Tampilkan postingan dengan label Jurnal Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 April 2014
Pembelajaran Remedial
Oleh: Rofa Yulia Azhar
Tanggal terbit: 27 April 2014
Berikut saya lampirkan makalah yang pernah saya buat mengenai Pembelajaran Remedial pada saat saya kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Makalah saya buat waktu saya semester 3, sehingga mungkin masih acak-acakan dan bisa dianggap kurang layak. Tapi Semoga masih ada manfaat yang dapat diambil. Lampiran juga dapat diunduh secara gratis. Semoga bermanfaat.
Gambar Ilustrasi
Rabu, 20 Juni 2012
Guruku yang Kurindu; Menjadi Guru yang Digugu dan Ditiru
Oleh: Rofa Yulia Azhar
Tanggal terbit: 20 Juni 2012
Catatan: Tulisan ini merupakan gubahan dari karya tulis ilmiah yang pernah penulis buat untuk suatu lomba karya tulis ilmiah [untuk kepentingan publikasi format penulisan telah dirubah]
Update: 6 Mei 2014
Efektivitas dan efisiensi belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :
Di lain pihak, Moh. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Sementara itu di masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent).
Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang psikologis.
Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan sebagai :
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.
Berdasarkan tinjauan teori di atas maka diperlukan suatu pengembangan kepribadian guru yang mampu menjalankan peran-peran di atas dengan sebaik-baiknya.
Memang menjadi pengajar itu mudah. Sangat mudah. KBBI (2008:23) mendefinisikan mengajar sebagai kegiatan memberi pelajaran. Kata mengajar berasal dari kata ”ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau dituruti. Jika makna mengajar hanya demikian, tentu kondisi ini sangat berbahaya. Guru tidak lagi memperhatikan aspek-aspek humanisme para siswanya. Karena hanya bertujuan menyampaikan pelajaran, guru hanya mengejar ketercapaian kurikulum. Jika semua isi kurikulum sudah disampaikan, gurupun beranggapan bahwa tugasnya sudah selesai.
Seorang guru adalah orang yang menempati status yang mulia di daratan bumi, ia meniddik jiwa, hati, akal dan roh manusia. Sedangkan jiwa manusia adalah unsur yang paling mulia pada bagian tubuh manusia dan manusia adalah makhluk yang paling mulia di dunia ini dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Tanggal terbit: 20 Juni 2012
Catatan: Tulisan ini merupakan gubahan dari karya tulis ilmiah yang pernah penulis buat untuk suatu lomba karya tulis ilmiah [untuk kepentingan publikasi format penulisan telah dirubah]
Update: 6 Mei 2014
1. Pendahuluan
Terdapat empat aliran pendidikan yang sudah popular, yaitu nativisme,
empirisme, naturalisme dan konvergensi. Nativisme yang dipelopori Schopenhauer
berpendapat bahwa bayi terlahir sudah dengan pembawaan sifat baik dan buruk.
Empirisme melalui John Locke (1704-1832) menyatakan bahwa pembentukan
kepribadian manusia sangat ditentukan oleh rangsangan dari lingkungan luar.
Naturalisme yang dimunculkan oleh J.J. Rousseau (1712-1778) menyatakan bahwa
semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Dan Konvergensi yang
dipelopori William Stern menyebutkan bahwa keberhasilan pendidikan sangat
tergantung dari pembawaan dan lingkungan.
Lalu siapakah yang benar? Terlepas dari itu semua ada satu tokoh lagi yang bernama Ghazali dengan pemikiran-pemikirannya yang berlandaskan Al-Quran dan Al-Hadist yang sangat fenomenal. Beliau menjelaskan tentang konsep fitrah yang dikenal dengan sebutan al-Nafs al-Rabbâniyyah.. Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci tidak berarti kosong melainkan memiliki potensi. Fitrah merupakan potensi yang terdiri dari lima jenis yaitu potensi berilmu, potensi beramal, potensi berislam, potensi bertakwa dan potensi berihsan. Pandangan beliau dipengaruhi oleh paham tasawuf. Ghazali menekankan teorinya pada konsep kepribadian Muthmainnah. Kepribadian Muthmainah yang mengantarkan manusia pada eksistensi sebenarnya sebagai hamba Allah. Pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung pada pendidikan moral dengan pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada anak didik.
Lalu siapakah yang benar? Terlepas dari itu semua ada satu tokoh lagi yang bernama Ghazali dengan pemikiran-pemikirannya yang berlandaskan Al-Quran dan Al-Hadist yang sangat fenomenal. Beliau menjelaskan tentang konsep fitrah yang dikenal dengan sebutan al-Nafs al-Rabbâniyyah.. Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci tidak berarti kosong melainkan memiliki potensi. Fitrah merupakan potensi yang terdiri dari lima jenis yaitu potensi berilmu, potensi beramal, potensi berislam, potensi bertakwa dan potensi berihsan. Pandangan beliau dipengaruhi oleh paham tasawuf. Ghazali menekankan teorinya pada konsep kepribadian Muthmainnah. Kepribadian Muthmainah yang mengantarkan manusia pada eksistensi sebenarnya sebagai hamba Allah. Pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung pada pendidikan moral dengan pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada anak didik.
