Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tentang Hidup

Tak masalah ada di pihak mana anda berdiri (pekerja keras, orang yang beruntung, orang sial, miskin, bodoh, pintar atau apalah), yang terpenting yang harus kita miliki adalah kemampuan untuk mengambil hikmah dari setiap momen yang terjadi dalam hidup kita (Rofa: 2010)

Mayoritas Manusia

Kebanyakan orang ingin pergi ke tempat tertinggi dalam kehidupan ini. Tanpa mereka sadari bahwa tempat tertinggi itu menjadi tempat terendah ketika mereka menginjaknya (Rofa: 2011)

Antara Tuhan dan Kita

Salah satu bentuk rasa syukur kita yang tertinggi pada tuhan tentang akal adalah membiarkan otak kita berman-main dengan bermacam-macam ide dan berusaha menuliskannya sebagai suatu kesimpulan yang dapat digunakan oleh orang lain sebagai suatu referensi, bukan sebagai kitab suci (Rofa: 2010)

Stereotipe Negatif

Apalah artinya kekurangan dan kelemahan, jika ada hati yang menerima kita apa adanya (Rofa: 2009)

Lalu

Pada akhirnya kita semua akan menjadi pahlawan dari kisah hidup kita sendiri (Rofa: 2013)

Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2015

Guru pun Menyontek dan Dapat Bocoran Saat UKG!

Tanggal terbit: 23 November 2015

Saya bukanlah seorang guru formal, juga bukan seorang ahli dalam dunia pendidikan. Saya hanya seseorang yang didik untuk jadi guru, saat universitas. Siapapun saya, tapi saya masih mengingat jelas bagaimana semaraknya UN setiap tahunnya. Banyak kasus, dari kebocoran soal, menyontek, dan tindak kejahatan lainnya. Semuanya diekspos, begitu vulgar. Siswa yang sudah tertekan karena soal-soal UN, semakin tertekan lagi dengan pemberitaan-pemberitaan di media masa. Saya rasa semua masih mengingatnya, begitu mencekam bagi semua stake holder pendidikan saat itu.




Sekarang semua orang dalam dunia sudah mulai move on, menata hidup baru. Tapi semua ini sedikit terusik di bulan November 2015. Sampai pada minggu ini, ada kegiatan rutin yang dinamakan UKG (Uji Kompetensi Guru). Bagi yang belum tahu, UKG sama seperti ujian bagi siswa, hanya berbeda tujuan saja.  Tujuan UKG adalah:
  1. Untuk pemetaan kompetensi guru (kompetensi pedagogik dan profesional)
  2. Untuk melaksanakan program pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam bentuk kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.
  3. Sebagai entry point sertifikasi guru dalam jabatan.
  4. Sebagai alat kontrol pelaksanaan penilaian kinerja guru.
Bagus sekali bukan tujuannya? Tentu saja tidak ada kegiatan yang dibuat tanpa tujuan yang baik. Tapi ada beberapa hal yang mengganjal di dalam pikiran saya:
  1. KKM atau standar minimal guru lulus atau tidak adalah 55. Hebat bukan? Siswa saja di sekolah KKM untuk setiap mata pelajaran bisa mencapai 70-85. Sedangkan guru yang mengajar, yang secara logika harusnya lebih menguasai materi malah diberikan KKM 55. Jadi tolong jangan memaksa siswa dapat KKM tinggi dong!
  2. Ujian tidak serentak. Ini masalah utamanya, ujian berbasis komputer menyebabkan ujian berlangsung tidak serentak. Sehingga mudah ditebak. Banyak sekali bocoran soal UKG yang berseliweran di media sosial. Lalu apalagi yang mau dinilai? Pemahaman konsep guru atau kemahirannya dalam mendapatkan bocoran?
  3. Kalau tidak lulus, mau bagaimana? Siswa kan kalau tidak lulus UN, maka mengulang lagi kalau guru tidak lulus UKG? Sampai saat ini masih tidak jelas apa yang akan dilakukan, apakah ada ramedial? atau ini hanya seremonial belaka?
  4. Tunjukkan transparasi. Jika nilai UN siswa pada saat UN diekspos habis-habisan, mana tunjukkan mana nilai guru saat UKG! Apakah alasannya karena harga diri guru harus dijaga, sehingga nilai tidak diekspos? Lalu kenapa alasan yng sama juga tidak diberlakukan pada siswa?
Saya tahu perlu banyak keberanian untuk menulis ini, sekarang ada sekitar 300.000-an guru di Indonesia, berarti akan ada banyak yang membenci saya karena tulisan ini. Mungkin beberapa mengutuk dan bilang bahwa saya tidak diposisi mereka. Saya hanya tidak ingin membiarkan ini terjadi terus-menerus. Manusia macam apakah saya yang membiarkan kejahatan terjadi di hadapan saya?

Ingin memajukan pendidikan di Indonesia? Bukan seperti ini caranya....
 

Selasa, 10 November 2015

Komponen-Komponen Pendidikan

Tanggal terbit: 10 November 2015



Pendidikan terjadi dikarenakan terpenuhinya  komponen-komponen dalam pendidikan itu sendiri. Ada 6 komponen utama dalam pendidikan yaitu: 1) tujuan pendidikan, 2) isi pendidikan atau kurikulum 3) anak didik, 4) guru, 5) alat pendidikan, dan 6) situasi pendidikan. Penjabaran lebih lengkap mengnai komponen-komponen pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Tujuan Pendidikan
Perbuatan mendidik merupakan perbuatan yang mempunyai tujuan, ada sesuatu yang ingin dicapai dalam perbuatan tersebut. Tujuan pendidikan merupakan gambaran dari falsafah atau pandangan hidup manusia, baik secara perseorangan maupun kelompok. Tujuan pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental, karena dari tujuan itulah akan menentukan ke arah mana anak didik akan dibawa.

Tujuan pendidikan harus mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
1. Autonomi
Tujuan pendidikan harus memberi kesadaran, pengetahuan dan kemampuan secara maksimum kepada individu ataupun kelompok untuk dapat hidup mandiri, dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik.
2. Keadilan
Tujuan pendidikan harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberinya pendidikan dasar yang sama.
3. Survival
Pendidikan akan menjamin pewarisan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam undang-undang No. 20 tahun 2013 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan tujuan dan fungsi pendidikan adalah sebagai berikut:
“Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."

