. Atau mungkin juga doa, dari 120 peserta semuanya berdoa agar mendapatkan nilai bagus. Apakah semua akan terkabul? Mungkin inilah caranya Tuhan menunjukkan kebesarannya.

Kukeluarkan air minum botol, meminumnya, menyerut pinsil, berdoa, lalu tersenyum. Kukerjakan soal dari nomor terakhir. Inilah kebiasaanku yang cukup nyeleneh. Setiap mengerjakan 2 soal pasti akan aku minum seteguk air. Begitu seterusnya sampai waktu habis. Sesekali kulihat sekeliling, semuanya tampak gusar. Terkadang juga aku mendengar ada siswa yang menyebut asma Allah, seperti Astagfirullah atau Allahuakbar. Itu semua membuat aku cekikikan. Aku tahu apa yang membuat mereka seperti itu. Ini karena soalnya memang sulitnya tingkat dewa. Mungkin juga mahasiswa dan guru banyak yang tidak bisa mengerjakan, bahkan mungkin juga alien, iblis dan malaikat bakalan kesulitan mengerjakannya.

Oh iya, bagaimana keadaan Afrodit di sana ya? Pasti dia mengalami hal yang sama. Depresi dan hampir gila karena soal-soal olimpiade. Apalagi dia belum belajar. Aku jadi ingin tertawa. Eh, tapi kenapa aku memikirkan Afrodit? Nasibku saja sekarang tidak baik. Mungkin aku benar-benar jatuh cinta padanya. Ya, mungkin....
(Bersambung)

Gambar Ilustrasi

Minggu, 18 Januari 2015

[Cerbung] Penantian 1000 Tahun Eps. 8: Himalaya

Tanggal terbit: 18 Januari 2015

Sebelumnya, Penantian 1000 Tahun Episode 7: Cumulonimbus


Ada sebuah bait prosa yang diceritakan oleh nenek moyangku secara turun-temurun. Dilanjutkan terus dari mulut ke mulut hingga sampai ke telingaku saat ini, menggetarkan gendang telingaku. Memaksanya sedikit beresonansi. Maukah kau mendengar bait prosa yang menurutku indah ini? Isinya tentang kebahagiaan. Seperti inilah isinya:

Jika ingin bahagia satu jam saja dalam hidup anda, maka tidurlah,
Jika ingin bahagia sehari saja dalam hidup anda, maka bermainlah,
Jika ingin bahagia satu tahun saja dalam hidup anda, maka berdoalah,
Tetapi jika anda ingin bahagia seumur hidup anda, maka cobalah untuk membahagiakan orang lain.

Indah bukan isinya? Tapi lebih indah lagi jika kita bisa memahami artinya. Mungkin karena itulah aku ingin menceritakan sekelumit kisahku padamu, wahai generasi muda. Dengan seadanya, sesederhana mungkin, dan semoga kau tidak mengalaminya.

Ceritaku berlanjut di Bulan Desember, akhir tahun 2006. 


Episode 8
Himalaya

"Cinta itu tidak berarti harus saling memandang. Cinta itu artinya bersama-sama melihat arah yang sama" -Antoine de Saint-Exupery

Ternyata baru aku sadari. Setelah diamati. Ternyata hukum gravitasi tidak berlaku bagi mereka yang sedang melayang karena jatuh cinta. Gumamku dalam hati. Ketika jatuh cinta, semuanya tampak menjadi benar. Pegangan tangan, berpelukan, bahkan berciuman. Seolah itu menjadi benar dan sudah haknya orang yang berpacaran.


Itulah sebabnya aku benci jatuh cinta. Mungkin sebaiknya tidak mengenal apa itu yang namanya jatuh cinta. Rasa jatuh cinta selalu mendorong kita untuk memiliki apa yang kita sukai. Lalu pada akhirnya memaksa kita untuk menjadi lalim, posesif, semena-mena dan diktator. Seperti Raja Nero di Romawi.


Namaku Afrodit, 16 tahun. Lebih muda satu tahun dari umur seharusnya anak kelas XI SMA dan aku belum pernah sekalipun pacaran. Senang? Tentu. Menyiksa? Pasti. Aku senang karena aku memiliki kebebasan yang tidak dimiliki orang-orang yang berpacaran. Lalu begitu menyiksa karena aku harus menyembunyikan perasaanku terhadap orang yang aku sukai.


"Ehmmm.... " gumaman seseorang membangunkanku dari lamunanku, ilusi kenyatan yang kubuat sendiri. Kulirik sumber suara itu berasal, ternyata itu Phi.

"Ada apa Phi?" tanyaku padanya.
"Maaf.... "
"Maaf kenapa?"
"Penghapus yang tadi aku pinjem dari kamu malah hilang".
"Hilang lagi?".
"Hehe.... ".
"Iiih... Phi. Orang yang paling nyebelin".
"Kan udah minta maaf. Kata agama juga kalau ada yang minta maaf harus dimaafkan".
"Tapi ini keseringan".
"Mungkin inilah yang namanya takdir" celetuk Phi seperti tidak merasa bersalah.
"Iya benar, takdir buruk".
"Eh, Afro, gimana kalau misalnya aku jatuh cinta sama kamu?"
"Hah? Kok Phi bilang kayak gitu?"
"Kan misalnya. Bakalan diterima enggak?"
"Heemmm.... gimana ya. Enggak mau ah"
"Enggak mau sama Phi?"
"Bukan itu.... Tapi enggak mau pacaran"
"Harusnya dengerin alasannya dulu"
"Oke, Afro pingin tahu kenapa alasannya"
"Alasannya, karena Afro itu indah"
"Kamu mencintai aku karena aku indah, atau aku indah karena kamu mencintai aku?"
"Hemmm.... pertanyaan yang sulit"
"Segitu aja enggak bisa jawab"
"Afro bakalan seneng kalau Phi jawab apa?"
"Ya harusnya Phi jawab kalau aku indah karena kamu mencintai aku"
"Ya udah, Phi ambil yang itu jawabannya"
"Ihhhh... sshhhh...." jawabku dengan kesal.
"Katanya bakalan senang"
"Tapi itu kan udah telat. Harusnya jawab itu dari awal"
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali"
"Hehe.... iya bener juga. Terus apakah kamu mencintaiku karena rupaku?"
"Iya"
"Tuh kan dasar playboy! Jika Phi mencintai Afro karena rupa Afro, bagaimana caranya Phi bisa mencintai Tuhan yang tidak berupa?"
"Kok jadi membandingkan cinta kepada manusia dan cinta kepada Tuhan. Itu dua hal yang berbeda. Dimensi cintanya juga beda. Horor sekali kalau ada seseorang yang tetap cinta terhadap wanita yang tidak berupa. Fisik atau rupa itu penting Afro...."
"Tetap aja enggak bisa gitu, yang penting itu hati!"
"Kok Afro semakin marah-marah, kan dari awal juga Phi bilang ini semua misalkan"
"Oh.... lupa" aku tersipu malu mendengar ucapan dari Phi. Benar juga, kenapa mesti aku menanggapi ucapan Phi dengan serius.