2. Landasan Teori
Dalam bahasa Arab istilah yang mengacu kepada pengertian guru, yaitu; al-Alim (jamaknya
ulama) atau al-Mu’allim, yang
berarti orang yang mengetahui dan banyak digunakan para ulama/ahli pendidikan
untuk menunjuk pada hati guru. Selain itu, adalah al-Mudarris (untuk
arti orang yang mengajar atau orang yang memberi pelajaran) dan al-Muaddib (yang
merujuk kepada guru yang secara khusus mengajar di istana) serta al-Ustadz
(untuk menunjuk kepada guru yang mengajar bidang pengetahuan agama
Islam, dan sebutan ini hanya dipakai oleh masyarakat Indonesia dan Malaysia).[1]
Efektivitas dan efisiensi belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :
1. Konservator (pemelihara) sistem nilai yang
merupakan sumber norma kedewasaan;
2. Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu
pengetahuan;
3. Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai
tersebut kepada peserta didik;
4. Transformator (penterjemah) sistem-sistem
nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam
proses interaksi dengan sasaran didik;
5. Organisator (penyelenggara) terciptanya
proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada
pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran
didik, serta Tuhan yang menciptakannya).
Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Abin Syamsuddin
dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan peran guru dalam
proses pembelajaran peserta didik, yang mencakup :
1. Guru
sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan
di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems).;
2. Guru
sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi,
memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar
sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource
person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik &
humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems).
3. Guru
sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa,
menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas
tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan,
baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.
Selanjutnya, dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin
Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher
counsel), di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik
yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa,
dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya
(remedial teaching).
Di lain pihak, Moh. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Sementara itu di masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent).
Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang psikologis.
Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan sebagai :
1. Pengambil
inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;
2. Wakil
masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan
kepentingan masyarakat dalam pendidikan;
3. Seorang
pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya;
4. Penegak
disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan
disiplin;
5. Pelaksana
administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat
berlangsung dengan baik;
6. Pemimpin
generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan
peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan; dan
7. Penterjemah
kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang
guru berperan sebagai :
1. Pekerja
sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan
pelayanan kepada masyarakat;
2. Pelajar
dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus
untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;
3.
Orang
tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta
didik di sekolah;
4.
model
keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara
peserta didik; dan
5. Pemberi
keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa
aman berada dalam didikan gurunya.
Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :
1. Pakar
psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi
pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai
pendidik;
2.
Seniman
dalam hubungan antar manusia (artist in human relations), artinya guru
adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar
manusia, khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan
pendidikan;
3. Pembentuk
kelompok (group builder), yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan
aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan;
4.
Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang
yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik;
dan
5. Petugas
kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru bertanggung jawab
bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.
Sementara itu, Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002)
mengemukan dua peran utama guru dalam pembelajaran yaitu menciptakan
keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating
learning). Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait
langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak
tempat duduk, disiplin peserta didik di kelas, interaksi peserta didik dengan
sesamanya, interaksi peserta didik dengan guru, jam masuk dan keluar untuk
setiap sesi mata pelajaran, pengelolaan sumber belajar, pengelolaan bahan
belajar, prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran, lingkungan
belajar, dan lain-lain.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.
Berdasarkan tinjauan teori di atas maka diperlukan suatu pengembangan kepribadian guru yang mampu menjalankan peran-peran di atas dengan sebaik-baiknya.
3.
Bagaimana Seharusnya Guru Itu?
“Sesungguhnya hasil ilmu itu ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, menghubungkan diri dengan ketinggian malaikat dan berhampiran dengan malaikat tinggi.” (Imam Al-Ghazali)
Saat ini, kebanyakan guru hanya menjadi pengajar, yaitu
mengajarkan pelajaran kepada para siswa. Guru hanya mentransfer atau memindahkan pengetahuan dalam
pikiran dan buku untuk ditiru sehingga dikuasai siswanya. Akibatnya, gurupun
hanya berorientasi untuk menyampaikan materi pelajaran. Tidak lebih dari
itu. Memperhatikan kondisi
demikian, para guru lebih berkeinginan untuk menjadi pengajar daripada
pendidik.