Jenis-jenis tujuan pendidikan menurut Langeveld:
1. Tujuan Umum
Tujuan umum pendidikan adalah kedewasaan. Berarti semua kativitaas pendidikan harus diarahkan ke arah sana.
2. Tujuan Khusus
Tujuan umum kedewasaan terlalu universal. Kita perlu mendefinisikan ulang tujuan umum menjadi tujuan khusus.
3. Tujuan Insidental
Merupakan tujuan yang menyangkut suatu peristiwa khusus. Contoh: ibu yang melarang anaknya bermain pintu karena dikhawatirkan akan terjepit.
4. Tujuan Sementara
Merupakan tujuan yang terdapat pada langkah-langkah untuk mencapai tujuan umum. Contoh: kita ingin anak memiliki gaaya hidup bersih, maka sedari dini kita biasakan untuk mandi teratur, buang air besar atau kecil di toilet, tidak sembarang membuang sampah, dll.
5. Tujuan Tak Lengkap
Tujuan tak lengkap merupakan tujuan yang berkenaan dengan salah satu aspek pendidikan. Contoh: pendidikan yang meengembangkan aspek intelektual saja, tanpa secara terpadu mengambangkan aspek sikap dan keterampilan.
6. Tujuan Intermedier
Tujuan intermedier atau tujuan perantara merupakan tujuan yang melayani tujuan pendidikan yang lain, merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan yang lain, khususnya tujuan sementara.

2. Isi Pendidikan/Kurikulum
Menurut  UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional,  pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.

Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

Subandiyah mengemukakan ada 5 komponen kurikulum, yaitu:
  1. Komponen tujuan
  2. Komponen isi/materi
  3. Komponen media (sarana dan prasarana)
  4. Komponen strategi
  5. Komponen proses belajar mengajar.
3. Anak Didik
Anak didik merupakan seseorang yang sedang berkembang, memiiki potensi tertentu, dan dengan bantuan pendidik ia mengembangkan potensinya tersebut secara optimal. Sedangkan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan jika peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Tirtarahardja mengemukakan empat karakteristik peserta didik, yaitu:
  1. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan mahluk yang unik.
  2. Individu yang sedang berkembang.
  3. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
  4. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.
4. Peranan Guru
Guru adalah pendidik di sekolah. Menurut UU Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Peranan guru sebagai pendidik sangatlah besar. Guru membentuk sikap siswa, menjadi contoh teladan bagi siswa-siswanya, bukan hanya sekedar mengajar. Ada tujuh peran seorang guru, yakni sebagai: pendidik, model, pengajar dan pembimbing, pelajar, komunikator terhadap masyarakat setempat, pekerja administrasi, dan setiawan terhadap lembaga.

5. Alat Pendidikan yang Paling Utama
Alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu kedewasaan. Alat pendidikan juga berarti langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pendidikan. Alat pendidikan umumnya didefinisikan sama dengan media. Padahal area cakupan alat pendidikan itu sangat luas sekali.

Alat pendidikan menurut Langeveld ialah: a) perlindungan; b) kesepahaman; c) kesamaan arah dalam pikiran dan perbuatan; d) perasaan bersatu; e) pendidikan karena kepentingan diri sendiri. Sedangkan menurut Sadulloh, alat-alat pendidikan meliputi: a) pembiasaan; b) pengawasan; c) perintah; d) larangan; e) hukuman.

Alat-alat pendidikan amatlah penting peranannya, diantaranya ialah sebagai pembiasaan dan pengawasan, perintah dan larangan, serta ganjaran dan hukuman dalam kegiatan pendidikan agar tujuan dalam proses pendidikan yang sudah ditentukan dapat tercapai dengan maksimal.

6. Situasi Pendidikan
Situasi pendidikan berlangsung dalam situasi pergaulan. Apabila dalam suatu pergaulan, antara orang dewasa dan anak, didasarkan atas suatu tujuan pendidikan, maka situasi pergaulan yang tercipta adalah situasi pendidikan. Situasi pendidikan merupakan situasi istimewa yang sengaja diciptakan untuk mencapai tujuan tertentu dari pendidik. Contoh: seorang ibu menyuruh anaknya untuk mencucui piring setelah makan didasari oleh suatu tujuan agar anaknya mandiri dan bertanggung jawab.

Sifat situasi pendidikan:
  1. Istimewa atau khusus.
  2. Memiliki tujuan untuk mendidik.
  3. Diciptakan dengan sengaja.
  4. Terencana, dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran serta kewaspadaan.
  5. Terdapat komponen-komponen: pendidik, anak didik, alat pendidikan dan kewibawaan.
 Daftar Pustaka

Callahan, J.F., and Clark, L. H. 1983. Foundations of Educations. New York: Mcmillan.

Kneller, G. F. 1971. Foundations of Education. USA: John Wiley & Sons Inc.

Robandi, Babang. 2005. Handout Mata Kuliah Landasan Pendidikan. Tersedia (online): http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEDAGOGIK/196108141986031-BABANG_ROBANDI/LPPOLRI.pdf [diakses pada tanggal 11 November 22015].

Sadulloh, Uyoh, dkk. 2015. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta.


Makna dan Pentingnya Kewibawaan dalam Pendidikan

Tanggal terbit: 10 November 2015


Ciri utama seorang pendidk adalah adanya kewibawaan yang terpancar dari dirinya terhadap anak didik. Guru sebagai pendidik harus memiliki kewibawaan, baik dalam pembelajaran di kelas ataupun kegiatan lain di luar kelas. Kewibawaaan mempunyai peran penting dalam usaha menentukan dan merumusakan tujuan hakiki dan arti pendidikan.

Kewibawaan merupakan syarat mutlak dalam pendidikan, artinya jika tidak ada kewibawaan maka pendidikan itu tidak mungkin akan terjadi. Sebab, dengan adanya kewibawaan pendidik akan diikuti secara sukarela oleh anak didik.

Pendidik harus mempertahankan kewibawaan yang dimilikinya sehingga kewibawaan tersebut terus dipelihara dan dibinanya. Lageveld merumuskan tiga sendi kewibawaan, yaitu: kepercayaan, kasih sayang dan kemampuan mendidik.

Kewibawaan yang dimiliki pendidik, pada suatu saat mungkin akan goyah atau melemah. Agar kewibawaan yang dimiliki oleh pendidik tidak goyah, maka hendaknya pendidik itu selalu:
  1. Bersedia memberi alasan yang mudah diterima oleh anak didik dari apa yang kita perintahkan.
  2. Bersikap demi kamu, dengan menasehati, melarang atau menegur, yang semuanya demi anak didik sendiri dan bukan untuk kepentingan pendidik.
  3. Bersikap sabar dan tidak lekas putus asa.
  4. Bersikap memberi kebebasan kepada anak didik agar dapat belajar mengambil keputusan dan belajar bertanggung jawab.
Daftar Pustaka
Sadulloh, Uyoh, dkk. 2015. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta.