*****

Hari ini, hari terakhir di kalender pendidikan semester ganjil di kelas XI. Wali kelasku, ibu Yani masih belum tampak batang hidungnya. Aku sedikit gugup hari ini. Aku takut nilaiku tidak seperti yang aku harapkan. Tapi apa iya hasilnya akan buruk? Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin.

Di bagian belakang kelas masih diisi dengan anak-anak yang ribut membaca majalah 'ilegal' dari Phi. Isinya sepertinya tentang prediksi peringkat kelas nantinya. Beberapa siswa juga ada yang terlibat pertaruhan. Sebenarnya apa yang ada di dalam otak Phi. Buat apa dia bikin majalah sendiri dan hanya dikonsumsi oleh teman-teman kelasnya sendiri. Sungguh menghabiskan waktu dan tenaga. Tapi sepertinya dia tidak peduli akan masalah itu.

"Assalamualaikum anak-anak" suara Ibu Yani terdengar menyapa dari depan kelas.
"Wa'alaikum salam Wr. Wb." jawab anak-anak serempak.
"Mohon maaf Ibu datang terlambat. Hari ini Ibu akan membagikan rapor semester ganjil"
"Ibu tolong sebutkan peringkat kelas dulu Bu" ujar Phi dari kejauhan.
"Perlu?"
"Perlu...." Jawab beberapa anak secara serempak. Ini pasti yang jawab adalah anak-anak yang ikut taruhan peringkat kelas, gumamku dalam hati.
"Baik, peringkat pertama di raih oleh ketua kelas, Legi Apriyani". Semua orang tampak bertepuk tangan. Unik sekali, padahal Legi tidak terlalu vokal selama ini. Ternyata kamu kalah Phi.
"Peringkat kedua diraih oleh Phi Gaus Gibbs, ketiga Afrodit Flowdestia, keempat Nita Andriani dan kelima Sarah Aini"
"Hebat kamu Phi" ujar Adrian, salah satu pendukung Phi selama ini.
"Untuk selanjutnya silakan ambil rapornya di depan ya"

Sejurus kemudian beberapa siswa maju ke depan untuk mengambil rapornya masing-masing. Sepertinya "si raja nyontek" -sebutan untuk Phi- sedang sibuk menyalami teman-temannya. Apa yang harus kamu rayakan dari sebuah kemenangan yang kamu raih dengan lumpur dan dosa?

"Tenang-tenang semuanya, ini baru 30% kemampuan. Hehe..."
"Kamu perwakilan pria di sini, semester depan jangan kalah Phi" ujar Qua.
"Hehe.... Kali ini kalahnya hanya karena mengalah saja"
"Phi, Ibu lupa memberi tahu. Nilai olahraga kamu kosong. Kamu diharuskan menghadap guru olahraga" hardik ibu Yani dari depan kelas.
"Kosong bu?"
"Iya katanya kamu enggak masuk sekali pelajarannya pas tes. Nanti coba hubungi ya"
"Oh iya bu. Hehe...."

Apa? Di mendapat peringkat dua padahal nilainya kosong satu? Ini benar-benar hari terburuk dalam hidupku. Puncak kekesalan, sangat tinggi puncaknya. Oh bukan, ini bukan hanya puncak. Ini adalah suatu wilayah yang terdiri dari beberapa puncak kekesalan. Ini adalah Himalaya.
(Bersambung)
Gambar Ilustrasi

Minggu, 04 Januari 2015

[Cerbung] Penantian 1000 Tahun Eps. 7: Cumulonimbus

Tanggal terbit: 4 Januari 2015

Sebelumnya, Penantian 1000 Tahun Episode 6: Amoeba


Pernahkah kita pikirkan tentang satu masalah besar; dimana orang-orang terlalu banyak berbicara, terlalu lama bermimpi, dan terlalu sering berencana, tetapi terlalu sedikit orang yang berani bertindak.


Kita melintasi jalan yang sama, dengan kendaraan yang berbeda. Tetapi kita mengeluhkan kemacetan yang sama.
Kita tinggal di kompleks yang sama, di rumah yang berbeda, dengan jangka waktu yang lama. Tetapi kita mengeluhkan banjir yang sama.
Kita mendapatkan pendidikan dengan sistem yang sama, di sekolah yang berbeda. Tetapi kita mengeluhkan sifat guru yang sama.

Kita mempunyai masalah yang sama, membenci hal yang sama. Tapi apakah ada dari kita yang berani untuk bertindak? Kita ingin perubahan, tapi kita selalu berharap orang lainlah yang melakukan perubahan itu.

Siapa yang kita harapkan? Pemerintah? Tokoh masyarakat? Orang baik? Orang yang bisa dimanfaatkan? atau superhero?

Mungkin inilah alasan kenapa film superhero banyak yang menonton. Karena kita terlalu berharap ada orang yang bisa melakukan perubahan dan mengentaskan semua masalah kita. Kita salah, kenapa harus berharap pada orang lain, jika kita sendiri sebenarnya bisa melakukannya.

Ceritaku ini dimulai pada bulan Juli, 8 tahun yang lalu. Musim panas tahun 2006.


Episode 7
Cumulonimbus

"Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku bahwa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai, tetapi juga orang yang dicintai" -Khalil Gibran

Aku berjalan memasuki tempat para dewa bersemayam. Tempat dimana orang-orang menyebutnya sebagai ruang guru. Disebut dewa karena mereka tak pernah salah, atau mungkin tidak ingin dinilai salah. Bahkan siswa yang tidak mempunyai salah apapun juga bisa ketakutan jika memasuki ruang ini. Saking benarnya para dewa itu.


