Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tentang Hidup

Tak masalah ada di pihak mana anda berdiri (pekerja keras, orang yang beruntung, orang sial, miskin, bodoh, pintar atau apalah), yang terpenting yang harus kita miliki adalah kemampuan untuk mengambil hikmah dari setiap momen yang terjadi dalam hidup kita (Rofa: 2010)

Mayoritas Manusia

Kebanyakan orang ingin pergi ke tempat tertinggi dalam kehidupan ini. Tanpa mereka sadari bahwa tempat tertinggi itu menjadi tempat terendah ketika mereka menginjaknya (Rofa: 2011)

Antara Tuhan dan Kita

Salah satu bentuk rasa syukur kita yang tertinggi pada tuhan tentang akal adalah membiarkan otak kita berman-main dengan bermacam-macam ide dan berusaha menuliskannya sebagai suatu kesimpulan yang dapat digunakan oleh orang lain sebagai suatu referensi, bukan sebagai kitab suci (Rofa: 2010)

Stereotipe Negatif

Apalah artinya kekurangan dan kelemahan, jika ada hati yang menerima kita apa adanya (Rofa: 2009)

Lalu

Pada akhirnya kita semua akan menjadi pahlawan dari kisah hidup kita sendiri (Rofa: 2013)

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2015

[Gambar] Cemburu itu Karena Minder

Tanggal terbit: 12 Januari 2015

Dari dulu juga saya tidak percaya bahwa cemburu berbanding lurus dengan rasa cinta. Itu hanya mitos masyarakat purbakala. Sudah layak jadi legenda.


Yang benar, cemburu itu tandanya minder. Ya enggak Pe-De. Kalau enggak minder dan merasa yang terbaik buat si dia buat apa cemburu?



Cemburu Itu Karena Minder

Minggu, 11 Januari 2015

Rutinitas Orang Kaya

Tanggal terbit: 11 Januari 2015

Menjadi kaya adalah impian setiap makhluk hidup di dunia ini, terutama manusia dan ibu-ibu. Hari ini saya baru saja membaca buku The Habits of Millionaires karya Zaenuddin HM. Dalam bukunya menekankan tentang pentingnya karakter seseorang, sehingga dia bisa menjadi kaya.

Ada fakta yang cukup mencengangkan yang juga dikemukakan dalam buku ini. Ternyata sekitar 86% dari 100 orang terkaya di dunia saat ini, semuanya berasal dari usahanya sendiri. Jadi mereka kaya bukan karena warisan orang tuanya. Ini juga berarti kaya itu tidak harus selalu didukung dengan modal yang besar.

Mengapa orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin? Kebiasaan, cara berpikir dan tindakan! Itulah jawabannya. Perhatikanlah gambar perbandingan rutinitas orang kaya dan orang miskin di bawah ini:

Gambar Perbandingan Rutinitas Orang Kaya dan Orang Miskin

Mungkin ada yang berpikir bahwa kenapa orang kaya bisa lebih sering membaca buku, mendengarkan musik, bersosialisasi dan bangun lebih cepat dikarenakan mereka mempunyai waktu lebih dalam hidupnya. Sedangkan orang miskin menghabiskan waktunya untuk bekerja keras. Itu salah besar!

Para orang kaya itu pada faktanya telah melakukan rutinitas tersebut sebelum mereka menjadi kaya.

Hal serupa juga saya lihat ketika saya tugas luar kota menuju NTT. Saya melihat kebanyakan orang miskin yang hidup di sana adalah orang yang malas-malas. Malah di sana tidak ada pengamen, tukang parkir dan pengemis walaupun banyak warganya yang miskin. Kenapa? Ini semua bermuara pada karakter. Itu jawabannya.




Selasa, 08 Juli 2014

Aristoteles dan Cinta Sejati

Pada suatu hari Aristoteles bertanya pada gurunya, “Apa cinta sejati itu?”

Gurunya pun menjawab, “Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas,  petiklah satu bunga yang terindah menurutmu dan jangan pernah berbalik kebelakang”

Kemudian dia melakukannya, tapi dia kembali denga tangan hampa, gurunya bertanya. “Mana bunganya?’

Dia menjawab “Saya tidak bisa mendapatkannya, sebenarnya saya telah menemukannya. tapi saya berpikir di depan masih ada yang lebih bagus lagi, tetapi ketika saya sampai di ujung taman, saya baru sadar bahwa yang saya temui pertama tadi itulah yang terbaik, tapi saya tidak bisa kembali lagi ke belakang lagi karena sudah ada yang mengambilnya”.

Gurunya  berkata, “Seperti itulah cinta sejati, semakin kamu mencari yang terbaik maka kamu tak akan pernah menemukannya”. jangan pernah menyia-nyiakan cinta seseorang yang tumbuh dihatimu saat ini karena waktu tak akan kembali’.