Senin, 09 November 2015

Makna dan Pentingnya Kasih Sayang dalam Pendidikan

Tanggal terbit: 9 November 2015

Kasih sayang merupakan fitrah manusia, artinya manusia ditakdirkan oleh Allah memiliki kasih sayang kepada sesamanya. Dalam hal pendiidkan, kasih sayang harus mendasari semua upaya dalam mebawa anak menuju tujuannya, yaitu kedewasaan. Guru sebagai pendidik, harus menyadari bahwa kasih sayang merupakan syarat mutlak dalam melakukan interaksi dengan anak didiknya, baik di dalam maupun di luar kelas.

Pendidik yang membiarkan anak didiknya melakukan kesalahan, tanpa menegurnya, tanpa mengarahkannya, atau tanpa melarangnya, berarti pendidik tersebut tidak memiliki kasih sayang terhadap anaknya, dan pendidik tadi tidak mampu melaksanakan pendidikan bagi anak didiknya.

Pendidik tidak boleh berlebihan dalam memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, tapi harus bisa menempatkan kasih sayang dan mendidik anak pada tempat yang tepat. Kasih sayang yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif diantaranya:
  1. Akan tumbuh sikap untuk ingin selalu diperlakukan istimewa. Menimbulkan benih-benih pribadi anak didik menjadi seorang otoriter dan diktator.
  2. Anak yang selalu dimanja dapat mengalami masalah dalam kehidupan rumah tangganya kelak. Seperti ingin selalu dilayani, atau memperlakukan istri seperti pembantu.
  3. Anak akan menjadi sangat rentan terhadap masalah, kehilangan kepercayaan diri, tidak berani mengambil resiko, dan tidak mau melakukan pekrjaan-pekerjaan berat.
  4. Anak menjadi tidak mau mengembangkan diir karena merasa cukup dengan apa yang diterimanya.
  5. Anak akan tumbuuh dewasa menjadi seseorang yang memiliki kepribadian sombong dan suka memaksakan kehendak.

Peran pendidik yang mencerminkan pendidikan sebagai dasar dalam melaksanakan pendidikan:
  1. Guru berperan sebagai pembimbing di dalam maupun di luar sekolah untuk membimbing anak didik ke kehidupan yang lebih baik.
  2. Guru berperan sebagai pembentuk kepribadian yang bertanggung jawab untuk membimbing anak didik menjadi manusia bermoral, berhati nurani, dan memiliki kasih sayang terhadap sesama.
  3. Guru berperan sebagai tempat perlindungan yang bijaksana mendengarkan masalah anak didiknya, memberi nasihat dan membantu mencarikan solusi dari masalah yang dialami peserta didik.
  4. Guru berperan sebagai fitur teladan yang tercermin dari sikap yang ramah, hangat dan selalu tersenyum.
  5. Guru berperan sebagai sumber pengetahuan yang memberikan ilmu kepada anak didiknya dengan hati-hati, benar dan terpercaya.

Daftar Pustaka
Sadulloh, Uyoh, dkk. 2015. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta.

Minggu, 08 November 2015

Landasan Pendidikan

Tanggal terbit: 8 November 2015


Pengertian Pedagogik
Pedagogik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, “paedos”, yang berarti anak laki-laki, dan “agogos”, yang artinya mengantar, membimbing. Dalam arti khusus pedagogik dapat diartikan sebagai ilmu mendidik anak. Pedagogik merupakan suatu teori dan kajian yang secara teliti, kritis, dan objektif mengembangkan konsep-konsepnya mengenai hakikat manusia, hakikat anak, hakikat tujuan pendidikan, serta hakikat proses pendidikan.

Perbedaan Pedagogik dengan Pendidikan
Ada beberapa teori yang berpandangan bahwa pedagogik dan pendidikan itu sama. Tapi kebanyakan ahli sepakat untuk memisahkan definisi pedagogik dan peendidikan. Pedagogik merupakan pendidikan dalam arti khusus, arti yang lebih sempit. Sedangkan Pendidikan memiliki arti yang lebih luas lagi. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hayat.

Pengertian Landasan Pendidikan
Secara leksikal, landasan berarti  dasar tempat berpijak, alas atau tempat dimulainya suatu perbuatan. Menurut sifat wujudnya, landasan terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
  1. Landasan yang bersifat fisik, yaitu landasan yang mengarah pada bentuk fisik. Contohnya: landasan pesawat terbang.
  2. Landasan yang bersifat konseptual, yaitu landasan yang mengarah pada suatu konsep atau teroi. Contohnya: Pancasila dan  UUD 1945.

Landasan yang bersifat konseptual identik dengan asumsi, yaitu suatu pendapat atau pernyataan yang dianggap benar, yang dapat dipergunakan untuk pemikiran ke arah pemecahan suatu masalah. Asumsi terbagi lagi menjadi tiga jenis, yaitu:
  1. Aksioma. Aksioma adalah suatu pernyataan yang bisa dilihat kebenarannya tanpa perlu adanya bukti.
  2. Postulat. Postulat adalah asumsi yang menjadi pangkal dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya.
  3. Premis. Premis adalah apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan.


Jenis-Jenis Landasan Pendidikan
Ada berbagai jenis landasan pendidikan, berdasarkan sumber perolehannya kita dapat mengidentifikasi jenis landasan pendidikan menjadi:
  1. Landasan religius pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari religi atau agama yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan.
  2. Landasan filosofis pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari filsafat yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan.
  3. Landasan ilmiah pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari berbagai cabang atau disiplin ilmu yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan. Tergolong ke dalam landasan ilmiah pendidikan antara lain: landasan psikologis pendidikan, landasan sosiologis pendidikan, landasan antropologis pendidikan, landasan historis pendidikan, dsb. Landasan ilmiah pendidikan dikenal pula sebagai landasan empiris pendidikan atau landasan faktual pendidikan.
  4. Landasan yuridis atau hukum pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari peraturan perundang-undangan yang berlaku yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan.


Fungsi Landasan Pendidikan
Landasan pendidikan secara garis besar berfungsi sebagai titik tolak atau acuan konsep, prinsip, teori bagi para pendidik dalam rangka melaksanakan praktik pendidikan dan atau studi pendidikan. Landasan pendidikan tertuju kepada pengembangan wawasan kependidikan, yaitu berkenaan dengan berbagai asumsi yang bersifat umum tentang pendidikan yang harus dipilih dan diadopsi oleh tenaga kependidikan sehingga menjadi cara pandang dan bersikap dalam melaksanakan tugasnya.
Fungsi lain landasan pendidikan bagi tenaga pendidik adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui berbagai konsep, prinsip dan teori pendidikan yang dapat memotivasi pendidik untuk menggali pandangan-pandangan pendidikan yang bersifat teoritis.
  2. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap pandangan-pandangan teori pendidikan sehingga dapat memilah-milah dan menentukan teori pendidikan yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran.
  3. Secara langsung atau tidak langsung, baik disadari atau tidak, landasan pedagogik memberikan kontribusi pada pola pikir dan pola kerja pendidik, tentang bagaimana seharusnya melaksanakan studi dan praktik pendidikan.
Daftar Pustaka

Callahan, J.F., and Clark, L. H. 1983. Foundations of Educations. New York: Mcmillan.