Kadang ketakutan muncul lebih dahulu dibandingkan sebuah kesalahan. begitulah perasaaanku saat ini. Aku mengikuti jejak kaki Ibu Erna. Apakah seorang siswa salah jika menggantikan gurunya mengajar? tanyaku dalam hati. Bukankah salah dia sendiri mengapa tidak masuk kelas?

Ruang ini berbentuk persegi empat dengan ukuran kira-kira 12 x 6 m. Disekat ke dalam tiga bagian, ruang kepala sekolah, ruang guru dan ruang tata usaha (TU). Di dalamnya terdapat banyak meja untuk menampung hajat duduk para dewa. Buku-buku juga menumpuk di atas mejanya seakan berbicara kepadaku ingin segera dirapikan. Disinilah tempat 54 dewa bersemayam. Aku benci tempat ini, gumamku dalam hati. Bagaimana siswa bisa senang belajar di sekolah, bisa betah di sekolah, jika di dalamnya saja ada tempat sehoror ini.

"Silakan duduk!" perintah Bu Erna kepadaku dengan nada pelan. Mungkin ini sebuah tipuan. Aku tak terlalu terkesan dengan nada bicaranya. Percuma berusaha menutupi kemarahan dengan nada bicara tapi bahasa tubuh berkata lain.
"Baik bu"
"Kamu tahu apa salahmu?"
Aku menatap wajahnya. Sulit dipercaya, aku bisa berada dalam kondisi sesulit ini. Mungkin ini saat yang tepat untuk apa adanya, berbicara secara sederhana. Mumpung ada guru lain juga. Tidak mungkin jika dia berani memukulku. Bisa-bisa kepala sekolah ikut turun gunung. "Tadi saya hanya mencoba mengajarkan teman-teman yang lain pelajaran Fisika. Menurut saya itu tidaklah salah. Mungkin kesalahan saya adalah mempunyai guru yang arogan seperti ibu"
Brak.... suara meja dihantam dengan keras oleh telapak tangan Bu Erna. Seketika ruangan guru menjadi hening. Beberapa guru yang sedang asyik mengobrol ikut teralihkan perhatiannya. Bahkan lalat yang sedang mencari penghidupan pun ikut tertegun mendengar suara gebrakan tadi. "Apa kamu bilang? Kamu merasa sebagai murid pintar? Sudah merasa paling pintar?" tanya Bu Erna yang sebenarnya tak mengharapkan jawaban. "Tindakan kamu tadi sudah mengganggu siswa-siswa yang sedang menegerjakan tugas yang telah diberikan" sambung Bu Erna.
"Bu, maaf. Apakah ibu yakin jika mereka benar-benar mengerjakan tugas dari ibu? Bagaimana kita bisa mengerjakan jika kita tidak mengerti. Harusnya ibu bertanya kepada diri sendiri, kenapa nilai siswa selalu kecil jika ulangan. Jangan-jangan karena ibu tidak mengajar kami dengan baik" aku berusaha berbicara dengan tenang untuk menunjukkan kapasitasku. Aku tahu ini akan percuma, dan Bu Erna akan terus melakukan pembenaran.
"Kalau kamu enggak suka dengan cara ibu. Ibu enggak akan masuk kelas kalian lagi!"

Aku terdiam mendengar ucapan itu. Jangan-jangan semua siswa di kelas akan terkena dampaknya. Ini salahku, akulah yang harus bertanggung jawab. Tapi aku tak tahu harus berkata apalagi. Dulu waktu SMP aku pernah mengalami kejadian ini. Trauma. Bedanya dulu orang lain yang melakukan kesalahan dan akulah yang mewakili teman-teman untuk meminta maaf.

"Bu, maaf jika saya dirasa salah. Tapi setahu saya tugas guru adalah untuk mengajar. Bukan untuk memberi tugas. Tugasnya untuk membimbing. Bukan untuk ditakuti. Tugasnya untuk memberi contoh. Bukan untuk mengancam" aku segera bergegas meninggalkan ruang guru. Kulihat ketua murid yang ditemani  Sarah berjalan tergesa-gesa menuju ruang kelas. Mungkin mereka menguping pembicaraanku dengan Bu Erna tadi. Tapi aku sudah tak peduli. Paling nanti dimusuhi oleh teman-teman sekelas.

Kuurungkan niatku untuk segera memasuki kelas. Kubiarkan gosip itu menyebar di seantero ruangan di kelas. Biar semua orang tahu. Mungkin tidak hanya manusia, kubiarkan hewan, tumbuhan dan mahluk-mahluk gaib membicarakanku. Aku sudah tak peduli lagi. Bahkan jika seluruh orang di sekolah ini tahu aku pun tak akan acuh.

Aku benci dengan hubungan interaksi sosial ini. Terlalu banyak topeng di dalamnya. Orang-orang berbicara tentang perbuatan baik, saling menolong, dan tentang pentingnya menjalankan perintah beragama. Tetapi ketika kesalahan itu dilakukan secara berjamaah. Semua orang mulai kehilangan logikanya. Semua orang tiba-tiba menjadi buta, tuli, lumpuh dan mati.

Sama seperti waktu aku kelas X. Waktu itu aku melaporkan kelakuan teman-teman yang mengcopy paste file ujian komputer orang lain, yang kemudian dirubah namanya dan diakui sebagai miliknya sendiri. Waktu itu aku dimusuhi oleh teman sekelas. Bahkan teman dekatku tidak berani mendekatiku karena takut akan dampaknya.

Parahnya lagi ketika pulang sekolah aku hampir dikeroyok oleh teman-teman pria. Ya, mereka yang kadang aku berikan contekan, aku bantu mempelajari materi yang tidak mengerti malah berbalik mau menghabisi aku. Apakah ada yang membela? Tidak! Interaksi sosial merupakan hal terumit bagi jiwaku. Aku tak percaya akan teori Aristoteles yang mengatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial. Sepertinya tidak ada ruang untuk orang seperti aku hidup di dunia ini.