Jadi bagi para pembaca, syukurilah apa yang telah kita dapatkan. Jangan selalu terfokus untuk mencari yang terbaik. Karena yang terbaik tidaklah ada batasnya, ketika kita mencari yang terbaik, anda hanya mencari kehampaan yang tak pernah terbatas yang menjerumuskan anda dalam jurang ketidakpuasan.

Gambar Ilustrasi

Selasa, 16 Juli 2013

Narkoba dan Jenis-jenisnya

Oleh : Rofa Yulia Azhar
Tanggal terbit : 16 Juli 2013
Sumber : Dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan seperlunya

Mungkin anda sering mendengar kalimat larangan untuk menjauhi narkoba. Tapi sedikit dari kita yang mengetahui alasan dibalik pelarangan narkoba dan bagaimana hukumnya menurut agama islam.

Narkoba meskipun ada beberapa orang yang mengartikannya sebagai narik-narik kolor bapak (haha...) sebenarnya merupakan singkatan dari “narkotika dan obat-obatan berbahaya”. Istilah ini khusus dikeluarkan oleh departemen kesehatan. Selain itu dikenal juga sebagai Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Baik narkoba maupun napza mengacu pada senyawa yang dapat menimbulkan resiko bagi penggunanya.

Pada awalnya narkoba digunakan untuk dunia kesehatan. Narkoba digunakan untuk membius pasien saat hendak operasi, dapat digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit tertentu, mengurangi rasa sakit atau digunakan dalam terapi. Namun kini kegunaan itu telah disalahartikan akibat pemakaian di luar fungsi dan dosis yang semestinya.

Jika pada tahun 2008 jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesiamencapai 3,3 juta jiwa, maka pada tahun 2013 diperkirakan menjadi 4,3 juta jiwa. Apakah anda ingin termasuk ke dalam bagian dari mereka?

Jenis-Jenis Narkoba:
  1. Narkotika: heroin, opium, kokain dan ganja
  2. Psikotropika: sedatin (pil BK), ekstasi, shabu-shabu, dll.
  3. Zat adiktif: Lem kayu (aibon), eter, dll.
Perbedaan antara narkotika, psikotropika dan zat adiktif:
  1. Narkotika: zat yang dapat menyebabkan penurunan/perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan ketergantungan.
  2. Psikotropika: zat yang bersifat psikoaktif yang berpengaruh pada aktifitas mental dan perilaku.
  3. Zat adiktif:zat yang dapat digunakan sebagai pengganti narkotika dan psikotropika yang dapat mengganggu sistem syaraf.
Efek yang ditimbulkan oleh narkoba sangat unik, aneh dan menyeramkan. Untuk jenis ekstasi, pil mahal ini dapat menyebabkan pengkonsumsinya tertawa tanpa alasan, hal tidak lucu saja bisa membuatnya tertawa. Lain lagi dengan kokain, penggunaan kokain telah dirintis oleh suku Indian sejak dahulu kala. Pengguna kokain mampu berjalan sehari semalam tanpa istirahat (keren kan?). Ada juga shabu-shabu yang harganya Rp.200.000-Rp. 500.000, narkoba jenis ini dapat merusak otak. Penggunanya kebanyakan akan mati akibat sesak napas. Penyebaran narkoba melibatkan mafia internasional yang ingin merusak anak-anak di dunia. Sedangkan untuk ganja, narkoba ini harganya Rp.10.000 sudah dapat dibuat menjadi 4 batang rokok. Efeknya dapat menimbulkan rasa gembira yang berlebihan. Efek yang paling sadis adalah dari opium atau heroin, pengguna heroin atau opium akan berhalusinasi seolah-olah semua orang memusuhinya. Bahkan pengguna opium tak segan-segan berkelahi dengan sebuah ember.

Lalu bagaimana dengan hukum narkoba secara agama? Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 195, Allah SWT berfirman,”Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan…” selain itu, dalam Alquran surat Annisa ayat 29,”… Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu”.
Selain itu penggunaan narkoba juga dapat merusak ekonomi karena penggunanya akan kecanduan dan menghalalkan berbagai cara untuk membelinya. Secara efek, narkoba sebenarnya dapat membunuh secara perlahan, jadi pengkonsumsi narkoba secara tidak sadar telah membunuh dirinya sendiri.

Lalu bagaimana kalau coba-coba? Mencoba narkoba sama saja mencoba mati. Jika anda berhasil selamat dari kematian fisik karena narkoba maka setidaknya kehidupan andalah yang mati.