Kneller, G. F. 1971. Foundations of Education. USA: John Wiley & Sons Inc.

Robandi, Babang. 2005. Handout Mata Kuliah Landasan Pendidikan. Tersedia (online): http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEDAGOGIK/196108141986031-BABANG_ROBANDI/LPPOLRI.pdf [diakses pada tanggal 11 November 22015].

Sadulloh, Uyoh, dkk. 2015. Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta.

Selasa, 27 Oktober 2015

Kasus 2: Percuma, IQ Anda Tidak Akan Bisa Meningkat!

Tanggal terbit: 27 Oktober 2015

*Rubrik kasus pendidikan ini dikhususkan untuk merekam kejadian-kejadian menarik yang penulis alami dalam dunia pendidikan. Mungkin hanya sekedar ditulis alakadarnya, atau kadang juga dicarikan solusinya. Itu semua tergantung penulis. Kalau tidak setuju, saya tidak peduli, jangan dibaca.

Sebenarnya saya cukup kebingungan untuk mencari judul yang tepat untuk artikel saya kali ini. Saya sengaja menggunakan judul yang sedikit provokatif, tentu saja agar orang lebih tertarik dalam membaca artikel ini, sehingga pengunjung blog saya menjadi meningkat (menjadi 1 juta pengunjung misalnya).

Terlepas dari judul artikel ini yang sedikit provoktif, saya hanya ingin memberikan sedikit pencerahan dari hasil analisa saya terhadap masalah IQ (dan tentu saja hasil tambahan ilmu metodologi penelitian dan psikologi kognitif di S2). Ini sangat penting sekali untuk dibaca, karena selain berkaitan dengan jumlah pengunjung blog saya, ini juga berkaitan dengan masa depan anda, bahkan masa depan semua mahluk hidup di alam semesta. (Lebay mode: ON)

Apakah anda pernah mengalami atau mendengar masalah di bawah ini:

  1. Tes masuk TNI/Polisi berulang kali (setiap tahun) tapi gagal terus.
  2. Daftar masuk kuliah jurusan yang sama di universitas yang sama tapi gagal terus.
  3. Melamar kerja ke berbagai perusahaan tapi ditolak terus.
Satu hal yang bisa saya sarankan kepada anda "Jangan pernah berulang kali mencoba melamar kerja, ikut tes masuk universitas dengan jurusan yang sama, atau ikut tes masuk TNI/Polri, karena hasilnya kemungkinan besar akan sama". Hal ini kita asumsikan jika kualitas dan kuantitas pesaing kita dari tahun ke tahun hampir sama.

Lho kenapa begitu?

Ini ada hubungannya dengan IQ anda. IQ anda ada hubungannya dengan tes masuk universitas atau masuk kerja karena IQ berkorelasi dengan tes potensi akademik (TPA). Anda sudah tahu kan kalau sekarang semua yang namanya tes masuk kerja atau universitas menggunakan TPA. Anda harus tahu bahwa jika nilai IQ orang dewasa itu (di atas 12 tahun) pada umumnya selalu konstan. Walaupun ada perubahan tapi tidak signifikan, paling beberapa poin saja berubahnya, jadi diabaikan.

Tapi saya atau temen saya waktu tes IQ nilainya berubah signifikan, kok bisa?
  1. Saran saya, kalau anda masih SMP ya mengerjakan soal tes IQ nya juga yang SMP. Jangan sampai anda sekarang SMA tapi mengerjakan soal tes IQ yang untuk SD atau SLB, pantas saja naik kalau begitu nilai IQ nya.
  2. Ada kemungkinan besar kalau instrumen yang digunakan untuk mengukur IQ ada tidak reliable atau konsisten. Jadi soal tes IQ nya masih dalam tahap percobaan. (Secara tidak langsung, anda jadi kelinci percobaannya).
  3. Adanya kejadian luar bisa yang merubah kemampuan IQ anda. Mungkin anda ditunjuk menjadi nabi dan mendapatkan mukjizat, tapi itu tidak mungkin bukan?

Jadi saya tidak akan pernah bisa diterima bekerja, atau masuk ke jurusan favorit di universitas impian saya?

Dengan berat hati harus saya katakan iya, ada harapan diterima tapi itu kecil sekali kemungkinannya. Banyak-banyaklah berdoa agar saingan anda masuk kerja atau masuk universitas kualitas dan kuantitasnya semakin menurun di tahun selanjutnya (Tapi ini juga kecil kemungkinannya).

Saya sebagai salah satu guru yang kejam kepada siswa atau sebagai seorang teman selalu berkata "Sebaiknya pilih yang sesuai dengan kemampuan, daripada menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sudah pasti kita akan gagal, karena tes potensi akademik atau tes IQ adalah sesuatu yang bersifat matematis, jadi pasti".

Lalu jika demikian apa yang harus saya lakukan?
  1. Ganti jurusan atau universitas. Fokus pada kelebihan anda, jangan terlalu fokus pada apa yang bukan menjadi cita-cita anda, terutama jangan terlalu fokus pada keinginan orang tua dan gengsi.
  2. Buat yang melamar kerja, cobalah untuk turunkan grade perusahaan tempat dimana anda melamar, atau pindah wilayah tempat bekerja agar saingan juga berubah, atau berwirausaha saja. Banyak jalan untuk menghasilkan uang, yang penting mau berusaha. Tidak tiduran terus di kamar, duduk di depan televisi, atau nongkrong di pinggir jalan.
  3. Jangan memaksakan takdir. Anda ditolak masuk kerja atau gagal masuk universitas jangan-jangan itu merupakan sebuah tanda dari Tuhan bahwa anda harus tidak cocok pada takdir itu dan harus memilih takdir yang lain. Cintailah jurusan dimana anda kuliah sekarang, cintailah pekerjaan anda sekarang. Jadilah orang bermanfaat melalui takdir anda.

Terakhir, "Anda iman bukan pada Tuhan? Kalau anda iman anda juga pasti percaya bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Tujuan manusia hidup adalah agar menjadi manusia yang bermanfaat, dan untungnya orang yang bermanfaat tidaklah harus pintar, tidak harus lulusan universitas ternama atau tidak harus kerja di tempat hebat! Kita bisa menjadi bintang karena sikap kita, bukan karena IQ kita."

Gambar Ilustrasi soal Tes IQ

Rabu, 07 Oktober 2015

Spidol adalah Sisi Romantisku, Papan Tulis adalah Kanvasku

Tanggal terbit: 07 Oktober 2015

Spidol adalah sisi romantisku, dan papan tulis adalah kanvas terbaik milikku. Tempat dimana aku bisa menunjukkan cintaku pada muridku (Rofa Yulia Azhar, 2015).