Tak terasa ayunan langkah kakiku membawaku pada deretan warung-warung yang berbaris rapi. Ya, kantin sekolah. Aku duduk dibangkunya. Cukup sepi. Tapi ada beberapa siswa yang masih saja jajan di sini. Mungkin karena sedang tidak ada guru, atau mungkin pada dasarnya mereka ini nakal. Aku duduk di salah satu kantin langgananku.

"Kenapa murung gitu Phi?" tanya Bibi Warung kepadaku.
"Ada masalah Bi"
"Setiap orang pasti punya masalah. Mempunyai masalah itu bukanlah sebuah kesalahan, yang salah itu kalau murung ketika terkena masalah"
"Hehe.... ini malah ketiga-tiganya. Punya masalah karena kesalahan sehingga murung Bi"
"Memang masalah apa?"
"...." aku diam tak berkata, malu untuk mengatakan.
"Masalah cinta? Bukannya Dek Phi punya pacar banyak?"
"Bukan masalah itu. Ini ada masalah sama Bu Erna" jawabku sambil mengalihkan pandangan.
"Masalah apa?" tanya Bibi warung sambil mengkerutkan keningnya.
"Bu Erna kan ceritanya tidak masuk kelas. Terus memberi tugas ke anak-anak. Nah, saya berinisiatif menggantikan peran Ibu dalam mengajar. Eh, malah dimarahin karena dianggap mengganggu siswa lain yang sedang mengerjakan tugas"
"Lalawora tudana. Bu Erna itu kalau enggak salah sedang terbelit masalah keluarga. Jadi wajar kalau mungkin banyak pikiran sehingga tidak masuk kelas"
"Yeeehhh.... Bibi malah ikut menyalahkan. Emang Bu Erna punya masalah apa?"
"Hehe.... Bukan menyalahkan. Kalau yang Bibi tahu sih beliau mau cerai dengan suaminya. Jadi mungkin pusing memikirkan masalah itu"
"Serius Bi?"
"Ngapain Bibi bohong? Yang Bibi dengar sih begitu infonya. Kantin kan tempat sumber informasi"
"Hehe.... bener juga. Bibi kan ratu gosip"
"Husss.... Bibi gini-gini juga berperan sebagai intel di sekolahan. Sering ditanya informasi penting baik oleh siswa maupun oleh guru"
"Hehe.... iya deh. Maaf. Terima kasih ya Bi atas informasinya. Phi mau ke kelas dulu"

Aku segera bergegas menuju kelas. Waktu itu perasaanku berkecamuk. Antara iba, kesal dan benci. Entah mana yang benar, dan mana yang harus aku tunjukkan sebagai bahasa tubuh. Seharusnya, jika memang benar Ibu Erna sedang ada masalah maka masalah itu jangan dibawa ke kelas. Dia harus profesional. Tapi mungkin itulah sifat manusiawinya manusia.

Aku melihat pintu kelas tertutup. Mungkinkah ada guru yang masuk? Kudorong pintunya, dan ternyata tidak ada guru. Semua mata teman-teman tertuju padaku. Sudah kukira ini akan terjadi. Mungkin ini waktu yang tepat untuk dipukuli teman-teman sekelas.

"Phi digimanain aja sama Bu Erna?" tanya Ardi padaku.
"Hehe.... cuma ditanya hobi sama jenis kelamin"
"Haha.... dikiranya mau ngasih kado" celetuk Qua.
"Kami sudah tahu kok apa yang terjadi" ujar Nita. "Tadi Sarah dan ketua murid, Aneu, cerita semuanya"
"Maaf...." jawabku sambil tertunduk. "Aku akan berusaha bertanggung jawab"
"Hihi.... enggak usah dipikirkan. Kami enggak menyalahkan kamu kok. Enggak apa-apa kalau nanti nilai fisikanya kosong di rapor. Paling kita enggak naik kelas semuanya. Tapi mungkin enggak sih? Bisa jadi kasus se-Indonesia kan. Jadi kita tenang saja"
"Hehe.... terima kasih. Sekali lagi maaf sudah menyusahkan"
"Tenang saja. Malah Phi sudah memberikan kado untuk kita semua. Sekarang tidak ada lagi guru fisika dan tugas-tugasnya. Haha.... pasti menyenangkan!" Jawab Aneu.
"Sekali lagi, terima kasih semuanya...." Tidak terasa saat itu pun air mataku terjatuh.
(Bersambung)
Gambar Ilustrasi

Minggu, 28 Desember 2014

[Cerbung] Penantian 1000 Tahun Eps. 6: Amoeba

Tanggal terbit:  28 Desember 2014

Sebelumnya, Penantian 1000 Tahun Episode 5: Kamu Enggak Peka!


Apakah kamu percaya pada takdir Tuhan?

Kita sudah terlalu sering berbicara masalah takdir Tuhan. Menggosipkannya di perkantoran sampai di warung kopi, di masa lalu maupun di masa yang akan datang, sendirian maupun bersama-sama, kita mempercayai takdir Tuhan, tetapi tidak pernah sekalipun mengimaninya.

Percaya artinya meyakini dengan hati, sedangkan mengimani cakupannya lebih luas lagi, lebih rumit, dan lebih mendalam. Iman menyangkut hati, ucapan, dan lebih penting lagi pun tindakan yang semuanya seirama. Tanpa terdistorsi.

Selama ini kebanyakan orang terlalu banyak salah menafsirkan. Melulu berkata, manusia merencanakan dan Tuhan yang menentukan. Maka jangan aneh jika terjadi kegagalan, lagi-lagi Sang Tuhan yang jadi kambing hitamnya (karena dia yang menentukan). Padahal sebenarnya apa yang selama ini terjadi adalah, Tuhan yang merencanakan dan manusialah yang menentukan.

Banyak orang hanya sebatas percaya takdir Tuhan. Misalnya percaya bahwa jodoh di tangan Tuhan. Tetapi ketika orang tua kita tidak setuju, ketika kita disakiti, atau diselingkuhi oleh pacar kita, kita masih setia dengannya. Padahal itu semua pertanda dari Tuhan, bahwa orang itu bukan jodoh kita. Karena tidak mungkin Tuhan berbicara secara lisan pada kita. Itu artinya kita melawan takdir Tuhan.