Memang menjadi pengajar itu mudah. Sangat mudah. KBBI (2008:23) mendefinisikan mengajar sebagai kegiatan memberi pelajaran. Kata mengajar berasal dari kata ”ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau dituruti. Jika makna mengajar hanya demikian, tentu kondisi ini sangat berbahaya. Guru tidak lagi memperhatikan aspek-aspek humanisme para siswanya. Karena hanya bertujuan menyampaikan pelajaran, guru hanya mengejar ketercapaian kurikulum. Jika semua isi kurikulum sudah disampaikan, gurupun beranggapan bahwa tugasnya sudah selesai.
Gambar 1. Ilustrasi diskusi yang dilakukan oleh guru
Tugas terberat guru
adalah menjadi pelatih akhlak dan kecerdasan. Akhlak itu melekat pada
diri seseorang. Akhlak tercermin dari perilaku
keseharian. Karena menjadi pelatih, semua perilaku guru merupakan cerminan
penguasaan pelajaran yang dibungkus dengan kesantunan sikap, hati dan
pikirannya. Itulah wujud pikiran cerdas seorang guru. Jika sikap itu dimiliki 1% guru Indonesia, bangsa ini
akan menjadi bangsa maju sebagai pesaing utama bangsa maju dunia.
Seorang guru adalah orang yang menempati status yang mulia di daratan bumi, ia meniddik jiwa, hati, akal dan roh manusia. Sedangkan jiwa manusia adalah unsur yang paling mulia pada bagian tubuh manusia dan manusia adalah makhluk yang paling mulia di dunia ini dibandingkan dengan makhluk lainnya.
4. Sifat-Sifat Guru yang Dirindukan
Berdasarkan peran
guru yang telah diuraikan pada dasar teori, maka guru harus memiliki
sifat-sifat yang dirindukan oleh murid-muridnya sehingga pada akhirnya guru itu
akan digugu dan ditiru. Berikut ini dijelaskan sifat-sifat guru yang dirindu
oleh murid-muridnya:
a. Guru
hendaknya mencintai muridnya bagaikan anaknya sendiri. Pengarahan kasih sayang
kepada murid mengandung makna dan tujuan perbaikan hubungan pergaulan dengan
anak-anak didiknya, dan mendorong mereka untuk mencintai pelajaran, guru, dan
sekolah dengan tanpa berlaku kasar terhadap mereka. Dengan dasar ini maka
hubungan pergaulan antara guru dan murid menjadi baik dan intim yang didasari
atas rasa kasih sayang dan cinta serta kehalusan budi.
b. Guru hendaknya
bekerja jangan mencari bayaran dari pekerjaan mengajarkan dengan alasan bahwa
pekerjaan mengajar itu lebih tinggi harganya dari pada harta benda, cukuplah
kiranya guru mendapatkan kebaikan (fathilah) dan pengakuan tentang kemampuannya
menunjukkan orang kepada jalan kebenaran dan hak, kebaikan dan ilmu
pengetahuan, dan yang lebih utama lagi ialah guru dengan menunjukkan jalan yang
hak kepada orang lain.
c. Guru hendaknya
selalu menasehati muridnya agar menuntut ilmu yang bermanfaat dan memberikan
nasihat-nasihat lainnya yang bersifat pribadi dan mendidik.
d. Seorang
guru idola (taladan) yang baik dan contoh yang utama yang harus ditiru oleh
anak-anak (mereka menyerap kebiasaan yang baik yang dikembangkan oleh seorang
guru idola). Mereka senang mencontoh sifat-sifat dan meniru segala
tindak-tanduk guru yang diidolakan. Oleh sebab itu seorang guru wajib berjiwa
lembut yang penuh dengan tasammuh (lapang dada) penuh keutamaan, dan terpuji.
e. Memperhatikan
bakat-kemampuan murid tingkat perkembangan akal dan pertumbuhan jasmaniahnya
dan guru harus memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak (murid).
f. Faktanya,
guru yang humoris lebih disukai daripada guru yang terkesan serius. Tapi dampak
dari kehumorisan yang berlebihan akan membuat seorang guru kehilangan
kewibawaan. Sebaiknya seorang guru tetap serius tapi terkesan ramah. Atau
humoris yang tidak berlebihan.
g. Guru
hendaknya mampu mengamalkan ilmunya, agar ucapannya tidak mendustai
perbuatannya. Guru idola adalah guru yang karena ucapan-ucapan yang sesuai
dengan prilakunya. Jika guru berpaling dari ucapannya maka akan menjadi sumber
kerendahan.
h. Guru hendaknya
menjadi contoh teladan yang baik bagi murid-muridnya. Jika kita amati kenyataan
masa kini bahwa sistem pendidikan tidak akan mengalami kerusakan
disekolah-sekolah kita, kecuali jika para guru tidak melakukan apa yang mereka
katakan, sehingga murid-muridnya tidak mendapatkan seseorang guru pun di antara
mereka tokoh teladan dan ikutan baik yang diteladani sebagai idola mereka.
Dalam kaitan ini firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat yang tegas
menyatakan sebagai berikut :
“Apakah
kamu memerintah manusia dngan perbuatan baik sedang kamu lupa terhadap dirimu
sendiri.” (Al-Baqarah, 44).