Ini senjataku ketika mengajar. 8 buah spidol warna. Kadang pusing juga ketika mau pakai. Kadang kebanyakan pakai warna merah. Mungkin karena merah memang warna favorit.

Spidol adalah sisi romantisku, dan papan tulis adalah kanvas terbaik milikku. Tempat dimana aku bisa menunjukkan cintaku pada muridku.

Menurutku tidak ada media pembelajaran seefektif dan seaplikatif papan tulis. Lewat papan tulis, sebuah DNA yang rumit pun bisa jadi dipahami. Lewat papan tulis juga cinta yang bertepuk sebelah tangan bisa dijelaskan.

Maaf, bukan melecehkan yang suka pakai media pembelajaran lain. Tapi kadang sekarang sudah kebablasan.

Terutama yang sering pakai slide power point. Salah kaprah. Isi slidenya tulisan semua. Cuma mindahin dari buku. Tanpa disadari, kalau kayak gitu, guru ya enggak usah ngajar juga enggak apa-apa. Tinggal baca aja di slide. Konyol kan!

Dulu aku ingin jadi ilmuan, ternyata tidak tercapai. Mungkin saja muridku nanti yang bisa menggapainya. Semoga pendidikan di Indonesia semakin baik. Ya, baik-baik saja.

^_^

Selasa, 06 Oktober 2015

Kasus 1: Berhenti Memandang Rendah Kemampuan Anakmu!

Tanggal terbit: 06 Oktober 2015

*Rubrik kasus pendidikan ini dikhususkan untuk merekam kejadian-kejadian menarik yang penulis alami dalam dunia pendidikan. Mungkin hanya sekedar ditulis alakadarnya, atau kadang juga dicarikan solusinya. Itu semua tergantung penulis. Kalau tidak setuju, saya tidak peduli, jangan dibaca.

Tak terasa sudah dari kelas X SMA, atau tepatnya sejak tahun 2009 saya menggeluti bisnis kontroversial menjadi guru les privat. Kontroversial karena ada kalangan yang tidak setuju dengan adanya kegiatan les privat. Menganggap les privat merupakan salah satu bentuk komersialisme dalam dunia pendidikan dan membuat siswa tidak dapat belajar secara mandiri. Tapi saya tahu pandangan itu tak perlu ditanggapi. Pemikiran yang kolot. Selain itu dalam sudut pandang bertahan hidup, sepertinya pekerjaan menjadi guru les privat menjadi sangat halal. Terutama bagi saya yang baru pensiun dini dari Pudak Scientific dan memilih untuk menjadi mahasiswa kembali. Hehe...

Ternyata sudah 6 tahun berlalu, tapi masalah yang dialami peserta didik tidak pernah berubah: sungguh membosankan bukan? Salah satu masalah yang cukup layak untuk diangkat dalam tulisan perdana rubrik kasus pendidikan ini adalah mengenai adanya kecenderungan orang tua untuk selalu menganggap rendah kemampuan anaknya. Padahal kemampuannya tidak serendah yang dipresentasikan oleh orang tuanya.

Memang ada beberapa orang tua juga yang terlalu menilai tinggi kemampuan anaknya, itu juga tidak baik. Tapi lebih parah lagi jika kita menilai rendah kemampuan anak sendiri. Lalu apa yang harus dilakukan? Ya tentu saja yang harus dilakukan adalah menilai kemampuan anak secara objektif, terukur dan adil. Secara logika, orang tua yang membesarkan, menemani tumbuh kembang anak dan orang terdekat anak harusnya bisa menilai anaknya sendiri secara fair dan objektif. Atau selama ini memang ada yang salah dalam pola asuh anak sehingga orang tua tidak mampu mengenali lagi anaknya?

Pada umumnya, tidak ada orang yang mau direndahkan. Apalagi oleh orang tua sendiri. Itu pasti sangat menyakitkan. Bahkan, jika anak kita merupakan orang yang paling tidak berguna di dunia pun, tetap tak pantas kita remehkan kemampuannya, karena setiap anak mempunyai potensi yang besar. Bahkan potensi itu bisa meledak sewaktu-waktu yang kehebatannya melebihi bom atom Hirosima yang "hanya" berkekuatan sekitar 13 kiloton TNT (55 Tera Joule).

Berikut beberapa clue hasil pengamatan saya yang saya rangkum sedemikian rupa untuk menumbuhkan kesadaran pada orang tua agar lebih fokus lagi pada kelebihan yang dimiliki oleh anaknya.

  1. Jangan terlalu fokus untuk meningkatkan kemampuan yang anak anda tak memilikinya. Fokus pada kelemahan hanya akan membuang waktu dan perhatian, tetapi malah tidak mendatangkan kebahagiaan.
  2. Setiap kali anak diremehkan, ada kecenderungan motivasi anak akan semakin berkurang. Memang pada beberapa kasus ada anak yang menjadi bersemangat ketika diremehkan. Tapi hanya ada beberapa anak yang bisa demikian, sisanya terbujur kaku karena diremehkan.
  3. Merendahkan kemampuan anak sendiri bisa jadi ditiru sang anak untuk melakukan hal yang sama juga terhadap orang lain atau anaknya kelak. Bukankah seharusnya orang tua yang baik mengajarkan anak menjadi yang terhebat, tapi jangan pernah meremehkan yang terlemah?
  4. Setiap anak memiliki hak untuk dipuji atas kelebihannya, diberi saran untuk meningkatkan kemampuannya, tapi anak tidak memiliki hak, dan orang tua tidak memiliki kewajiban untuk merendahkan kemampuan anaknya.
  5. Merendahkan kemampuan anak tidak akan merubah apapun, kecuali pandangan anak terhadap orang tuanya.
Pada awalnya saya sebagai seorang guru les privat kebingungan menghadapi laporan-laporan dari orang tua siswa yang terus mendeskriditkan anaknya, seolah anaknya tidak mempunyai kelebihan. Saya mencoba meluruskan penilaian saya. Saya selalu mencoba memberikan penilaian yang seobjektif mungkin yang saya bisa. Misalkan jika siswa saya pelupa, maka saya bilang meskipun dia pelupa tapi dia anak yang disiplin dan sistematis. Atau ketika ada seseorang yang lambat sekali dalam menerima pelajaran, saya menemukan hal yang sangat hebat dalam diri anak tersebut, dimana dia memiliki semangat juang yang sangat tinggi dalam belajar. Bahkan ketika dia belum mengerti. dia sanggup belajar sampai 4 jam non stop untuk memahami satu materi saja.