Ceritaku ini dimulai pada bulan Juli, 8 tahun yang lalu. Musim panas tahun 2006.


Episode 6
Amoeba

"Aku memperhatikan bahwa orang-orang akan melupakan apa yang kamu katakan, orang-orang akan melupakan apa yang kamu lakukan, tetapi orang-orang tidak akan melupakan bagaimana perasaan mereka terhadapmu" -Maya Angelou

"Menurut kamu yang itu berapa nilainya?" tanya Adrian sambil terus memperhatikan wanita yang melintas di depannya.
"Menurutku wajahnya sih 6, sedangkan untuk body 7" jawab Phi.
"Selera kamu memang rendah, menurutku wajah 4, body 6" sanggah Qua kepada Phi.
"Bukan selera aku yang rendah. Masa yang seleranya rendah sampai usia 17 tahun sudah punya 6 mantan" jawab Phi sebagai pembenaran.
"Malah kalau yang sering pacaran bisa saja artinya seleranya rendahan. Jadi sama siapa saja mau. Contoh aku, limited edition, enggak ada yang memiliki" timpal Qua tampak tak mau mengalah.
"Haha.... sudah jangan bertengkar. Ini kan hanya penilaian. Bebas orang mau menilai apa tentang pacar kita. Pacaran itu tentang urusan aku dan kamu, bukan mereka" kata Adrian coba menengahi.
"Ya sudah.... sudah.... kalau cewek yang itu berapa nilainya?" tanya Phi pada yang lainnya.

Mereka tampak tidak ada kerjaan sekali. Itulah kelakuan Phi dan teman-temannya. Entah untuk kesekian kali mereka melakukan itu di depan kantin, waktu jam istirahat. Menilai wanita, lalu membanding-bandingkannya, terlihat seperti juri. Seolah wanita itu adalah objek seni. Seandainya mereka tahu jika perbandingan hanya akan membawa manusia ke dalam jurang kompetisi tiada akhir. Sebenarnya apakah benar yang mereka nilai itu adalah fisik wanita? Apakah mereka tidak sadar bahwa mereka juga sedang menilai kemampuan Tuhan yang telah menciptakan wanita?

"Hayo.... melamun aja!" sapa Nita padaku. "Sedang memperhatikan apa?"
"Afro sedang menonton acara live tentang kisah hidup manusia" jawabku singkat.
"Hehe.... mereka memang seperti itu. Apalagi Phi, tidak pernah berubah dari kelas X. Dia selalu menjadi bintang, tapi bukan bintang yang bersinar terang, bercahaya, tapi bukan putih"
"Bercahaya tapi tidak putih? Aneh, haha.... sulit dimengerti"
"Cahaya Phi itu gelap. Bahkan mampu menyerap cahaya putih dari bintang-bintang lain"
"Puitis banget nih Nita. Afro enggak ngerti jadinya"
"Hihi.... maksudnya meskipun di sekeliling dia banyak orang yang lebih baik, tetapi mata semua orang pasti tertuju padanya. Soalnya dia unik. Membuat orang-orang melupakan yang baik hanya untuk dia"
"Nita pernah jadi pacar Phi ya?"
"Lho? Afro tahu darimana?"
"Itu bukan rahasia lagi. Di ruang guru juga Phi selalu menduduki gosip paling hot. Bisa karena prestasinya, bisa karena masalah yang ditimbulkan olehnya"
"Haha.... jadi sampai segitunya? Dia memang aneh. Pernah suatu saat di kelas X dia memimpin demo karena temannya mau putus sekolah"
"Pernah ada demo di sekolah ini. Bukannya itu dilarang? Afro baru tahu" tanyaku dengan heran.
"Iya pernah. Wajar kalau Afro tidak tahu. Demonya saja cuma berempat sama dia"
"Berani ya!"
"Batas antara nekat, berani dan bodoh itu tipis" tandas Nita kepadaku


*****

Siang ini, dua jam terakhir di kelas, lagi-lagi Ibu Erna tidak masuk ke kelas. Kerjaannya hanya memberikan tugas untuk dikerjakan di LKS. Bingung, ingin ngobrol dengan yang lain tapi aku tidak dekat dengan siapapun kecuali Nita dan Sarah. Kubolak-balik LKS pun percuma. Tidak ada yang bisa dikerjakan. Bagimana kamu bisa membaca jika kamu belum diajarkan caranya untuk membaca? Rumus-rumus ini tampak seperti huruf hieroglyph bagiku.

"Perhatian semuanya!" teriak Phi di depan kelas. Mau apalagi dia? Pikirku dalam hati. "Hari ini untuk pelajaran Fisika biar aku yang jadi gurunya" tegas Phi di depan kelas tampak penuh percaya diri.
"Haha.... mau ngajarin bagaimana caranya mengintip celana dalam wanita Phi?" tanya Adrian dari belakang.
"Bukan, ini tentang Fisika!"
"Iya jelasin supaya kami bisa mengerti Phi" ujar salah seorang siswa.

Memang pembuat onar. Apa sih yang dia inginkan. Selalu menjadi pusat perhatian, guru selalu membicarakannya, bahkan ada pernyataan kalau kamu ingin terkenal di depan guru tinggal ikut saja bergaul dengannya. Andai semua orang tahu betapa buruknya Phi. Meskipun harus aku akui, sikapnya yang selalu apa adanya memang sangat menarik.