Gambar Poster Ajakan untuk Menjauhi Narkoba


Perubahan Wajah Orang yang Mengkonsumsi Narkoba





Kamis, 21 Juni 2012

Say "No" To "Nyontek"

Tanggal terbit: 21 Juni 2012 (tanggal terbit di blog ini)
Sumber: Dikutip dari berbagai sumber dengan sedikit perubahan
Catatan: Artikel ini dibuat dalam rangka studi islam intensif (SII) di MAN 2 Bandung tahun 2011
Menyontek atau menjiplak atau ngepek menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminta adalah mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Dalam artikel yang ditulis oleh Alhadza (2004) kata menyontek sama dengan cheating. Beliau mengutip pendapat Bower (1964) yang mengatakan cheating adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis.

Nababan (2006: 69) melakukan penelitian terhadap 106 mahasiswa, dan hasilnya menunjukkan sebesar 62,26% termasuk pada kategori sering mennyontek, 35,84% jarang menyontek dan 1,88% tidak pernah menyontek. Jadi kalau disekolah anda hanya terdiri dari 1000 orang siswa/i, berarti hanya ada 19 orang yang tak pernah menyontek. Bahkan, penelitian di salah satu lembaga anti korupsi Amerika dengan pasti menyatakan “100% orang yang korupsi saat ini, dahulunya pernah menyontek”. Hal lucu lainnya juga menyimpulkan jika “guru yang memberi kesempatan siswanya untuk menyontek, berarti guru tersebut pasti pernah melakukan kegiatan menyontek di masa lalunya atau sampai sekarang”.

Menyontek sendiri bukanlah suatu kata sifat, tetapi merupakan kata kerja. Jadi secara genetik, menyontek tidak dapat diturunkan secara hereditas. Meskipun ada kecendrungan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara berulang akan menciptakan suatu kebiaasaan yang menjadi sifat.

Bagaimanakah hukum menyontek?
Menyontek jelas sekali hukumnya haram. Karena telah menggunakan cara-cara dan melakukan ritual-ritual yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Orang-orang yang menyontek memanfaatkan berbagai cara agar tujuannya dapat tercapai. Bahkan dalam dunia seni, menyontek atau plagiat divonis sebagai kegiatan terhina yang dilakukan oleh seorang seniman. Lalu bagaimanakah di dunia pelajar?
Motivasi melakukan kegiatan menyontek (Nababan, 2006: 7):
1.       Karena kesempatan yang diberikan sistem, misalnya guru yang mengawasi membiarkan siswanya menyontek, kurang tegas dan tidak responsif (40%)
2.       Tidak percaya diri (21,3%)
3.       Tidak belajar (14%)
4.       Tidak dapat menjawab soal (13,5%)
5.       Terpaksa (11%)

Mungkin bisa saja anda berdalih jika menyontek itu bukanlah termasuk dosa besar. Tetapi jika dilakukan secara terus menerus, bukan hal mustahil  jika dosa karena menyontek akan terakumulasi secara besar-besaran.

Bagaimana hukum memberi nyontek?
Orang yang menyontek tak akan pernah ada di dunia ini tanpa adanya kesempatan. Kesempatan dalam hal ini dapat berupa orang yang memberi nyontek, atau sistem yang memungkinkan agar orang dapat menyontek. Orang yang memberi nyontek atau bahkan guru yang membiarkan siswanya melakukan kegiatan menyontek dapat dipastikan lebih berdosa dibandingkan dengan orang yang menyontek. Karena dengan adanya para pemberi kesempatan untuk menyontek ini kegiatan menyontek tetap berlangsung di muka bumi. Selain itu, para pemberi nyontek ini secara tidak sadar telah membuat orang yang menyontek padanya mengalami ketergantungan, semakin malas untuk belajar dan semakin nyaman untuk menyontek. Motivasi para pemberi nyontek:
1.       Tidak ingin dicemooh sebagai manusia super pelit. Padahal lebih pelit lagi yang nyontek, tidak memberikan keuntungan yang baik bagi pemberi nyontek.
2.       Kasihan melihat temannya kesulitan menjawab soal (Jadi apakah anda makhluk lemah yang layak dikasihani? Padahal Allah telah memberikan kesempurnaan bagi manusia)
3.       Ingin dianggap hebat dan diakui kepintarannya
4.       Demi materi (menjual jawaban)

Padahal banyak cara sah yang bisa dilakukan seseorang untuk membantu orang lain yang kesulitan dalam pelajaran. Misalnya mengadakan kelompok belajar, mengajarkan temannya sebelum ulangan/ujian atau memberi pengarahan. Kegiatan ini lebih mulia, karena semakin ilmu dibagikan, bukanlah semakin berkurang, tetapi semakin bertambahlah ilmunya.