Saran saya: "Dari pada meremehkan mereka, berilah mereka motivasi. Begitu ia menggunakan potensinya anda akan terkagum-kagum akan kehebatannya. Dunia telah melihat jutaan manusia yang diremehkan pada awalnya, kini mengalahkan mereka-mereka yang telah meremehkannya".

Jangan Meremehkan Kemampuan Anakmu!

Kamis, 20 November 2014

Mind Map

Tanggal terbit:  20 November 2014


Media Pembelajaran Mind Map dalam Kegiatan Belajar-Mengajar

Pentingnya Media Pembelajaran
Media pembelajaran berperan seperti garam dalam semangkuk sayur. Jika sayur tersebut tidak ditambahkan garam maka rasanya akan terasa hambar. Tetapi sebaliknya, jika jumlah garam yang ditambahkan dalam semangkuk sayur terlalu banyak maka sayur itu rasanya pangset (terlalu asin), tetap tidak enak.

Begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Guru harus menggunakan media pembelajaran agar materi-materi yang diajarkan oleh guru dapat dipahami siswa dengan mudah. Media pengajaran digunakan dalam rangka mempertinggi mutu proses kegiatan belajar-mengajar.

Edgar Dale (1969: 180)  menyusun kerucut pengalaman yang berisi panduan penggunaan media pembelajaran yang paling sesuai untuk siswa. Dale mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam sistem pendidikan modern saat ini.
Perhatikan kerucut pengalaman Edgar Dale di bawah ini:

Gambar 1. Kerucut pengalaman Edgar Dale

Bila merujuk pada kerucut Dale di atas, dapat disimpulkan apabila konsep yang disampaikan dengan media pembelajaran yang dapat menghadirkan pengalaman langsung lebih mudah dipahami dan diingat siswa dibandingan konsep yang diajarkan dengan menggunakan media pembelajaran yang bersifat simbol. Seperti: teori, rumus atau pernyataan.

Media Pembelajaran Mind Map
Mind map dalam bahasa Indonesia berarti peta pikiran (dari kata mind = pikiran, dan map = peta). Mind map adalah salah satu media pembelajaran yang menonjolkan teknik mencatat dengan mengandalkan sisi kreativitas sehingga efektif dalam memetakan pikiran (Tony Buzan dan Barry, 2004). Mind map mulai dikembangkan pada tahun 1970-an.

Mind map merupakan teknik penyusunan catatan demi membantu siswa menggunakan seluruh potensi otak agar optimum. Caranya, menggabungkan kerja otak bagian kiri dan kanan. Metode ini mengajarkan untuk mencatat tidak hanya menggunakan gambar atau warna. Tony Buzan mengemukakan your brain is like a sleeping giant, hal itu disebabkan 99% kehebatan otak manusia belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan metode mind map siswa dapat meningkatkan daya ingat hingga 78%.

Tabel 1. Tabel pengunaan otak pada mind map
No.
Kinerja
Otak Kanan
Otak Kiri
1
Tulisan
Warna
2
Hubungan penulisan
Gambar
3
Hubungan antar kata
Dimensi

Teknik ini dikenal juga dengan nama radiant thinking. Sebuah mind map memiliki sebuah ide atau kata sentral, dan ada 5 sampai 10 ide lain yang keluar dari ide sentral tersebut. Mind Map sangat efektif bila digunakan untuk memunculkan ide terpendam yang kita miliki dan membuat asosiasi di antara ide tersebut. Mind map juga berguna untuk mengorganisasikan informasi yang dimiliki. Bentuk diagramnya yang seperti diagram pohon dan percabangannya memudahkan untuk mereferensikan satu informasi kepada informasi yang lain.

Teknik mencatat melalui peta pikiran (mind map) ini dikembangkan berdasarkan bagaimana cara otak bekerja selama memproses suatu informasi. Selama informasi disampaikan, otak akan mengambil berbagai tanda dalam bentuk beragam, mulai dari gambar, bunyi, bau, pikiran, hingga perasaan. Selanjutnya melalui pembuatan mind map, informasi tadi direkam dalam bentuk simbol, garis, kata, dan warna. Mind map yang baik akan dapat menggambarkan pola gagasan yang saling berkaitan pada cabang-cabangnya.

Cara Membuat Mind Map
Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat mind map:
  1. Kertas kosong tak bergaris ukuran A4 atau A3.
  2. Pulpen, pensil atau spidol minimal dengan tiga warna berbeda.

Membuat mind map membutuhkan imajinasi atau pemikiran, adapun cara pembuatan mind map adalah sebagai berikut:
  1. Tentukanlah terlebih dahulu gagasan utama dan gagasan pendukung dari mind map yang akan kamu buat.
  2. Tulisakanlah gagasan utama pada bagian tengah kertas kosong. Berikan pembeda seperti warna, ukuran tulisan, simbol atau bentuk lainnya untuk membedakannya dengan gagasan pendukung.
  3. Buatlah gagasan pendukung di sekeliling gagasan utama. Gunakan warna, ukuran tulisan, simbol, gambar atau bentuk lainnya yang membedakan antara satu gagasan dengan gagasan lainnya.
  4. Hubungan gagasan utama daengan gagasan-gagasan pendukung dengan menggunakan garis melengkung.
  5. Tambahkanlah kata penghubung pada setiap garis yang menghubungkan gagasan utama dengan gagasan pendukung.

Gambar 2. Contoh mind map 
(sumber: https://amfab.wordpress.com/2008/04/03/mind-mapping-dengan-topik-surat/)

Selasa, 22 Juli 2014

10 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Guru Kelas

Oleh: Rofa Yulia Azhar
Tanggal terbit: 22 Juli 2014

Setelah sebelumnya saya membuat artikel tentang 7 Tips untuk Menjadi Guru Les Privat yang Keren, kali ini saya membuat artikel mengenai 10 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Guru Kelas. Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman saya mengajar di sekolah dan pengalaman saya sebagai seorang siswa. Walaupun saya sekarang seorang karyawan swasta, tetapi kecintaan saya pada dunia pendidikan yang mendorong saya untuk membuat artikel ini.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa secara umum perkembangan karakter dan mental peserta didik relatif mengalami perubahan setiap 5 tahun. Jika pada zaman dahulu mendidik dengan cara kekerasan dianggap masih relevan dan efektif maka untuk zaman sekarang, hal itu sudah dianggap tabu, pamali dan kuno. Apalagi semenjak muncul handphone berkamera dan media sosial. Setiap kekerasan yang dilakukan oleh guru dianggap sebuat perbuatan "terhina" dan "tidak pantas", karena guru adalah seseorang yang harus digugu dan ditiru.