"Kita sekarang akan mempelajari mengenai hukum-hukum Newton. Tentang hukum alam" buka Phi dalam pembelajaran pertamanya.
"Kenapa kita harus mempelajari hukum alam Phi?" tanya Kiki padanya.
"Karena supaya kita dapat memanfaatkan alam. Hukum alam itu sebenarnya seperti manual book mesin cuci. Kita memang tidak wajib membacanya, tetapi kalau kita ingin mengoperasikan mesin cuci itu dengan efektif dan efisien, maka manual book harus dibaca"
"Lanjutkan Phi!" ujar Qua dari kejauhan dan sepertinya tampak memperhatikan. Aku punya firasat bahwa ini tidak akan berlangsung dengan baik.
"Kita mulai dulu dari hukum kekekalan energi. Masih ingat bagaimana bunyi hukum kekekalan energi?" tanya Phi pada teman-teman sekelas.
"Energi tidak dapat diciptakan dan energi tidak dapat dimusnahkan" jawabku secara spontan. Aneh, kenapa aku malah jadi ikut-ikutan.
"Hampir benar Afrodit! Lebih tepatnya lagi energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat diubah ke dalam bentuk energi yang lain"
"Aku kurang mengerti Phi, bisa diberikan contoh agar lebih mudah?" tanya Qua.
"Misalnya pada kipas angin yang menyala. Berarti terdapat energi kinetik yang berasal dari energi listrik, yang misalnya bersumber dari PLTA, itu berarti asalnya dari energi potensial air, energi potensial air berasal dari energi kinetik atom-atom dalam air dan seterusnya tanpa ada henti dan memiliki siklus yang rumit. Biar lebih gampang maka aku akan memisalkannya dengan cinta. Cinta itu adalah salah satu bentuk energi. Cinta itu tidak bisa diciptakan, tidak bisa dimusnahkan, hanya bisa diubah dalam bentuk cinta yang lain. Misalnya dalam bentuk rasa perhatian, pengorbanan, peduli, melindungi, dll"
"Menarik, lanjutkan playboy!" ujar siswa yang lain.
"Jadi intinya bagi para jomblo atau teman-teman yang pernah disakitin gebetannya. Tenang saja, meski dikhianati, meski dicurangi, meski ditipu, meski tak dibalas, meski tak diacuhkan, meski dihina: Cinta yang kamu beri kepada seseorang ‪‎pasti‬ kembali. Baik melalui orang yang kamu beri cinta, maupun melalui orang lain. Itu pasti!"

Tiba-tiba semua orang di dalam kelas bertepuk tangan. Tak terkecuali aku. Terpaksa, dan memang harus akui pemaparannya memang menarik. Menghubungkan cinta dengan sains, dengan hukum kekekalan energi. Tapi sebenarnya argumen Phi ini memiliki kelemahan. "Lalu bagaimana dengan cinta pertama Phi? Darimana itu asalnya?"

"Pertanyaan bagus Afro. Cinta pertama kita sebenarnya berasal dari cinta orang tua yang berubah bentuk. lalu cinta orang tua kita berasal dari kakek-nenek kita, lalu nenek moyang kita yang lain, dan akhirnya, awal mula cinta itu adalah Tuhan"

Aku terdiam. Benar apa yang dikatakan Phi. Bahkan mungkin anak-anak remaja mesjid pun tidak mampu mengutarakan apa yang dikatakannya. Penjelasannya logis, tidak mengada-ngada. Aku kalah.

"Jika semua sudah mengerti, maka saya akan membahas hukum I Newton yang berbunyi bahwa benda diam akan tetap diam, dan benda bergerak akan tetap bergerak. Rumusnya F = 0" Phi menuliskan rumus tersebut di papan tulis. "Contohnya jika kita melempar bola di ruang angkasa. Maka bola tersebut akan terus melaju. Benda bergerak akan tetap bergerak"
"Bukankah kalau kita melempar bola di lantai bola tersebut akan berhenti?" tanya Sarah dengan serius terhadap Phi.
"Itu karena terdapat gaya gesek, makanya bolanya berhenti. Sedangkan di luar angkasa tidak ada gaya gesek" Phi mengalihkan pandangannya ke sekitar lalu melanjutkan penjelasannya. "Itulah alasan kenapa orang susah berpindah dari zona nyamannya. Orang galau susah move on, orang patah hati susah untuk bahagia, orang panik susah untuk tenang. Itu karena sesuai dengan hukum I Newton ini"

Kali ini semua orang terdiam. Tidak bertepuk tangan seperti tadi. Mungkin apa yang dijelaskan Phi terlalu rumit, atau bisa juga karena dia benar.

Baru saja kami berusaha memahami apa yang diakatakan Phi, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berdehem. Ternyata itu Ibu Erna. Beliau memandang Phi dengan sangat tajam. Siswa yang lain terlihat diam. Sepertinya dia marah besar.

"Phi, ikut ibu sekarang!" perintah Ibu Erna kepada Phi.

Phi berjalan mengikuti langkah kaki Ibu Erna menuju tempat para dewa, ruang guru. Sedangkan kami, teman-temannya, seperti terpasung tidak berdaya. Semoga kau baik-baik di sana Phi, gumamku dalam hati.

Segera kubuka buku diaryku. Lalu kutulis tentang hari ini. Kubuatkan puisi untuk Phi:
Amoeba
Aku
Aku adalah aku
Aku bukan kamu
Aku bukan kekasihmu, bukan saudaramu, apalagi guru kelasku

Kamu
Kamu adalah kamu
Kamu bukanlah aku
Kamu bukan kekasihku, bukan saudaramu, apalagi guru ngajiku

Tapi aku tahu siapa kamu,
Kamu adalah amoeba!
Hewan bersel satu, bermahzab eukariota
Tidak terlihat, kecuali dengan bantuan mikroskop, atau dengan mata hati

Kamu memang amoeba
Terus membelah diri, berkembang begitu cepat
Menyebarkan ideologimu,
Mempengaruhi tetapi ditolak, dibenci tetapi benar
(Bersambung)
Gambar Ilustrasi

Minggu, 07 Desember 2014

[Cerbung] Penantian 1000 Tahun Eps. 5: Kamu Enggak Peka

Tanggal terbit:  7 Desember 2014

Sebelumnya, Penantian 1000 Tahun Episode 4: Angka dari Tuhan


Ada yang salah dengan dunia ini, dunia yang kita tempati ini. Di pagi hari kebanyakan dari kita berharap agar hari ini menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Malah terkadang kita terlalu berharap, beberapa sampai overdosis. Sibuk update status, mengucapkan selamat pagi, tampak bersemangat, dan berdoa.


Sedangkan setelah itu, pada malam hari. Orang-orang menjadi sibuk mengeluh, mencaci bahkan mengutuk nasibnya sendiri. Ini bukan opini, ini fakta. Silakan saja baca hasil penelitian para ilmuwan yang dimuat di media massa itu.

Aneh! Apa yang sebenarnya telah terjadi pada kehidupan kita sehingga harus berlaku negatif seperti itu: Apakah cara berdoa kita yang salah? Cara kita menjalani hidup ini yang salah? Atau dunia ini yang sebetulnya bermasalah?