Pola-Pola Menyontek
Dengan perkembangan IPTEK, pola-pola menyontek juga mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi. Menyontekpun bisa dilakukan secara mandiri ataupun berjamaah, tetapi 70% dilakukan secara berjamaah. Dibawah ini dijelaskan pola-pola menyontek yang populer:
1.       Langsung bertanya kepada teman (berharap temannya akan blak-blakan) 40 %
2.       Menggunakan kode dan bahasa isyarat yang sulit dipecahkan 10%
3.       Melihat langsung ke sumber (buku, LKS, rangkuman, catatan kecil atau tulisan yang sudah dipahat di bangku, keramik, dll) 15%
4.       Menggunakan pengalih perhatian, misalnya bersin yang bervibrasi atau batuk atau raungan (seperti kesurupan) agar menarik perhatian guru dan memberi kesempatan siswa lain untuk menyontek 5%
5.       Menggunakan teknologi, misalnya memfoto buku lewat HP dan melihatnya pas ujian dengan alasan menggunakan HP untuk kalkulator (ini cara nyontek yang ter-up to date) atau sms-an 5%
6.       Memainkan mata secara liar dan tak terkendali 25%

Bahaya Menyontek
Menyontek juga secara utuh dapat dilahirkan dari pradigma diri yang melogiskan nilai sebagai Tuhan baru dalam kasta tertinggi dunia pendidikan. Bahkan karena tingkat kreatifitas manusia yang berbeda, tidak jarang yang menyontek memiliki nilai yang lebih tinggi dari orang yang dinyonteknya. Hal tersebut terjadi karena fokus penyontek lebih menyebar pada cara untuk mendapatkan nilai bagus, sedangkan fokus pemberi nyontek hanya terpusat pada soal dan jawaban. Menurut buku psikologi dan perkembangan logika, menyontek dapat menyebabkan hal-hal di bawah ini:
1.   Unconfident Syndrome. Syndom ini adalah penyakit awal yang akan menyerang para penyontek. Menjangkit para penyontek pemula yang mungkin saja nantinya akan menjadi penyontek profesional. Syndrom ini akan membuat si penderita merasa tidak percaya diri dan menjadi ketergantungan terhadap orang lain. Mempengaruhi pola pikir agar selalu merasa santai jika akan menghadapi tes/ujian, tak pernah mempersiapkan segalanya dan berprinsip kumaha engke, (bukankah seharusnya engke kumaha?)
2.  STEV (Short Term Effect Virus). Virus ini akan membuat sang penderita hanya memikirkan jangka pendeknya saja dalam melakukan sesuatu. Ibarat kata virus ini akan membuat penderita seperti berada di surga dalam beberapa detik (misalnya pada saat berhasil dalam menyontek dan mendapat nilai bagus), terus langsung jatuh ke neraka untuk selamanya (bisa dalam arti sebenarnya ataupun bermakna menyesal karena tidak memiliki pengetahuan apa-apa gara-gara sering menyontek). Virus ini sangat berbahaya karena dia bisa melemahkan sistem imun otak dan hati kita.
3.  DBM. Penyakit ini biasanya menyerang orang-orang yang sudah menderita STEV dan merasa bisa mencapai tujuan mereka. Gejalanya adalah pola pikir yang suka menyepelekan guru dalam kegiatan belajar mengajar, tidak memperhatikan, usil dalam menjawab pertanyaan guru atau memberi pertanyaan kepada guru yang bersifat nge-test. Para penderita DBM akan berpikiran; yang terpenting nilai pada saat ujian harus memuaskan, tak peduli bagaimanapun caranya.

Mungkin efek di atas hanyalah dampak ringan dari menyontek. Tapi harus diingat juga jika kesuksesan seseorang 99% ditentukan oleh kepribadiannya. Harus disadari jika kebiasaan menyontek merusak mental kita sebagai pelajar. Kita tidak akan lagi punya jiwa kompetisi untuk bersaing secara sehat. Bersaing di kelas saja tidak mampu, apalagi nanti di dunia kerja. Selain itu kebiasaan menggunakan cara yang tidak halal untuk menggapai suatu tujuan akan menjadikan kita manusia yang mempunyai etos kerja buruk.
Penelitian juag menyimpulkan (Mubarok, 2009:6) jika sanksi-sanksi yang diberikan guru untuk para penyontek seperti pengurangan nilai, pengeluaran siswa yang menyontek atau memarahi siswa yang menyontek telah gagal menurunkan angkatan penyontek di Indonesia. Hal utama yang diperlukan dalam kasus menyontek adalah kesadaran dari dalam diri siswa sendiri, suri tauladan dan juga sistem yang baik.

“Kesuksesan itu tidak dilihat dari beberapa kali mereka mendapat kegagalan, tapi dilihat dari berapa kali ia bangkit dari kegagalan” (Abu Bakar RA)

Bandung, 18 Agustus 2011
Ditulis Oleh: Rofa Yulia Azhar
Mahasiswa Pendidikan Kimia
UIN Sunan Gunung Djati Bandung