Pada zaman sekarang pendekatan yang bersifat psikologis lebih mudah diterima oleh peserta didik, orang tua siswa dan lingkungan masyarakat. Bukan maksud saya mengatakan pendekatan tersebut lebih cocok karena karakter dan mental siswa semakin lemah. Tapi ini yang harus kita sadari sebagai guru: ada perubahan, ada revolusi mental dan karakter siswa. Semuanya ada kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Lalu apa lebihnya? Siswa zaman sekarang cenderung lebih terbuka dan adaftif terhadap perubahan lingkungan. Akuilah.
Gambar Ilustrasi Guru yang Tak Mau Berubah

1. Jangan Meremehkan RPP

"RPP itu asal saja, itu kan konsep, hanya rencana. Di lapangan kan terserah kita mau mengajar bagaimanapun juga. Hanya membebani saja!", ujar seorang teman
"Kalau membuat proposal untuk suatu kegiatan di organisasi penting nggak?" tanyaku padanya
"Penting"
"Sekali?" tanyaku untuk sedikit meyakinkan
"Sekali. Agar acara kita disetujui oleh pihak terkait, agar ada donatur untuk kegiatan kita" jawab temanku dengan penuh keyakinan
"Lalu apa bedanya RPP dan proposal kegiatan?" tanyaku secara retoris "Kita mengajar dengan RPP saja masih acak-acakan. Apalagi tanpa RPP? RPP itu penting! Minimal menggambarkan bagaimana kesungguhan kita untuk menjadi seorang guru yang baik dan benar. Membuat RPP juga kan itung-itung kita belajar konsep yang akan diajarkan kita kepada siswa, belajar membuat soal evaluasi, dll"

Jika diperhatikan secara seksama, RPP kadang dianggap hal yang tidak penting, sering juga dianggap beban guru. Beban yang seharusnya tidak menjadi beban. Maaf, apalagi jika ditengok keadaan guru senior, umumnya RPP yang dibuat sudah melenceng dari kaidah-kaidah. Mungkin itulah alasan mengapa model atau metode pembelajaran yang dilakukan tidak jauh dari model pembelajaran ceramah saja. Karena RPP tidak pernah di update.

Sekali lagi, RPP itu penting rekan-rekan. RPP itu rencana. Garis batas tujuan kita dalam mengajar. Bukankah seseorang yang merencanakan kesuksesan akan semakin besar kemungkinannya untuk menuai kesuksesan juga?
Gambar Ilustrasi Guru yang Mengajar tanpa RPP yang baik dan benar

2. Jangan Membiarkan Siswa Menyontek
"Menyontek itu lebih keji dari menginjak kitab suci. Menginjak kitab suci artinya menghina wujud fisik kitab suci, tetapi menyontek itu artinya menghina esensi dari kitab suci itu sendiri."


Jika Aristoteles pernah berujar bahwa kebodohan adalah bapaknya kemiskinan dan kejahatan, maka untuk konteks kekinian dapat kita katakan bahwa menyontek adalah ibunya korupsi dan plagiatisme. Mengapa demikian? penelitian yang dilakukan di USA terhadap para narapidana koruptor menyimpulkan bahwa, 100% para narapidana tersebut semasa duduk di bangku sekolah pernah melakukan tindakan menyontek.

Menyedihkan bukan? Itu artinya yang menyontek di bangku sekolah sudah pasti jadi koruptor! Percayalah. Perlu diingat juga bahwa korupsi bukan hanya masalah uang, tapi bisa waktu, jabatan, wewenang, dll.

Ada 3 variabel yang menyebabkan kegiatan menyontek, yaitu orang yang menyontek, orang yang memberi contek, dan guru yang membuka peluang untuk siswa menyontek. Dari ketiga variabel tersebut yang paling salah adalah guru yang memberi peluang untuk menyontek.

Ketika saya menjadi guru, saya sangat idealis sekali. Terutama masalah menyontek. Saya pernah menyontek, pernah juga memberi nyontek. Tapi saya tak ingin membuka peluang siswa saya untuk menyontek, karena saya sudah tahu resiko dan kerugiannya.

Mungkin beberapa guru ada yang mengorbankan keidealismeannya untuk masalah menyontek. Agar mereka disebut "guru baik". Begitulah yang terjadi. Definisi guru baik sudah berubah di mata siswa, menjadi guru yang mengijinkan siswa untuk menyontek.

Pernah suatu ketika, saking saya tidak mengijinkan siswa menyontek saya pernah dimusuhi oleh siswa sekelas. Bayangkan saja, setiap saya melewat di depan kelas mereka, bekas kaki saya langsung di pel lagi. Apakah saya sakit hati? Pasti. Tapi saya siap mati demi idealisme yang saya yakini benar.
Gambar Ilustrasi Menyontek

3. Jangan Membanding-Bandingkan Siswa
Ini adalah kesalahan guru dan bahkan orang tua yang paling sering dilakukan, yaitu mebanding-bandingkan kemampuan siswa. Ini pelanggaran besar dalam dunia pendidikan. Pembunuhan karakter kawan!

Kalau mau membandingkan siswa silakan saja. Tapi tolong bandingkan kemampuan siswa itu sendiri dengan dirinya di masa lampau. Misalnya dulu nilai kimianya 30, sedangkan sekarang dapat 40. Beri pujian. Itu pencapaian, itu yang namanya peningkatan dan hak dia untuk mendapat penghargaan.

Tindakan tidak terpuji jika kita membandingkan siswa kita dengan siswa lain yang lebih hebat. Rumahnya beda, kondisi keuangannya beda, lingkungannya beda, orang tuanya beda. lalu mengapa harus dibanding-bandingkan untuk disamakan?
Gambar Ilustrasi Mahasiswa yang Tertekan karena Dibanding-Bandingkan

4. Jangan Memarahi Siswa di Depan Umum
Anda pernah dimarahi di depan teman-teman anda? Bagaimana rasanya? Sungguh memalukan bukan? Jika anda pernah merasakannya, mengapa sekarang anda lakukan hal yang serupa terhadap anak didik anda?Siswa yang dimarahi di depan umum akan semakin meningkatkan tingkat agresivitas siswa tersebut, semakin tidak menurut dan keinginan untuk membangkang semakin besar.

Niat awalnya harus dipertanyakan: ingin mempermalukan siswa atau memberi nasihat? Orang yang dipermalukan di depan umum jarang sekali menjadi seseorang yang hebat. Mereka akan minder, mendendam dan membangkang.
Gambar Ilustrasi Membandingkan

5. Jangan Menjudge Karakter Siswa

Contoh judge yang sering terjadi:
- Anak itu tak punya bakat
- Memang sudah bodoh dari kecil, susah diajarinya juga
- Kelakuan anak itu menurun dari orang tuanya yang seorang pemabuk dan penjudi

Jika pernah seorang guru berkata demikian, walau meskipun dia seorang guru, maka dia sudah tidak pantas menjadi seorang guru. Mengapa? Ini judge yang semena-mena. Kalau ini sampai terjadi, patut dipertanyakan lagi keimanannya. Bukankah kita percaya bahwa semua orang itu dilahirkan putih, suci dan hanya dibekali potensi?