Mungkin bukan karena itu semua sehingga malam kita menjadi tidak tentram. Bukan dunia ini yang bermasalah. Melainkan sudut pandang kita. Sudut pandang kitalah yang bermasalah dalam memandang dunia!

Ceritaku ini dimulai pada bulan Juli, 8 tahun yang lalu. Musim panas tahun 2006.


Episode 5
Kamu Enggak Peka!

"Masalah cinta tidak disebabkan oleh kamu atau aku, melainkan oleh kita" -Ronald Frank

"Maaf. Kita udahan aja ya Mikhayla"
"Phi sudah bosen sama Ayla?"
"Mau jujur atau bohong?"
"Semua wanita juga pasti berharap mendapatkan kejujuran Phi"
"Bahkan kalau jujur itu menyakitkan?"
"Lebih baik seperti itu Phi"
"Sama saja bukan, mau bohong atau jujur, kesimpulannya pasti. Hubungan kita sampai di sini saja"
"Betul Phi. Ayla cuma ingin tahu saja alasannya. Phi juga harus tahu, apapun alasannya semua itu pasti menyakitkan"
"Padahal sudah disusun kata-kata bohongnya. Phi kira kalau diperlembut bakal sedikit meringankan. Hehe...."
"Kita lagi serius!" mimik muka Mikhayla tiba-tiba berubah. Padahal aku sudah mempersiapkan alasan yang bagus seperti: kamu terlalu baik bagiku, aku mau fokus belajar, atau aku dilarang pacaran sama orang tuaku. Tetapi sepertinya percuma.
"Heemm.... Phi udah enggak ada perasaan lagi sama Ayla...." jawabku dengan perlahan.
"...." Mikhayla hanya terdiam, tampak matanya mulai berkaca-kaca.
"Enggak tahu mengapa, tiba-tiba menghilang. Hati yang dulu cair telah menguap menjadi asap"
"Apakah tidak akan terkondensasi kembali?"
"Sudah dicoba, tapi gagal"
"Ayla bisa terima. Kalau dipaksakan juga enggak akan baik. Semoga itu yang terbaik untuk kita. Semoga Phi menemukan wanita yang lebih baik lagi"
"Sekali lagi maaf" jawabku sambil tertunduk.

Mikhayla segera beranjak dari kursi, mengambil tas lalu pergi ke luar. Di kelas ini memang cuma kami berdua. Sepulang sekolah aku mengajaknya untuk bertemu untuk membicarakan ini semua. Membingungkan memang, apakah hanya aku yang pernah tiba-tiba kehilangan rasa cinta pada pacar?

Aku masih tertunduk, lega sebenarnya. Tapi ada juga sedikit ruang untuk perasaan bersalah. Kutatap kursi tempat Mikhayla tadi duduk. Wujudnya sudah pergi, tapi kesedihannya masih tertinggal. Terlihat ada tiga buah tetesan air. Sepertinya berasal dari air matanya. Ya, kadang kita harus menangis, agar kita dapat lebih jernih lagi dalam memandang dunia, gumamku dalam hati.

Mungkin inilah wujud cinta. Cinta bukan matematika yang bisa dihitung, bukan ilmu pemerintahan yang diatur oleh pasal-pasal, bukan ilmu ekonomi yang memperhitungkan untung dan rugi, dan juga bukan ilmu agama yang hanya mempermasalahkan surga dan neraka. Cinta sulit dijabarkan, datang tak diundang, pergi tak diantar. Cinta itu bilangan imajiner


*****

Kamis pagi yang indah. Aku berjalan memasuki kelas tercinta dengan riang. Seolah telah lupa terhadap apa yang terjadi kemarin. Matahari pagi bersinar menyinari. Mengingatkan aku akan cinta. Cinta bagai matahari. Memberi tanpa mengharap kembali, tidak memilih siapa yang disinari.

"Phi sini deh" panggil Nita sambil setengah berbisik padaku.
"Eh emang hari ini ada PR?"
"Enak aja. Disangkanya aku mau nyontek"
"Ya terus ada apa?"
"Denger-denger kamu putus sama Mikhayla?"

"Hehe.... Mitos itu" jawabku sekenanya. Gosip itu memang ibarat kentut, cepat sekali menyebar, tidak terlihat, tetapi dapat kita rasakan.
"Serius, jawab!"
"Hehe.... iya sepertinya demikian. Aku mau ke sana dulu ya. Adrian sudah nungguin"
"Diem dulu. Adrian sakit, enggak masuk sekolah. Udah jangan ngeles mulu"
"Iya..... bener....."
"Ih, kamu jahat ya. Dulu mutusin aku karena bilang enggak enak hati menduakan Mikhayla. Sekarang kamu mutusin dia juga. Kebangetan!"
"Aku mutusin dia sambil minta maaf kok...."
"Maaf itu tidak akan merubah keadaan! Hatinya sudah hancur. Kalau maaf ibarat lem yang dapat menyatukan hati yang hancur tersebut, maka hatinya tidak akan pernah utuh seperti semula, akan ada bekas pecahannya"
"Kamu berlebihan deh. Itu buktinya kamu baik-baik saja putus sama aku"
"Tidak semua cewek seperti aku. Mikhayla sensitif"
"Aku minta maaf juga deh sama kamu"
"Aku enggak percaya, kamu masuk kelas aja masih cengar-cengir gitu. Ingat sama hukum karma ya!"
"Itu topeng Nita.... aku juga sebenarnya sedih"

Nita lalu terdiam. sepertinya marah. Aneh juga, padahal Nita dan Mikhayla bukanlah saudara. Kenapa harus serepot ini? Sejurus kemudian aku melanjutkan langkahku, berlalu mendiamkan Nita yang masih tampak muram.


*****

Bel istirahat telah berkumandang. Suaranya tidak cukup menggembirakan, terdengar parau. Mungkin tidak ada yang salah dengan belnya. Melainkan hatikulah yang sedang bermasalah. Aku duduk sendiri di kantin. Dari kejauhan Qua terlihat berlari-lari kecil menghampiri. Keringatnya mengucur dengan deras membasahi baju seragam putih-abu miliknya. Qua memang mengidap penyakit hiperdrosis, yaitu penyakit yang disebabkan kelebihan sekresi hormon tiroid dalam tubuh. Akibat kelebihan hormon ini, proses pembakaran lemak dalam tubuhnya berlangsung cepat, sehingga Qua menjadi mudah sekali berkeringat.