Disamping
itu mereka melupakan arti syair yang mengatakan :
“Janganlah
engkau melarang orang lain berbuat akhlak jelek sedangkan kamu sendiri
melakukannya.”
i. Mempelajari
hidup psikologis murid-muridnya agar keragu-raguan antara guru dan murid-murid
lenyap, dan mereka dapat bergaul akrab, serta menghilangkan gangguan-gangguan
yang menghalangi hubungan mereka dengan murid-muridnya.
j. Guru
hendaknya selalu berpenampilan rapi, sopan dan santun suasai dengan tuntutan
agama dan norma yang berlaku.
k. Guru
hendaknya tidak melupakan janji yang telah diucapkan.
l. Guru
hendaknya selalu berbuat adil dan memperlakukan sama rata semua siswanya.
5. Persyaratan
kepribadian pendidik
a. Sabar menerima masalah masalah-masalah yang
ditanyakan murid dan harus diterima baik.
b. Berani untuk memuji dan menghukum demi
kebaikan siswanya
c. Senantiasa bersifat kasih dan tidak pilih
kasih
d. Jika duduk harus sopan dan tunduk, tidak
riya/ pamer.
e. Tidak takabur, kecuali terhadap orang yang
alim, dengan maksud mencegah tindakannya.
f. Bersikap tawadhu’ dalam pertemuan-pertemuan
g. Sikap dan pembicaraannya tidak main-main
h. Menanamkan sifat bersahabat di dalam hatinya
terhadap semua murid-muridnya
i. Menyantuni
serta tidak membentak-bentak orang-orang bodoh
j. Membimbing
dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya
k. Berani berkata : saya tidak tahu, terhadap
masalah yang tidak dimengerti. Guru boleh tidak tahu tapi tidak boleh berkata
bohong.
3.1 Simpulan
Guru yang
dirindu adalah guru yang penuh cinta kasih terhadap siswanya, sesuainya ucapan
dengan tindakan dan mampu menjadi suri tauladan baik itu dalam kehidupan
pribadi maupun kehidupan di masyarakat. Guru bisa mendapatkan kewibawaan
melalui pembawaan yang serius tapi tetap ramah dan murah senyum dan harus
menjauhi dari kesan galak atau kejam sehingga murid menggugu karena takut. Jika
seorang guru telah menjadi seorang guru yang dirindukan oleh siswanya, insya
Allah dia pasti akan di gugu dan ditiru.
Daftar Pustaka
Al-Jumbulati, Ali dan Futuh At-Tuwaanisi, Abdul. 1994. Perbandingan
Pendidikan Islam. Jakarta:
Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 1980.
Pengelolaan
Kelas dan Siswa. Jakarta : Rajawali.
Arikunto, Suharsimi. 1993.Manajemen
Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.
Bahri Djamarah,
Syaiful dan Zain, Aswan. 1997. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Bahri Djamarah, Syaiful. 2000.
Guru
dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta.
Hasan Sulaiman, Fathiyah. Aliran-Aliran
Dalam Pendidikan (Studi Tentang Aliran Pendidikan Menurut Al-Ghazali).
Nata, Abuddin.2001. Perspektif
Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soetjipto, Raflis Kosasi. 1999. Profesi
Keguruan. Jakart: Rineka Cipta.
Tamrin¸ Dahlan. 1988. Al-Ghazali
dan Pemikiran Pendidikannya. Malang.
Zainuddin. 1990. Seluk-Beluk Pendidikan Dari Al-Ghazali. Jakarta: Bumi Aksara.