Malah tugas guru untuk mengembangkan potensi mereka. Mari mencari solusi, jangan hanya bisa menyalahkan kondisi siswa. Percayalah, setiap siswa itu jenius pada bidangnya masing-masing. Jangan memaksa mereka ahli di semua bidang. Malah di masa depan, orang yang profesional di memahami secara mendalam di satu bidang lebih dihargai dibandingkan orang yang menguasai banyak bidang tapi tidak profesional. Bukankah anda juga sebagai guru tidak ahli di semua bidang? Hehe....
Kata-Kata Bijak dari Einstein

6. Jangan Membicarakan Kejelekan orang Lain di Depan Siswa
Materi pembelajaran sudah habis. Sedangkan waktu belajar masih lama. Inilah jebakan yang sering terjadi. Akhirnya si guru curhat, awalnya tentang diri pribadi, lalu pada akhirnya menceritakan kejelekan orang lain di depan kelas.

Kemungkinan lain, dan paling sering, karena guru terlalu dekat dengan siswanya akhirnya guru tersebut terbuka akan segala hal. Termasuk menceritakan kejelekan guru lain yang merupakan teman sejawat. Tahukah anda, bahwa kejelekan orang lain yang sebenarnya anda ceritakan adalah cerminan diri anda sendiri?
Gambar Ilustrasi

7. Jangan Menunjukkan Sifat Sempurna
Lho? Kok enggak boleh jadi manusia sempurna di depan siswa? Anda sebagai guru kan melatih siswa menjadi manusia, bukan Tuhan. Sifat manusia itu tidak sempurna, maka tunjukkanlah ketidaksempurnaan itu sesekali. Guru boleh marah, tapi jangan jadi pemarah. Guru boleh tertawa, tapi jangan menertawakan kesusahan orang lain. Guru boleh kok mengeluh, menangis, curhat, kaget, dll. Tapi ingat, harus disaat yang tepat, sepantasnya dan sesekali.
Gambar Ilutrasi

8. Jangan Melakukan Pembelajaran yang Statis

Setiap hari belajar selalu saja dengan menggunakan model pembelajaran ceramah. Apa siswa enggak bosan? Itu sama saja kamu makan sama tahu setiap hari dan terus menerus, dimanapun tempat makannya pasti membuat bosen. Begitu juga siswa, walaupun materinya ganti-ganti, tapi karena cara menyampaiannya tetap sama ya akhirnya bosen. Kalau sudah bosan maka lama-lama akan muak. Kalau sudah muak akhirnya otak siswa berontak. Selesailah pendidikan.

Lain cerita jika anda adalah guru kreatif. Di tangan guru kreatif mata pelajaran yang tidak menarik saja bisa menjadi sangat menyenangkan untuk dipelajari. Hidup ini sudah membosankan, makanya jangan jadi guru yang membuat bosan.
Gambar Kelas yang Membosankan Membuat Siswa Mengantuk

9. Jangan Memberikan Beban Berlebih
Siswa zaman sekarang sudah mulai sibuk dengan hal-hal yang tidak menjurus. Semuanya terlalu umum. Pulang sekolah siswa harus sibuk dengan bimbingan belajar, les musik, bahkan disibukkan dengan tambahan les privat di rumah. Lalu apa yang anda lakukan? Memberinya pekerjaan rumah (PR) 10-25 soal agar mereka belajar sendiri. Tapi pada faktanya, semua sia-sia.

Saya pada saat pertama kali menjadi guru kelas juga seperti itu. Saya beranggapan waktu di sekolah sangatlah kurang untuk memahami materi. Maka saya sering memberikan PR yang cukup banyak ke siswa, 10-15 soal.

Pada suatu saat, saya datang lebih awal dari biasanya. Karena jam pelajaran saya dimulai pukul 06.30 dan saya sudah sampai di sekolah pukul 06.15, maka saya putuskan masuk ke kelas lebih dulu. Ketika masuk kelas saya sangat kaget karena melihat siswa saya sedang menyontek berjamaah. Awalnya saya sangat marah, lantas saya menghela napas dan berusaha memahami apa yang terjadi.

Jangan-jangan ini semua karena salah saya? PR terlalu banyak sedangkan waktu siswa tidak cukup untuk mengerjakannya, atau mungkin PR nya terlalu susah? Berarti saya gagal membina karakter siswa kalau begini. Akhirnya setelah kejadian itu saya selalu memberikan PR sedikit pada siswa. Hanya 1-3 soal. Pertanyaannya juga gampang sekali. Misalkan: Mengapa layar TV CRT (TV tabung) selalu dipenuhi oleh debu? Sederhana bukan, siswa bebas menjawab tapi memerlukan kreatifitas dalam berpikir.

Tapi sebelumnya saya berkomitmen. Saya bilang saya akan memberi PR sedikit dan mudah asal siswa saya mengerjakan mandiri, dan bagi yang tidak sempat mengerjakan PR saya minta jujur. Walaupun tidak mengerjakan, tapi karena kejujurannya saya berikan nilai 80.

Gambar Ilustrasi Pendidikan dengan Beban Berlebih

10. Jangan Mementingkan Nilai Siswa

Coba sebutkan siapa yang berani menjamin orang yang meraih nilai besar di sekolahnya akan menjadi orang sukses, menjadi orang baik, atau menjadi orang kaya? Apakah ada yang menjaminnya? Bahkan di dalam kitab suci agama manapun tidak ada yang berani menjaminnya. Lalu kenapa anda selalu mementingkan nilai siswa? Takut sama yang namanya standar nilai minimal atau KKM? Nilai siswa bukannya bisa kita atur sedemikian rupa?

Sudahlah, Bapak dan Ibu guru. Orang pintar sudah banyak di negara ini. Sekarang orang yang dibutuhkan di negara ini adalah orang yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan ramah. Fokus saja ke pembentukan karakter siswa. Nilai bagus dapat dicapai dengan belajar semalaman, tapi karakter tidak akan pernah terbentuk dalam waktu semalam. Perlu waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan.
Pendidikan Karakter

Susah betul kan menjadi guru? Mungkin karena alasan itulah di Finlandia hanya mahasiswa terbaiklah yang boleh manjadi guru. Tapi yang jadi masalah bukan apakah kita terbaik atau bukan? Tapi apakah kita punya kemauan agar orang lain jadi yang terbaik. Karena itu adalah tugas utama seorang guru.

Terakhir, "lebih baik tidak menjadi guru sama sekali, daripada menjadi guru tetapi tidak baik dan benar"