"Kamu ninggalin aku ya"
"Habisnya kamu lama nyonteknya. Udah dikumpulin yang aku juga kan?"
"Iya udah. Beres. Kamu udah lihat pengumuman belum?"
"Pengumuman apa? Sepertinya belum"
"Kamu terpilih untuk mewakili sekolah dalam lomba olimpiade sains"
"Bidang apa?"
"Biologi kalau enggak salah"
"Sama kaya waktu kelas X ternyata"
"Dulu menang?"
"Dulu peringkat 7 di Kabupaten"
"Enggak lolos ke provinsi?"
"Enggak, yang lolos ke provinsi itu peringkat satu sampai tiga"
"Tahun ini berarti bisa lebih baik lagi"
"Susah. Aku terkutuk sepertinya. Sejak SD sudah sering ikut lomba dan tidak pernah tembus ke tingkat provinsi"
"Kamu kurang berusaha. Tapi gimana ya caranya pintar kayak kamu?"
"Ambisi saja"
"Ambisi karena apa?"
"Aku kan enggak punya kelebihan apapun. Coba pikirkan lagi, ganteng enggak, kayak enggak, gaul enggak, baik enggak"
"Terus?"
"Aku pikir tujuan manusia hidup hanya satu, yaitu mempertahankan eksistensinya. Manusia selalu ingin diakui keberadaannya. Baik oleh keluarga, atau lingkungan. Oleh karena itu aku harus punya kelebihan agar dibanggakan. Satu-satunya yang bisa aku usahakan adalah dengan menjadi pintar"
"Oh...."
"Kamu sebenarnya lebih hebat lagi Qua" pujiku padanya.
"Hebat kenapa?" tanya dia dengan heran.
"Kamu menurutku hanya punya satu kekurangan dalam hidup ini?"
"Apa memangnya?"
"Kekurangan kamu itu hanya satu, yaitu tidak punya kelebihan apapun. Haha...."
"Haha.... kurang ajar"
"Eh udah bel masuk, sekarang ulangan harian fisika ya?" tanyaku pada Qua sambil mengingatkan.
"Nanti nyontek ya"
"Hehe.... seperti biasa. Rp 500 untuk soal PG dan Rp 1.000 untuk soal essay"
"Gampang"


Aku dan Qua memasuki kelas. Qua sekarang duduk di sampingku. Menggantikan posisi Adrian yang tidak masuk sekolah karena sakit. Kami menyiapkan alat tulis, dan memasukkan LKS dan buku pelajaran Fisika ke dalam laci. Aku sedikit menjelaskan mekanisme menyontek teknik terbaruku pada Qua. Dia sepertinya cukup paham dengan apa yang aku jelaskan. Aku sudah memprediksi ulangan harian kali ini akan berlangsung sangat sulit. Jadi perlu kerjasama yang apik antara aku dan Qua.

Delapan menit tujuh detik kemudian Ibu Erna memasuki kelas. Dengan sigap dia membagikan kertas soal. Soal yang tertera hanya ada lima butir. Sambil menyiapkan lembar jawaban aku berbisik pada Qua, "Ada kabar baik dan buruk nih"
"Apa kabarnya?"
"Mau kabar baik dulu atau kabar buruk dulu?"
"Kabar baik dulu saja"
"Soalnya cuma lima buah"
"Oh, aku belum lihat. Masih menyiapkan lembar jawaban. Terus kabar buruknya apa?"
"Kabar buruknya ini soal essay semua"
"Terus kamu enggak bisa jawab?"
"Bukan itu masalahnya. Aku takut kamu enggak bisa bayar"
"Haha.... kurang ajar. Uang aku punya"
"Sip"

Kutulis angka satu pada lembar jawaban yang telah aku siapkan, lalu diteruskan dengan menuliskan diketahui, ditanya dan dijawab. Aku lalu mengalihkan perhatian pada lembar soal. Sial, ini soalnya susah, gumamku dalam hati.

Aku lalu melanjutkan menulis angka dua pada lembar jawaban. Lalu kembali kubaca soal. Kali ini aku mulai berkeringat, soal ini ternyata susah juga. Lalu kulanjutkan membaca soal nomor tiga, kali ini mendadak kepalaku jadi pusing. Kulanjutkan membaca soal nomor empat. Kali ini aku merasa menjadi meriang. Lalu aku beranikan membaca soal terakhir, soal nomor lima. Malaikat juga bisa terkena stroke kalau dikasih soal ini, gumamku dalam hati. Seenak perutnya banget ini guru. Masuk ke kelas jarang, waktu ulangan soalnya susah sekali.

Dengan jiwa kepemimpinan tinggi aku mengintruksikan Qua untuk membuka LKS yang halamannya telah aku tentukan. Lalu aku menyuruhnya mencatat rumus yang dibacanya. Sebenarnya soal-soal itu menjadi mudah ketika kita sudah hapal rumusnya. Aku yang mensintesis soal dan Qua yang mencari contekan rumusnya. Kerjasama yang kompak, rapih dan keren. Dalam waktu 80 menit kami bisa mengerjakan semua soal-soal itu.

"Kamu bisa ngerjain soal-soalnya?" tegur Nita padaku. 
"Ciiee.... udah enggak marah lagi nih?"
"Sebenernya masih. Tapi ini lebih penting. Kamu nomor enam apa jawabannya?"
"Hah? Nomor enam? Bukannya cuma lima soal ya?"
"Ada sepuluh soal ah. Nomor enam-sepuluh ada dibelakang. Dibalik aja kertasnya"
"Huah.... aku sepertinya tidak melihatnya"
"Haha.... hukum karmanya sudah berlaku tuh. Gara-gara mutusin anak orang seenaknya"
"Enggak ada hubungannya tahu" jawabku dengan ketus. Mungkin sebaiknya aku rahasiakan masalah ini pada Qua, gumamku dalam hati.
(Bersambung)
Gambar Ilustrasi