Selasa, 19 Juni 2012
Penelitian Kelas
Oleh: H. E. T. Ruseffendi
Tanggal terbit: 17 Juni 2012
Penerbit: EDUCARE: Jurnal pendidikan dan budaya [Bisa diakses di http://educare.e-fkipunla.net]
Update: 6 Mei 2014 [Oleh Rofa Yulia Azhar]
Update: 6 Mei 2014 [Oleh Rofa Yulia Azhar]
Apakah penelitian kelas itu? Penelitian kelas adalah penelitian pembelajaran di dalam kelas untuk perbaikan. Penelitian kelas terjemahan dari classroom reseach. Kata lainnya adalah penelitian praktis (practical inquiry). Pada umumnya, penelitian kelas dilakukan oleh guru beserta pengamat (observer); mungkin temannya. Penelitian yang dilakukan mungkin mengenai teknik bertanya, pendekatan pengejaran, distribusi pemberian kesempatan untuk ditanyai atau bertanya, tenggang waktu berpikir dalam menjawab pertanyaan, dan sebagainya yang pada garis besarnya dalam pembelajaran bidang studi. Mengingat hal itu, yang terlibat dalam penelitian kelas (dosen, pembimbing, pengamat, dll.) semestinya orang yang keahliannya dalam pembelajaran bidang studi. Sebagai guru, ia dapat melakukan sendiri penelitian kelas. Ia bisa menganalisis prilakunya selama ia mengajar. Menganalisis kegiatan belajar mengajarnya, melalui rekaman pandang dengar yang dipasang/beroperasi secara otomatis atau dibuat oleh pengamat. Mungkin juga analisis pembelajarannya itu tdak melalui rekaman, tetapi melalui pengamat dan guru itu sendiri. Akan tetapi, sesuatu kebaikan atau kekeliruan yang hanya bisa diketahui oleh pengamat (tidak oleh guru juga), mendiskusikannya mungkin akan menimbulkan permasalahan. Jadi, dalam penelitian kelas semacam itu orang yang akan merekam pandang dengagar dan yang akan mendiskusikan hasil perkamannya dengan guru sangatlah diperlukan. Mengingat hal itu, antara pengamat dan guru, pertama harus ada kesepakatan dulu mengenai apa-apa yang dibicarakan (demi peningkatan). Kedua, suasana pengamatan itu supaya menyenangkan (rileks), tidak tegang, guru tidak merasa dinilai, saling mempercayai, dan yang serupa. Ketiga, pengamat supaya lebih banyak memberikan masukan demi perbaikan pembelajaran; bukan melontarkan kritikan-kritikan berdasarkan judgment. Ketiga, kalau diperlukan, ada kesepakatan tentang apa-apa yang akan diamati pada perekaman berikutnya. Tahap penelitian kelas itu ada tiga fase. Pertama, fase persiapan. Dalam fase ini, guru membuat persiapan pengajaran sekaligus membuat kesepakatan dengan pengamatan mengenai apa-apa yang akan diungkapkan dalam penelitian itu. Fase kedua, guru mengajar mengenai kejadian selama mengajar mengenai apa-apa yang disepakati sebelumnya, sebaiknya rekamannya dibuat, tidak hanya dicatat. Fase ketiga, mendiskusikan hasil observasi mengenai kejadiankejadian selama menagjar dan berkenaan dengan apa yang telah disepakati akan diungkapkan di fase persiapan. Dalam fase ketiga ini mungkin ditemukan hal-hal yang belum baik sehibgga diperlukan perlakuan ulang. Bila demikian dapat dilakukan penelitian putar an kedua. Dalam penelitian kelas, subjek yang menjadi objek penelitian adalah siswa di kelas tertentu. Jadi, dalam penelitian kelas itu tidak terjadi/dilakukan prosedur penelitian kelas itu tidak terjadi/dilakukan prosedur penelitian sebagaimana mestinya, seperti: menentukan populasi, memilih sampel, merumuskan hipotesis, menggunakan instrumen yang baik, memilih ukuran statistik yang tepat, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan secara umum. Karena itu, generalisasi dalam penelitian kelas tidak ada. Validitas internalnya pun mungkin tidak terkontrol.
Mengingat hal itu, oleh para ahli peneliti, penelitian kelas itu sering dianggap bukan penelitian yang sebenarnya. Walaupun begitu, untuk kepentingan peningkatan kemampuan guru, peningkatan penguasaan siswa, dan pelurusan-pelurusan tertentu dalam pembelajaran sangat berguna. Kadang-kadang lebih berguna atau lebih penting daripada penelitian yang secara prosedural telah mengikuti langkah-langkah formal penelitian. Sebab: 1. Permasalahan yang dipecahkan dalam penelitian kelas adalah permasalahan yang aktual, misalnya memecahkan persoalan kekurangmampuan guru dalam menerapkan metode penemuan. 2. Hasil penelitian kelas dapat mendukung langsung pembelajaran yang sedang berjalan. 3. Penelitian kelas dapat digunakan guru atau guru-guru untuk saling membantu dalam meningkatkan profesinya. 4. Peneliti untuk penelitian kelas tidak memerlukan pengetahuan dan kemampuan penelitian yang luas dan dalam sebagaimana biasanya dimiliki oleh seorang peneliti umumnya. 5. Penelitian kelas yang dilakukan dengan sendirinya tidak akan mengganggu kelancaran pelajaran sebab, penelitian kelas dan pembelajarannya itu berjalan secara simultan. 6. Waktu, tenaga, dan biaya yang dipergunakan untuk meneliti dalam penelitian kelas oleh guru akan lebih efisien. 7. Bagi mahasiswa, guru, penelitian kelasnya dapat diangkat menjadi penelitian bagi skripsi yang bersangkutan. Marilah kita lihat beberapa contoh permasalahan yang dapat dipecahkan melalui penelitian kelas. Pertama adalah toleransi guru terhadap jawaban atau pertanyaan yang sepele. Kedua adalah keseimbangan dalam menggunakan pertanyaan tipe tertutup dan tipe terbuka. Ketiga adalah keruntunan dalam menyelenggarakan pembelajaran. Keempat adalah ketepatan guru menggunakan berbagai contoh dan non contoh sehingga konsep yang sedang ditanamkan kepada siswa itu menjadi lebih jelas. Keenam adalah strategi dan taktik pengajaran sehingga tahap berpikir geometri siswa yang tadinya belum sampai kepada tahap pengurutan menjadi ada di tahap pengurutan. Ketujuh adalah strategi dan taktik pengajaran bagi siswa yang hukum kekekalan bilangannya belum dimiliki menjadi dimiliki. Kedelapan adalah strategi dan taktik agar siswa memiliki jiwa eksploratif. Kesembilan adalah mengungkap pengetahuan dan kemampuan siswa dalam menunjukan kebenaran sesuatu melalui bukti. Kesepuluh adalah rendahnya prestasi
belajar siswa SMU dalam matematika khususnya dalam geometri. Seperti sudah dikemukakan, dalam penelitian kelas itu tidak perlu adanya studi literatur yang banyak dan dalam, penentuan populasi, pemilihan sampel, dan lain-lain.
Walaupun begitu, permasalahannya harus ada dan cara pemecahan yang akan dilakukan harus jelas. Ambil contoh permasalahan pertama, yaitu toleransi guru terhadap pertanyaan dan jawaban siswa yang sepele. Andaikan seorang guru belum mengetahui, apakah ia selalu tolerans terhadap pertanyaan dan jawaban siswa sepele. Selain itu juga ingin mengetahui, seandainya ia sudah melakukan toleransi, apakah ketoleransinya itu sudah cukup baik sehingga dapat menimbulkan kepuasan pada diri siswa yang bersangkutan. Tidak memberi toleransi, kepada pengajuan pertanyaan yang sepele misalnya, kadarnya bisa macam-macam. Kadar yang paling tidak toleransi bila guru memberi komentar misalnya sebagai berikut: ;Yang kamu tanyakan itu semestinya sudah kamu kuasai. Itu pelajaran di SMP. Waktu saya sia-sia saja dipergunakan untuk menjawab pertanyaan itu;. Sedangkan yang paling ringan, misalnya penampakan ketidaksukaan guru tersebut yang tampak dari roman mukanya. Mengingat pada permasalahan itu, untuk berdiskusi, perlu bukti bahwa guru itu mengerutkan muka atau menghardik, maka pada saat guru itu mengerutkan muka atau menghardik perlu dilakukan perkaman terhadap guru. Begitu pula, sikap anak sebagai reaksi terhadap perbuatan guru perlu dicatat. Dalam hal itu tentunya akan lebih baik bila perekaman ada dua; sebuah merekan guru, sebuah lagi untuk merekan siswa. Mungkin anda akan membantah bahwa menghardik siswa, mengerutkan muka bila tidak setuju, dan yang serupa itu bagi guru adalah perbuatan wajar. Jadi, tidak perlu diperbaiki, karena sudah baik. Bila guru yang melakukan penelitian kelas mengenai masalah ini berpendapat seperti anda, pengamat dan guru tersebut perlu mengadakan kesan ditoleransi. Bila tidak, pada fase tiga saat mereka diskusi akan terjadi perdebatan. Tatapi tentu saja dalam mengatakan bahwa sesuatu itu akan mengganggu suasana belajar siswa atau tidak, harus yang berlaku umum dan atau yang berdasarkan hasil penelitian. Maksudanya ialah, penyepelean guru yang akan dirasakan atau tidak oleh
siswa itu harus yang berlaku untuk manusia pada umumnya atau berdasarkan hasil penelitian; bukan yang menurut selera perorangan. Kita lanjutkan dengan contoh kedua yaitu keseimbangan dalam menggunakan pertanyaan tertutup dan terbuka. Sebagai guru yang akan melakukan penelitian kelas ini, mungkin pertama mempunyai asumsi atau berdasarkan kepada hasil penelitian percaya bahwa tipe pertanyaan pada dirinya: ;Apakah dalam mengajar itu saya sudah berimbang dalam menggunakan kedua tipe pertanyaan itu?. Bagaimana itu bisa terungkap? Bagaimana mengevaluasinya? Bila belum berimbang, usaha-usaha apa yang harus dilakukan agar menjadi lebih berimbang? Andaikan ia berpendapat bahwa dalam mengungkap permasalahan itu, ia memerlukan teman yang mengetahui banyak atau ahli dalam permasalahan itu di bidang studinya. (Catatan: dibagian depan sudah dikemukakan bahwa yang terlibat dalam penelitian kelas itu harus yang ahli dalam bidangnya. Dalam contoh ini, yang bukan ahlinya tidak akan mengerti pertanyaan terbuka dan tertutup pada bidang studinya; matematika, misalnya). Ia memilih beberapa teman. Sebagian ditugaskan untuk merekam dan diskusi, dan paling sedikit seorang lagi diperlukan sewaktu diskusi. Kemudian, pada fase pertamanya ia membuat persiapan mengajar. Dengan temannya yang akan menjadi petugas merekam, ia mendiskusikan apa-apa yang akan diungkap, yaitu penggunaan pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka. Ia harus yakin betul bahwa petugas merekam itu mengetahui betul pertanyaan terbuka dalam bidang studi tersebut. Pada fase kedua, ia mengajar dan apa-apa yang diperlukan diungkapkan, direkam oleh petugas merekam. Pada fase terakhir ia mendiskusikan penggunaan kedua tipe pertanyaan itu dalam pelajaran yang baru saja direkam dengan ahli yang diundang khusus untuk itu dan dengan petugas merekam; apakah sudah benar dan sudah berimbang. Dalam diskusi itu juga mungkin perlu dilihat sikap siswa terutama dalam merespon pertanyaan tipe terbuka. Dan terakhir mendiskusikan penelitian kelas putaran berikutnya bila saja, dalam penelitian siklus (putaran) pertama hasilnya belum memuaskan.
Kita lanjutkan dengan contoh berikutnya sebagai contoh ketiga, yaitu mengenai pengetahuan dan kemampuan siswa dalam menunjukan kebenaran sesuatu melalui bukti. Andaikan guru yang akan melakukan penelitian kelas itu membaca suatu artikel bahwa anak-anak Indonesia dalam menyelesaikan soal-soal di Olimpiade Matematika Internasional itu tidak tuntas. Maksudnya ialah, bila misalnya diminta untuk mencari jumlah bilangan ganjil (asli) pertama, mereka hanya samapai kepada menunjukan rumus yaitu n2. Tidak dilanjutkan kepada membuktikan kebenaran rumus itu. Itu adalah masalah dan kalau dibiarkan terus akan merugikan.Jadi perlu dipecahkan melalui penelitian kelas misalnya sehingga kekeliruan itu tidak terjadi lagi. Dalam penelitian kelas seperti ini apakah diperlukan pengamat?. Apakah diperlukan rekaman pandang dengarnya? Saya kira tidak perlu. Sebelum kita mengadakan pengajaran penyembuhan (pengajaran remedial), kita perlu mengetahui apakah betul siswa itu tidak menyelesaikan soal seperti di atas secara tuntas? Kemudian, apakah ketidak tuntasannya itu karena menganggap cara mereka itu sudah benar, karena ketidakmampuannya, atau karena ketidaktahuannya? Setelah mengetahui permasalahannya (ke-1, 2, 3, dan 4), guru melangkah ke fase pertama yaitu membiat persiapan; apa yang akan diungkap, bagaimana mengungkapkannya, apa yang akan disembuhkan/diluruskan, dan bagaimana meluruskannya. Sebelum guru mengungkapkan apa yang akan diungkap, ia melihat teori belajar berkenaan dengan bukti. Bahwa menurut Elliott (1967) hanya 5% dari siswa SMU nya dapat memahami geometri aksiomatik (dalam Ruseffendi, 1990) dimana topik-topik buktikan itu ada. Jadi, siswa yang menjadi objek penelitian semestinya siswa-siswa pandai. Kembali kepada apa yang akan diungkap. Yang akan diungkap adalah pengetahuan dan kemampuan siswa (pandai) mengenai masalah bukti membuktikan. Untuk dapat mengungkapkannya, guru dapat menyediakan beberapa soal yang kebenarannya harus dilakukan melalui bukti. Dalam soal itu perlu disajikan dua penyelesaian soal yang satu secara induktif (tidak tuntas) yang satu lagi secara deduktif (sampai tuntas). Pertanyaan misalnya, mana diantara kedua penyelesaian soal itu yang benar. Setelah itu, siswa diminta untuk menyelesaikan soal-soal pembuktian. Selanjutnya untuk dapat melihat mana yang harus diluruskan, kita perlu tabel seperti tabel berikut ini. Jawaban Siswa Pemilihan Cara Yang Benar Menyelesaikan Soal Secara Deduktif Pelurusan Melalui Pemberian Pelajaran Induktif Tidak Dapat Baru (1) Deduktif Mungkin Tidak Dapat Remedial (2) Dapat Tidak Perlu (3) Bila menurut siswa cara penyelesaian yang benar itu cara induktif, tentunya ia tidak akan dapat menyelesaikan soal secara deduktif. Mengingat hal itu ia perlu diberi pelajaran baru (1). Bila ia memilih cara deduktif tetapi tidak dapat menyelesaikan secara deduktif, ia harus diberi pelajaran remedial topik itu(2). Sedangkan bagi yang memilih cara deduktif dan bisa menyelesaikan secara soal secara deduktif, ini tentunya tidak jadi masalah; dugaan kita keliru (3). Untuk keadaan (1) dan (2) tentunya kita harus melihat keberhasilan belajar siswa melalui evaluasi. Kita lihat sekarang contoh terakhir, yaitu Pembelajaran Diagnostik Geometri. Kita mengetahui bahwa NEM siswa SMU dalam matematika itu rendah. Kemudian kita mengetahui dari pengalaman bahwa masih banyak siswa memahami konsep keliru, lemah dalam tilikan ruang, tidak tuntas menyesaikan soal, dan geometri formalnya lemah. Selain itu, Thurstone (dalam Ruseffendi, 1991) mengatakan bahwa tingginya tilikan ruang merupakan salah satu ciri pintarnya seseorang. Hoffer (dalam Ruseffendi, 1990) mengatakan bahwa pelajaran geometri itu berguna untuk menyeimbangkan otak bagian kiri dan otak bagian kanan. Jadi rendahnya prestasinya belajar siswa dalam geometri itu adalah masalah. Andaikan kita merencanakan penelitian kelas yaitu penelitian pengajaran diagnostik dalam geometri di SMU. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah pendekatan: induktif, deduktif, informal, formal, parsial, holistik, teori, realistik, terpadu, dan atau tematik. Dan dari studi literatur kita mengetahui bahwa menurut Van Hiele tingkat pemahaman siswa dalam geometri
dari yang paling rendah ke yang paling tinggi itu adalah pengenalan, analisa, pengurutan, deduksi, dan akurasi (dalam Ruseffendi, 1991).
Andaikan pendekatan yang dipilih adalah formal, deduktif, holistik, dan realistik. Pendekatan formal dan deduktif diambil karena diambil karena siswa SMU itu semestinya sudah berfikir formal. Pendekatan holistik diambil karena bila pendekatannya itu persial, tilikan ruang siswa bisa menghilang (Freudenthal dalam Ruseffendi, 1990). Dan pendekatannya adalah pendekatan realistik karena pendekatan relistik akan lebih bisa dipahami dan lebih menarik daripada pendekatan teoritis. Kemudian tahap pemahaman siswa yang akan dikaji hanya empat buah tahap yang pertama sebab tahap yang terakhir ada di luar jangkauan siswa SMU (Driscoll dalam Ruseffendi, 1990). Penelitian kelas yang akan dilakukan adalah penelitian menganai pengajaran diagnostik. Karena itu, penelitian harus mendiaognosis dulu kesalahan-kesalahan siswa, kelemahan-kelemahan siswa, kebiasaan siswa, minat siswa, dan sebagainya baik secara kelompok maupun perorangan. Andaikan ditemukan bahwa siswa sering mengacau bentuk geometri dengan bendanya, siswa kesukaran menggambar sesuatu dalam ruang, dan kurang bisa menyelesaikan soal secara deduktif. Berdasarkan kepada informasi itu, peneliti membuat persiapan mengajar topik tertentu, misalnya bola (arti, luas, dan sisi). Begitu pula pada fase kedua yaitu fase memberikan pelajaran, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya dari siswa itu harus diperhatikan; juga minat dan kepuasan siswa. Evalusi, terutama bila kurang atau tidak berhasil harus dibahas. Waktu itu juga perlu diputuskan apakah pengajaran putaran kedua akan diadakan atau tidak. Contoh penelitian terakhir itu, walaupun nampaknya seperti penelitian pada umumnya, adalah penelitian kelas sebab, populasi dan sampelnya tidak dibicarakan; menggunakan subjek seadanya. Mungkin saja ada hipotesis, tetapi keberadaan bukan untuk diuji. Bagian terakhir dari penelitian kelas ini, yang akan dibahas adalah perbedaannya dengan penelitian mendesak/tindakan (action research). Mari kita bahas. Sebab, kalau tidak, bisa kacau. Kita lihat definisi penelitian tindakan dalam pendidikan. Dari uraian itu kita bisa melihat bahwa dilakukan penelitian tindakan itu untuk perbaikan sesuatu: pengembangan kurikulum, pengembangan keahlian, program perbaikan, dan lain-lain. Dalam penelitian kelas pun ada kegiatan perbaikan, yaitu pada bagian kedua (bagian pertamanya adalah pengajaran). Perbedaannya adalah pada penelitian kelas apa-apa yang diperbaiki itu mengenai pengajaran sehari-hari di dalam kelas.
Gambar Ilustrasi
DAFTAR PUSTAKA
Ruseffendi, E.T. 1991. Penelitian Pendidikan dan Hasil Belajar Siswa Khusunya dalam Pengajaran Matematika. Bandung: Draft (Diktat).
Ruseffendi, E.T. 1990. Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini Untuk Guru dan PGSD- D2. (Seri Keenam).Bandung: Tarsito.
Hokin, D. 1992. A Teacher; Guide to Classroom Reseach (Edisi Kedua). Philadelphia: Open University Press.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



